
Asep mendorong Ayah Yuli hingga tersungkur dan kembali memporak porandakan studio miliknya.
“AYAH!!!”
Tak lama setelah itu, Yuli pun akhirnya kembali ke rumah dengan membawa beberapa barang belanjaan di tangannya.
Yuli terkejut dan langsung menghampiri Ayahnya. Yuli meletakan barang belanjaannya, membantu ayahnya duduk di kursi.
“Apa yang kalian lakukan?” Yuli berteriak memaki Asep dan gengnya. Dia kesal dan melotot menatap Asep.
“Astaga, kenapa ada wanita disini? Aku sangat terkenal di bisnis ini karena sikapku yang lembut.” Asep membenarkan kemeja kotak-kotak lusuhnya.
“Apa? Wanita, katamu?” tanya Yuli ketus.
“Pergilah, Nak.” Ayah Yuli menarik tangan Yuli. Menahannya agar tak ikut campur. Yuli tak memperdulikan itu. Dia ingin melawan dan mengusir Asep dan anak buahnya.
“Bagaimana jika kutunjukkan padamu kekuatan seorang wanita?”
“Hahahaha. Astaga, menakutkan sekali.” Asep terkekeh begitupun anak buahnya. “Tidak ada yang melibatkan keluarganya dalam bisnisku. Aku hanya datang kemari untuk menagih hutang ayahmu yang banyak itu.”
Asep mengeluarkan sebuah surat perjanjian dari saku celananya.
__ADS_1
“Menagih hutang?” tanya Yuli.
“Ya, begitulah kurang lebih.”
“Apa-apaan ini? Sebenarnya kalian preman atau rentenir?” Yuli menatap wajah anak buah Asep yang kucel itu satu persatu.
“Aku bisa melihat bahwa kau adalah wanita yang cantik, dan tak mungkin bagiku untuk memukul wanita cantik sepertimu,” jelas Asep sedikit menggoda.
“Akan tetapi, hukum telah diperkuat, dan ada beberapa hal yang bahkan tidak boleh diketahui oleh anggota keluarga.”
Yuli mendengus. “Hukum? Hahahaha. Asal kalian tahu, aku adalah seorang Pengacara.”
“Pengacara? Itu artinya kau pasti mengerti hukum!” seru Asep menunjukkan surat perjanjian yang dibawanya. “Kenapa kau tidak berada di luar saja dan menunggu aku menyelesaikan masalah dengan ayahmu? Aku hanya berusaha mematuhi UU Perlindungan Informasi Pribadi.”
“Ayah meminjam uang kepada preman ini? Apa mereka benar?”
Ayah Yuli mengerutkan dahinya tak mau menjawab.
“Jawab Aku, Yah! Apa benar kau melakukan itu?”
“Jika kau seorang pengacara, maka beritahulah ayahmu agar dia mengerti.” Asep menunjuk dahi Yuli. “Ah, sial! Merepotkan saja.”
__ADS_1
“Baiklah, kami akan datang lagi nanti,” tegas Asep.
“Semuanya, cabut!!!” Semua anak buah Asep keluar dari studio.
“Hei, Pak! Bayar utangmu!” Asep kembali memperingatkan sebelum dia beranjak keluar dari studio.
Canda, tawa dari anak buah Asep masih terdengar dari dalam studio saat mereka pergi.
“Ayah, apa yang terjadi? Kenapa kau meminjam uang pada mereka?”
“Maafkan Ayahmu yang bodoh ini, Nak. Ayah tak tahu lagi harus meminjam pada siapa.” Ayah Yuli menunduk lesu.
Karena tak terima dengan perlakuan semua preman itu. Yuli mendatangi markas koperasi milik Asep.
Jarak antara rumah Yuli dan markas Asep sangatlah dekat. Dengan berjalan kaki, Yuli mendatangi markas asep sendirian.
Wajahnya memerah menggebu-gebu. Dia berjalan cepat dan ingin melabrak segerombolan preman yang telah merusak semua perabot rumahnya.
Yuli masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat dia hadir di pengadilan tinggi. Setelah jas berwarna abu-abu gelap dan kemeja hitam pekat.
Sebuah plang bertuliskan. KOPERASI SIMPAN PINJAM SINAR MAS, terpampang besar di atas banner yang terletak di gedung lantai 3.
__ADS_1
Setelah melihat itu, Yuli sangat yakin bahwa di lantai 3 itulah para preman berkumpul.
Sesampainya di lantai 3, Yuli melihat semua preman yang baru saja mengobrak-abrik rumahnya. Mereka semua sedang membersihkan ruangan yang cukup luas itu, setelah kekacauan yang terjadi kemarin hari.