
Beberapa petugas keamanan berdatangan untuk menangkap Christ. Christ hanya tersenyum kecil, saat seorang satpam memborgol kedua tangannya.
Sepertinya Christ memang memiliki tujuan lain saat ditahan.
“Baiklah. Sidang hari ini akan ditunda untuk sementara waktu.” TOK TOK TOK
Palu telah dipukul. Beberapa orang mulai membubarkan diri. Jono menepuk dahinya, dia tak mengerti apa yang sedang direncanakan Christ, begitupun dengan Yuli yang celingukan melihat Christ dibawa oleh petugas keamanan.
Di depan pengadilan, Christ, Gun, Asep dan semua anak buahnya sedang digiring untuk masuk ke dalam sebuah mobil. Mereka akan ditahan selama satu minggu karena perbuatan yang mereka perbuat.
Kedua tangan mereka diborgol dan berjalan berbaris menuju mobil. Tak ada satupun yang menunjukkan wajah murung saat itu.
Guntur, Asep dan semua anak buahnya malah bergembira saat itu. Mereka sangat senang ditahan asal Christ selalu bersamanya.
“Kau lihat ini? Benar kataku, bukan? Aku akan ditahan.” Christ tersenyum saat melihat Yuli yang berdiri di depan pintu.
“Kenapa kau tadi meminta mereka mundur, jika tahu ini bakal terjadi?” tanya Yuli. Dia berjalan mengikuti Christ yang akan menuju ke dalam bus yang akan membawa mereka ke tahanan.
“Kau juga akan tahu sendiri nanti.” Christ tersenyum.
__ADS_1
“Kalian tak keberatan bukan?”
“Tentu tidak, Bos. Selama ini aku malu saat dipenjara, tapi tidak untuk sekarang. Aku bisa bangga karena akan dipenjara bersamamu,” ucap Guntur.
“Aku juga sangat senang bisa masuk penjara lagi. Mari kita buat geng terkuat di penjara nanti,” seru Asep.
Yuli hanya menggeleng. Dia tak habis pikir dengan semua orang yang mengikuti Christ.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Christ berpesan pada Yuli. “Baiklah, aku akan pergi dulu. Aku titipkan firma hukum ku padamu.”
Christ pun masuk kedalam mobil menyusul lainnya.
Perlahan bus mulai berjalan meninggalkan pengadilan. Christ melambaikan tangannya yang terborgol pada Yuli. Mereka saling melemparkan senyuman satu sama lain.
Melihat bus tahanan berlalu pergi, Yuli segera menuju ke kantor Lusi untuk membahas hal yang baru saja terjadi.
“Kenapa kau datang kemari? Sepertinya kau mau bicara serius,” ucap Lusi ketus.
“Benar, Bu Hakim. Aku ingin berbicara serius. Bagaimana anda tahu itu?”
__ADS_1
“Hmm, sudah sangat jelas tersirat di wajahmu, kau pasti datang untuk meminta bantuan kepadaku. Bantuan apa itu?”
“Aku ingin menunda persidangan, Bu Hakim. Pengacara Christianto tidak punya cukup waktu untuk mempersiapkan persidangan ini, karena dia masuk ke penjara setelah mengambil alih kasus ini.”
“Sepertinya, kali ini aku harus menolak permintaanmu, Yuli.” Lusio tersenyum sedikit menggeleng.
“Yang Mulia…”
“Mari kita bicara di luar saja, Yul.”
Lusi beranjak pergi dari kantornya, disusul dengan Yuli. Mereka berjalan berdampingan keluar dari kantor pengadilan tinggi kota Bekasi.
“Pengacara Christianto telah menunjukkan kebenaran dari salah satu anggota majelis hakim, bahwa dia tidak memenuhi syarat di dalam persidangan, dan dia juga tidak mencoba menyerang anda, Bu Hakim.
Aku yakin dia sangat butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya sebelum membela terdakwa. Bagaimana dia akan melakukan itu semua, jika dia masih berada……”
“Kau saja yang melakukannya, Yul.” Lusi menghentikan langkahnya di lorong, menatap Yuli serius. “Jika di tidak bisa jadi pembela, maka kau saja yang menjadi pembela. Kau juga seorang pengacara,” tegas Lusi.
Dia mendengus kesal, lalu beranjak melangkah pergi.
__ADS_1