SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 034


__ADS_3

Semenjak Yuli duduk di bangku kuliah, dia selalu melihat Lusi sebagai seseorang yang bisa dijadikan panutan olehnya.


Beberapa berkas dan dokumen penting bertumpuk rapi di atas meja kerja. Semua dokumen itu berisi tentang kasus yang akan dimuat dalam pengadilan mendatang.


“Rupanya kau sudah datang, Yuli.”


Yuli berdiri dari sofa saat melihat Lusi yang baru datang ke kantornya.


Saat itu Lusi masih menggunakan jubah hakim, sepertinya dia baru saja menyelesaikan sidangnya di malam itu.


“Astaga, baju ini mungkin baju yang paling tidak nyaman dipakai. Bisa bantu aku melepas ini, Yul?”


“Tentu.” Yuli berdiri di belakang Lusi. Membantu melepaskan jubah hakim yang sangat besar itu. “Akan tetapi, anda lebih cocok menggunakan jubah ini daripada orang lain, Bu Hakim.”


Yuli mengambil sebuah hanger dan menggantung jubah hitam hakim itu di loker yang ada.


“Astaga, bukan itu maksudku. Hanya saja jubah itu terlalu berat dan ribet saat melepas ataupun memakainya.”


Lusi menuju sofa yang ada di ruangannya. Dia mengambil 2 gelas dan mengisinya dengan teh hangat dari pan yang ada.

__ADS_1


“Duduklah, Yul. Minumlah ini.”


Yuli pun segera menuju ke sofa, lalu duduk dan meminum teh hangat dari Lusi.


Yuli pun menceritakan tentang dirinya yang menjadi seorang pembantu pengacara Christ, dan melaporkan bahwa Christ sangat ingin mengambil alih kasus Jono atas pembunuhan yang dilakukannya pada walikota.


“Hmmm, jadi, pengacara itu  ingin mengambil alih  kasus itu?” tanya Lusi.


“Ya, begitulah, Bu Hakim.” Yuli meletakkan gelas di atas meja. Aku tahu bahwa dia sepertinya bukan orang baik, tapi, aku masih sangat penasaran dengannya, ditambah lagi, anda adalah hakim yang mengurus kasus itu di pengadilan.”


“Apa kau sudah membaca laporan penyelidikan atas kasus itu?” tanya Lusi.


“Sebenarnya, masih banyak kasus lain yang tidak memiliki motif, sekalipun itu kasus pembunuhan,” jelas Lusi.


“Aku tahu itu, tapi, hanya saja ada yang membuatku merasa tidak nyaman.”


“Apa itu?”


“Sepertinya aku harus berbicara secara empat mata dengan Jono, agar semua pertanyaan di kepalaku dapat terjawab.”

__ADS_1


“Baiklah, kau harus melakukan itu jika itu memang membuatmu penasaran.” Lusi menyeringai lebar.


“Omong-omong, Yul. Bukankah beberapa hari lalu kau berulang tahun?”


Lusi memang sudah menganggap Yuli sebagai anaknya sendiri. Mereka berdua saling mengenal semanjak Yuli masih duduk di bangku kuliah.


Saat itu, Lusi masih mempunyai sampingan menjadi dosen di fakultas hukum tempat Yuli berada.


Karena melihat potensi yang besar dari Yuli, Lusi pun mulai menganggap Yuli sebagai anak didik kesayangannya, bahkan dia juga yang memberikan beasiswa kepada Yuli saat itu.


Tak heran jika Lusi tahu semua yang terjadi di keluarga Yuli, hingga tanggal lahirnya pun dia tahu.


“Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan? Aku akan membelikanmu beberapa stel pakaian. Anggap saja ini hadiah ulang tahunmu dariku. Kulihat kau tak pernah menggunakan setelah minim, yang biasa wanita gunakan.”


“Astaga, kau tak perlu melakukan itu, Bu Hakim.” Yuli menunduk tersipu malu.


“Sudahlah, kau tak boleh menolak. Ayo ikut denganku.” Lusi beranjak dari sofa mengajak Yuli ke suatu tempat.


Mau tak mau, Yuli pun harus ikut dengan Lusi, karena dia tak mungkin bisa menolaknya.

__ADS_1


__ADS_2