
30 detik berlalu, kereta telah melintas melewati lorong. Si Pembunuh Bayaran menggunakan detik-detik terakhirnya, sebelum kereta benar-benar melintas.
Dia kembali mengambil pisau, lalu menodongkannya pada Yuli. Berdiri di belakang, menahan leher Yuli. Mengacungkan ujung pisau pada lehernya.
“Satu langkah saja kau berpindah dari tempatmu, aku akan menggorok leher wanita ini,” tegas Si Pembunuh Bayaran.
Sejenak Christ terdiam. Dia kembali teringat pada mendiang ibunya yang juga meninggal karena tertusuk oleh sebuah pisau. Dia tak ingin melihat hal yang sama terulang kembali di depan matanya.
Raut wajah Christ berubah. Matanya melotot tajam, tangannya mengepal kuat. Dia memikirkan cara untuk menyelamatkan Yuli dari Si Pembunuh Bayaran.
“Jatuhkan pisaunya. Jika kau berani menyakitinya sedikitpun, maka aku akan benar-benar membunuhmu disini. Aku akan membuatmu mati secara perlahan dan kau akan menyesali semua perbuatanmu itu.”
Yuli menggigit tangan Si Pembunuh Bayaran. Christ menggunakan kesempatan itu untuk meraih pisau yang dibawanya.
Darah segar mengucur dari telapak tangan Christ, saat dia menahan mata pisau yang tajam. Sama sekali Christ tak memperdulikan darah di telapak tangannya itu.
Dia memelintir tangan Si Pembunuh Bayaran, lalu memukulinya dengan membabi buta. “Mati kau, Anak Anjing.”
__ADS_1
bak buk bak buk bak buk
“Christ, Hentikan itu! HENTIKAN!!!!”
Yuli berteriak kencang, tapi, Christ sama sekali tak memperdulikannya sama sekali. Yuli benar-benar melihat bahwa itu bukanlah Christ, melainkan seorang monster yang sedang memburu mangsanya.
Walau telapak tangannya berdara, Christ terus memberikan pukulan bertubi-tubi hingga wajah Si Pembunuh Bayaran itu benar-benar tak karuan lagi.
“Berdiri kau bajingan.” Christ menjambak rambut Si Pembunuh Bayaran dan terus memukuli kepalanya, saat terjatuh, Christ tetap menyepak kepala Si Pembunuh layaknya dia menyepak bola kaki.
“Minggir kau, lepaskan aku!” Christ berbalik dan mendorong Yuli hingga terjatuh ke rel.
Christ benar-benar memperlakukan Si Pembunuh Bayaran itu layaknya hewan. Dia menyiksa, memukul dan bahkan mencoba membunuhnya dengan tinjunya sendiri.
Bukan karena Si Pembunuh tak mengatakan yang sebenarnya, tapi, karena dia telah melakukan hal yang memancing emosi Christ dengan mengancam Yuli.
Si Pembunuh Bayaran mulai mengesot menjauh, saat Christ berbalik padanya.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya,” ucap Si Pembunuh. Dia mengangkat tangan agar Christ tak memukulnya lagi. “Miko, dia adalah orang yang menyuruhku agar membunuh walikota Joko.”
Beruntung nasib Si Pembunuh. Jika dia tak mengatakan itu, maka Christ masih akan tetap memukulnya hingga sekarat.
“Kau tak perlu menunggu di persidangan, aku sudah mengatakannya padamu disini. Aku juga akan memberitahumu, bagaimana dia bisa lolos dari semua perbuatannya.”
TOOOEEEEEEETTTTTT!!!!!! Suara klakson kereta api kembali terdengar nyaring. Kali ini, kereta api yang akan melintas lebih cepat dari kereta api api sebelumnya.
Christ menoleh melihat Yuli yang masih tersungkur di atas rel. Dia bergegas menggendong Yoli dan membawanya ke pinggir rel. Menyandarkan tubuhnya ke dinding lorong.
Akan tetapi, hal yang terduga terjadi. Saat kereta api melintas di lorong, Si Pembunuh Bayaran melakukan bunuh diri dengan menabrakkan tubuhnya pada kereta api yang melesat kencang.
Saat Christ menyelamatkan Yuli, Si Pembunuh menggunakan kesempatan itu untuk bunuh diri. Dia melompat ke tengah rel dan BRAK!!! Tubuhnya tertabrak kereta yang melesat dengan kencang.
Si Pembunuh Bayaran itu tewas seketika. Dia memilih untuk bunuh diri daripada bersaksi di pengadilan.
“Yuli, lihat aku! Yuli!!” Christ mencoba menenangkan Yuli yang syok karena melihat kejadian itu.
__ADS_1