SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 049


__ADS_3

Christ tersenyum lebar melihat apa yang dilakukan Guntur, Asep, dan seluruh anak buahnya. Dia tak salah mempekerjakan orang sedemikian itu.


Mereka berdua terus berjalan hingga berdiri di depan meja Hakim Utama. Mata Christ tertuju pada Lusi. Dia menatap Lusi dengan tatapan tajam.


Christ masih mengingat dengan persis, bahwa Lusi adalah orang yang juga berkaitan tentang meninggalnya ibunya saat itu.


Dia melihat Lusi yang mengobrol dengan ketua preman yang menusuk ibunya, saat ia berhasil kabur 20 tahun silam. Christ sangatlah yakin dengan hal itu.


Tak salah lagi, Lusi pasti memiliki keterikatan dengan kematian ibunya, sekaligus tentang bukti yang dimiliki ibu Christ, hingga membuat nyawanya terenggut saat itu.


Guntur langsung menghentikan perbuatannya, saat melihat Christ yang sudah berdiri di hadapan Hakim Utama. Asep dan semua anak buahnya pun juga berhenti membuat gaduh.


Christ tersenyum dan membungkuk di hadapan Hakim.


“Siapa kau?” tanya Lusi.


“Aku Pengacara Christianto, pembela terdakwa dalam kasus ini. Kita bisa memulai sidang sekarang juga, Yang Mulia Hakim Lusi,” ucap Christ dengan tegas.

__ADS_1


Lusi menghela nafas panjang dan, “Tahan semua orang yang terlibat dalam kegaduhan tadi.”


Semua satpam dari luar mulai berdatangan dan mengamankan Guntur, Asep dan semua anak buahnya.


“Seumur hidupku, pertama kalinya aku melihat kerusuhan di pengadilan. Aku tidak akan mentolerir ini,” tegas Lusi sekali lagi.


Setelah semua satpam mengamankan, Christ, Jaksa penuntut dan Terdakwa segera duduk di tempatnya, bersiap untuk memulai persidangan. Sementara Yuli duduk di bangku penonton.


“Pengacara Christianto, bisa anda jelaskan kenapa anda terlambat?” tanya Lusi.


Yuli berdiri dan berseru. “Yang Mulia Hakim, dia sedang menyelamatkanku karena beberapa preman telah menculikku agar dia tak……”


Yuli menunduk lalu, duduk kembali.


Christ berdiri, mulai menjelaskan, “Ada beberapa preman yang ingin menghalangiku untuk hadir dalam persidangan ini, Yang Mulia Hakim. Mereka sepertinya diutus oleh seseorang yang berkaitan dengan kasus ini. Dan juga…..”


Saat hendak menjelaskan, tiba-tiba darah mengucur cukup deras dari pelipis dahi  Christ. Saat menyentuhnya, tangan Christ sudah dipenuhi dengan darah.

__ADS_1


Darah itu mulai membanjiri pipi dan sebagian lagi yang mengenai kemejanya.


Lusi hanya diam dan menatap Christ dengan ketus, walau dia melihat darah yang keluar dari pelipisnya.


“Mohon maaf sebelumnya, Yang Mulia Hakim. Apa anda tak keberatan jika aku menjelaskannya secara perlahan? Sepertinya luka ini membuatku sedikit kerepotan.”


“Yang Mulia Hakim, Pengacara Christ sedang mengeluarkan banyak darah. Dia sedang tidak baik-baik saja. Tak bisakah aku membawanya ke klinik dulu?” Yuli bergegas berdiri karena khawatir dengan kondisi Christ.


Lusi menggelengkan kepala, menunjukkan wajah yang tetap ketus. “Baiklah, sidang ditunda selama 30 menit.”


Yuli bergegas membawa Christ ke klinik terdekat untuk mengobati lukanya. Begitupun dengan Hakim, Jaksa, dan penonton yang pergi meninggalkan ruang pengadilan.


Di klinik terdekat, masih klinik dibawah naungan pengadilan tinggi kota bekasi. Seorang perawat cantik telah mengobati beberapa luka di  leher, pelipis, dan bibir Christ.


Sementara Yuli menunggu Christ di tempat duduk di ruangan yang sama.


“Sudah selesai, Tuan. Untungnya, lukanya tidak begitu parah. Kau tidak boleh banyak bergerak dulu, agar bekas lukanya cepat mengering,” ucap Si Perawat

__ADS_1


“Baiklah. Terimakasih banyak, Dok.” Christ tersenyum pada perawat.


__ADS_2