SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 007


__ADS_3

Sebuah koper berisi setumpuk uang ratusan juta diletakkan Christ di atas meja. Dia juga mengeluarkan surat perjanjian untuk mengambil alih lahan sawit milik Bagas.


“Aku tak akan berlama-lama lagi disini. Kau hanya perlu menandatanganinya, mendapatkan uang itu, lalu aku akan segera pergi dari tempat ini.”


Bos Acong mendengus. Dia membaca isi perjanjian surat itu dan malah merobeknya. SREK!!!!  Melemparnya kembali ke wajah Christ


“Dasar, Bajingan!” Bram berdiri dari tempat duduknya dan akan menyerang Bos Acong.


Beberapa kacung Bos Acong menodongkan sajam ke leher Bram.


Dan begitulah memang sifat dari Bram. Dia selalu gegabah dalam melakukan sesuatu. Tidak seperti Christ yang tenang dalam menghadapi sesuatu.


Bahkan Bagas pun mempercayakan penuh apa yang akan Christ lakukan daripada semua orang kepercayaannya yang bertindak gegabah.


“Tenanglah, Bang. Duduklah kembali.” Christ menatap Bram.


“Apa kau pikir aku akan tertarik dengan uang haram yang didapatkan Bosmu itu? Bahkan lahan sawit yang kupunya akan menghasilkan sepuluh kali lipat dari uang yang kau bawa.”


Christ tersenyum kecil. “Aku melakukan ini agar tidak ada pertumpahan darah di antara kau dan pamanku sendiri, dan inilah satu-satunya cara untuk itu.

__ADS_1


Jika kau tak setuju dengan ini, aku yakin paman dan semua anak buahnya akan segera menyerangmu.”


“Hahahahaha. Dasar, Tikus kecil. Tahu apa kau soal dunia hitam? Apa kau sedang mengancamku sekarang?”


“Tentu tidak. Aku tak sedang mengancam siapapun. Aku hanya memberi pilihan yang tak bisa kau tolak.”


“Ah, sudahlah. Terserah kau saja. Sampai kiamat pun aku tak akan menandatangani surat itu.” Bos Acong tak memperdulikan saran dari Christ.


“Lebih baik, kau segera pergi dari sini. Aku sudah muak melihat kalian berdua.”


“Baiklah. Kau akan menyesal tak menerima tawaranku.” Christ kembali menutup koper berisi uang, lalu beranjak pergi.


Sama sekali bagi Christ tak merasakan emosi dengan perkataan Acong. Dia hanya tersenyum kecil dan melangkah pergi dari depan teras rumah.


“Kenapa kau pergi begitu saja, Chris? Kita bahkan belum dapat apa-apa darinya. Aku yakin Bos akan marah besar,” ucap Bram.


“Kau tenang saja. Bang. Aku sudah menyiapkan rencana lain.” Christ menyeringai lebar.


Tepat Christ dan Bram berada di depan pintu gerbang, dua buah pesawat tempur melintas tepat di atas rumah Bos Acong. Kedua pesawat itu terbang setinggi 500 kaki memutar di atas lahan sawit dan rumah Bos Acong.

__ADS_1


Salah satu pesawat mengguyur lahan sawit milik Bos Acong, dan pesawat lainnya menyirami rumah Bos Acong secara menyeluruh.


“Apa itu?” tanya Bram melihat dua pesawat yang melintas.


“Tak apa. Hanya pesta kecil.” Christ tersenyum. “Ayo kita pergi.” Christ membuka pintu mobil, lalu memasukinya, disusul dengan Bram yang masih penasaran.


“Jalan, Pak!”


“Baik, Tuan.” Si Sopi langsung menjalankan mobil meninggalkan gerbang.


Baru lima meter dari gerbang itu, Christ membuka jendela.


TING Sebuah korek api dari besi dinyalakannya dan melemparkan itu ke luar jendela.


WHUSSS!!!!


Api menyambar dengan cepat. Kedua pesawat tadi adalah rencana lain dari Christ. Pesawat itu ternyata menyiramkan bensin secara menyeluruh ke lahan milik Bos Acong dan juga rumahnya.


Api merambat dengan cepat. Pohon-pohon sawit itu mulai terbakar merata, bahkan api itu sudah mulai menyambar pintu gerbang, dan mungkin sebentar lagi akan melahap habis rumah Bos Acong.

__ADS_1


“Wah, kau sungguh gila, Christ. Aku tak berpikir kau akan melakukan ini,” seru Bram.


__ADS_2