
Keesokan harinya di malam hari. Tiga mobil sedan terparkir rapi di depan gedung KING LAWYERS. Sepuluh orang pria bertubuh kekar, berpakaian rapi menggunakan jas. Berdiri dengan sigap di setiap sudut lantai satu. Tak satupun luput dari pandangan mereka dari situasi sekitar.
Mereka adalah tukang pukul Bagas. Malam itu, Bagas mendatangi firma hukum milik Christ untuk sekedar menanyakan kabar dan kemajuan yang terjadi.
Dari kejauhan, berjalanlah Yuli dari rumahnya menuju ke firma hukum milik Christ. Dia celingukan melihat beberapa pria bertubuh kekar yang menjaga sekitar gedung itu.
Beberapa tukang tukul Bagas juga melihat Yuli, tapi, dia membiarkannya saat Yuli menaiki tangga dan menuju lantai 3.
Setibanya di lantai 3, Yuli melihat Christ yang sedang berbincang dengan Bagas di ruang utama. Sejenak dia berdiri di depan pintu di balik dinding dan mendengarkan percakapan diantara mereka.
Ternyata Christ sedang membicarakan Lusi, Miko, dan semua antek-anteknya.
“Siapa pria itu? Kenapa dia membicarakan Hakim Lusi?” gumam Yuli dalam hati.
Dia tetap bersembunyi dan terus mendengarkan percakapan yang berlangsung.
“Kurasa Lusi ingin menjadikan Miko sebagai walikota Bekasi,” ucap Christ.
__ADS_1
“Astaga, kenapa preman kampung seperti dia mencalonkan diri sebagai walikota?” Bagas menghisap rokok cerutu alami di tangannya. Dia heran dengan apa yang dikatakan Christ barusan.
“Apa kau tak tahu, Paman. Tentu saja Lusi ingin menjadikan Miko sebagai bonekanya. Miko selalu patuh dan taat dengan semua ucapan yang keluar dari mulut Lusi.
Dia juga bisa sampai di titik sekarang ini karena bantuan Lusi. Pikirkanlah, tak ada ceritanya seorang preman yang tiba-tiba menjadi pengusaha nomor satu di kota ini, jika bukan bantuan dari Lusi,” jelas Christ.
“Astaga, menurutmu itu bakal terjadi?”
“Ya, tentu saja. Selama Lusi masih ada, tak ada yang tak mungkin. Semuanya bisa terjadi jika dia berkeliaran bebas,” lanjut Christ.
Yuli pun membuka pintu dan masuk ke kantor. Dia membungkuk pada Bagas dan berjalan memasuki ruangan perlahan. Percakapan di antara mereka pun terhenti saat Yuli datang.
“Hati-hati di jalan.” Christ ikut berdiri
“Ya, tentu.” Bagas berdiri di depan Yuli. Mengeluarkan kartu namanya, memberikannya pada Yuli. “Christ banyak cerita tentangmu padaku, Nak.”
Yuli tersenyum kecil menerima kartu nama itu.
__ADS_1
“Sampai ketemu lagi.”
“Baik, Tuan.” Yuli membungkuk, lalu Bagas pun bergegas pergi.
Yuli menuju ke meja kerjanya sambil melihat kartu nama milik Bagas. “CEO GYMNASIUM? Kenapa seorang CEO GYMNASIUM di Jakarta datang kemari?”
Gymnasium adalah salah satu usaha pusat kebugaran milik bagas yang berada di Jakarta. Dia selalu memberikan kartu nama dengan identitas seorang CEO bagi tiap orang yang tak tahu, siapa Bagas sebenarnya.
“Nanti kau akan tahu sendiri, Yul,” jawab Christ.
“Apa hubunganmu dengannya, sampai kalian berdua membicarakan tentang Hakim Lusi?” tanya Yuli.
Christ kembali duduk ke sofa. Tak menjawab apapun.
“Jangan bilang kau juga mencurigai Hakim Lusi? Aku bahkan ingin tahu apa yang akan kau katakan selanjutnya padaku. Aku juga ingin tahu bagaimana kisah masa lalumu.” Yuli tersenyum lebar pada Christ.
Christ masih saja diam dan membalas senyuman terpaksa pada Yuli. Dia masih tak tahu bagaimana menjelaskan semuanya pada Yuli.
__ADS_1
“Akan tetapi, kau tidak mencurigai sembarang orang, bukan, Pak Pengacara?” Yuli terus memberikan senyuman manisnya pada Christ. Dia tak ingin Christ berburuk sangka pada Lusi yang memang sangat dekat dengannya.
“Tentu tidak. Aku hanya mencurigai seseorang berdasarkan fakta yang ada.” Christ menyeringai lebar.