
Mobilnya terus meliuk-liuk menyalip semua kendaraan yang ada di pagi itu. Dia dan Yuli harus bergegas untuk kembali ke pengadilan secepatnya.
Yuli merasa kasihan saat melihat Christ. Sedari tadi, Christ hanya memegang leher dan kepala belakangnya, saat dia menyetir.
Yuli mengeluarkan kain kacu dan menyeka keringat di wajah Christ. Christ sempat menghindar saat Yuli mengeluarkan kain kacu dan menempelkannya di leher belakang.
Christ akhirnya tersenyum kecil. Dia sangat senang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Yuli. Christ tak pernah mendapatkan kasih sayang seperti itu lagi, saat ditinggalkan oleh ibunya.
“Hari ini, kau tak perlu berterima kasih kepadaku. Aku cuma ingin karyawanku datang ke sidang.
Yuli mendengus. Dia masih menyeka keringat dan bibir Christ yang sedikit berdarah. “Tentu saja aku tak akan berterima kasih, aku pun diculik karenamu.
Seharusnya aku yang bilang seperti itu. Kau tak perlu meminta maaf padaku. Lagipula, kau sudah menyelamatkanku,” jawabnya ketus.
“Apa kau berpikir, aku akan membiarkan mereka menyakitiku? Tentu saja tidak. Aku akan membalas mereka, bahkan jika nyawaku terenggut. Aku tak akan pernah membiarkan mereka menyakitiku atau berbuat hal aneh padaku.”
Christ tersenyum lebar. Sesekali dia menoleh dan menatap Yuli dengan tatapan penuh makna.
Dia sangat ingin melindungi Yuli, dan tak ingin Yuli mengalami nasib yang sama seperti mendiang ibunya.
“Wah, tatapan apa itu? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Yuli.
__ADS_1
“Mulai saat ini, pertarungan ini menjadi milik kita berdua.”
“Pertarungan? Maksudmu, persidangan?”
Yuli menarik kain kacu yang sudah penuh dengan darah, lalu membaliknya, menggunakan sisi lain dari kain, untuk menyeka darah Christ. “Baiklah. Kita harus bergegas ke pengadilan sebelum semuanya terlambat.”
***
“Hakim Lusi memasuki ruangan. Hadirin diharap berdiri!”
Di ruangan pengadilan, semua orang telah berkumpul dan berdiri saat moderator mulai memberi aba-aba.
“Silahkan duduk kembali.”
Terlihat Gun yang sedang duduk disebelah Jono untuk menggantikan Christ sementara. Begitupun Jono yang bertanya-tanya, kenapa bukan Christ yang ada di sebelahnya?
“Sebelumnya, saya telah mendengar bahwa Terdakwa telah mengganti pengacara, jadi, apa benar anda adalah Pengacara Christianto?” Lusi menatap Gun yang duduk di samping Jono.
“Yang Mulia Hakim, maaf sebelumnya. Dia bukan pengacaranya,” seru Jaksa Sri, berdiri di tempat. “Pengacara Christianto meninggalkan pengadilan sebelum persidangan dimulai.”
“Apa anda melihat kemana dia pergi?” tanya Lusi.
__ADS_1
“Entahlah, tapi sepertinya, di terlihat panik dan terburu-buru meninggalkan pengadilan,” jelas Sri.
Lusi tersenyum sinis, bertanya pada Gun, “Kemana Pengacara Christianto?”
“Jadi begini, Bu Hakim…….”
“Kenapa anda duduk disana?” potong Lusi.
“Saya adalah asisten peribadi Pengacara Christianto, Bu Hakim,” jawab Gun dengan percaya diri.
Lusi mengernyitkan dahinya. “Bukannya hanya Pengacara Christianto saja yang membela terdakwa? Kenapa bukan dia yang hadir disini, dan malah menggantikannya dengan asisten pribadinya?”
“Jadi, begini, Bu Hakim. Saya baru saja terpilih menjadi asistennya karena…..”
“Terdakwa!” Belum selesai ucapan Gun, Lusi kembali memotong penjelasannya.
“Ya, Yang Mulia Hakim,” jawab Jono.
“Apa benar yang dikatakan olehnya? Apa dia asisten Pengacara Christianto?”
Jono celingukan seperti orang bodoh. Dia tak tahu harus menjawab apa. Gun sengaja menginjak kaki Jono agar dia paham apa yang harus dikatakan.
__ADS_1
“Ya, benar, Bu Hakim. Dia berkata benar.” Jono menunduk.
“Pasal 112 UU tentang kode etik pengacara berbunyi ‘berpura-pura menjadi seorang pengacara adalah kejahatan berat’ Anda tahu itu, bukan?” tanya Sri. Dia melangkah mendekati Gun dan menatapnya serius.