
“Ya, kau benar. Aku sangat luang karena tak ada seorang klien yang mampu membayar jasaku yang sangat tinggi.” Christ menyombong.
“Aku juga tak pernah gagal setiap kali aku memutuskan untuk mencuri sesuatu. Entah itu kasus, ataupun orang sekalipun.” Christ tersenyum menatap Yuli.
“Omong-omong, apa benar Jono memang tidak mempunyai alibi atas pembunuhan yang dilakukannya?” tanya Christ.
“Kalau punya, kenapa juga kami bekerja keras untuk menangani kasus ini?” sahut Si Detektif
“Ah, kau benar.” Christ tersenyum. “Kalau begitu, aku permisi dulu.” Christ pun berjalan pergi meninggalkan TKP.
“Sepertinya, kau tak memiliki banyak kasus yang sedang kau tangani,” seru Sri. “Apa kau ingin aku memperkenalkanmu kepada paralegal yang hebat?”
Sri tetap saja sinis kepada Yuli. Pertikaian mereka diawali sejak duduk di bangku kuliah. Mereka saling bersaing satu sama lain. Bedanya, Sri terlahir dengan keluarga yang berkecukupan, sedangkan tidak dengan Yuli.
Hal itu membuat mereka terus berselisih satu sama lain.
Yuli sangat kesal. Dia sangat ingin meninju wajah Sri di tempat itu, akan tetapi, dia hanya mendengus, lalu berjalan pergi.
“Hei, dengarkan aku, Jaksa Sri.” Christ menarik tangan Yuli yang berjalan pergi. Menahannya kembali. “Aku yakin kau akan berjuang untuk melawanku di dalam persidangan atas kasus ini. Aku juga tak butuh paralegal lain.”
Christ berbalik dan menatap Sri dan seorang detektif yang bersamanya. “Urus saja TKP ini dengan benar, kau bersama detektif ini.”
__ADS_1
“Mari kita pergi, Paralegal Yuli.”
Christ menggandeng tangan Yuli, lalu pergi dari TKP.
Mereka berdua tak langsung kembali ke kantor, melainkan pergi ke kantor Budi, pengacara yang mewakili Jono dalam kasus pembunuhan yang dilakukannya.
Christ datang untuk meminta kasus Jono pada Budi, agar dia menyerahkan kasus Jono padanya.
Di pintu lobi, Christ dan Yuli menunggu Budi.
“Kenapa kita datang kemari?” tanya Yuli tak mengerti maksud Christ.
Tanpa rasa malu sedikitpun, Christ berjalan mendekati Budi dan menyapanya.
“Permisi, benarkah anda Pengacara Budi?”
“Menyingkirlah. Aku sedang tak ingin berjalan dengan siapapun.” Budi ketus dan terus berjalan.
“Sebentar saja, Tuan.” Christ tetap kekeh menghalangi Budi. Menunjukkan kartu nama, dan lencana pengacara yang dipakainya. “Aku Pengacara Christianto.
Budi pun akhirnya menghentikan langkahnya. Dia tersenyum dan mendengus. “Baru kali ini aku melihatmu. Apa yang kau inginkan dariku?”
__ADS_1
“Begini, kenapa anda tidak melimpahkan kasus Jono kepadaku saja?”
“Apa-apaan ini? Apa maksudmu?” Budi kesal. Kembali melangkah.
“Tunggu, Tuan.” Christ kembali menghalangi. “Aku tahu aku sangat lancang, tapi, aku bersungguh-sungguh ingin mengambil alih kasus itu.”
Yuli memalingkan wajahnya. Dia masih tak mengerti kenapa Christ masih kekeh untuk mengambil kasus itu.
“Astaga, aku tahu banyak pengacara yang susah untuk mencari uang di jaman sekarang. Akan tetapi, aku tak mengerti kenapa kau sampai berbuat sejauh ini, itu sangat disayangkan,” ucap Budi mulai kesal.
“Satu hal lagi yang perlu kau ingat, Milan memiliki hukum Milan sendiri, begitupun dengan Bekasi. Bekasi memiliki hukum sendiri, jadi, sebaiknya hentikan tingkahmu ini, sebelum kau terluka.”
Budi dan semua asistennya pun pergi meninggalkan lobi.
Christ tersenyum sinis melihat langkah Budi meninggalkan lobi gedung.
Dia menelpon Guntur dan menyuruhnya untuk menjalankan rencana.
***
Malam hari pun tiba. Di kantor firma hukum Christ, Guntur, Asep dan semua anak buahnya telah beristirahat di dalam ruangan yang ada, tapi tidak dengan Christ.
__ADS_1