
“Tunggu sebentar, Christ. Kau pasti ingin balas dendam padaku dengan hukum, bukan? Aku tahu itu, makanya kau menjadi seorang pengacara dan kembali ke Bekasi.”
“Lepaskan aku dulu, Christ. Mari kita bicara baik-baik!” Miko memohon. “Kau punya hukum, sedangkan aku memiliki banyak uang, kau tahu itu bukan? Ah, benar juga, aku juga punya hukum. Aku punya Hakim Lusi yang akan selalu memihakku.”
“Tidak, kau salah. Aku akan membunuhmu sendiri dengan tanganku, jika aku gagal dengan jalur hukum.”
Christ tersenyum kecil, lalu melepaskan tangannya dari kerah Miko. Miko pun kembali mengangkat kepalanya dari meja.
“Karena kau sudah menyelamatkan hidupku, maka aku juga tak akan pernah melupakan kebaikanmu.”
Mata Christ tertuju pada sebuah pulpen runcing yang antik di ujung meja. “Setidaknya, aku harus memberikan hidangan pembuka dulu padamu.”
“Apa maksudmu?” tanya Miko tak tahu. Dia malah meletakkan tangan kirinya ke atas meja Christ, lalu
jleb!!!!!!
__ADS_1
“ARGHHHH!!!!!!” Miko mengerang kesakitan.
Christ menancapkan ujung pulpen yang runcing tepat di tangan Miko, hingga menembus telapak tangan kirinya.
“Dasar, Psikopat gila!!!! Lepaskan pulpen itu.” Miko a
“Ku beri kau waktu satu minggu, akui semua kejahatan yang kau buat di pengadilan. Jika kau tak melakukan itu, maka aku akan benar-benar membunuhmu dengan rasa sakit yang paling menyakitkan. Aku akan membuatmu mati dengan merasakan sakit setiap detiknya.”
Malam itu jiwa Christ berubah seketika. Dia bukan lagi seorang penegak hukum, melainkan seorang Predator dan bahkan Psikopat yang tak segan membunuh mangsanya.
“Baiklah, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Tolong lepaskan pulpen itu dari tanganku.” Miko berlutut di depan meja dan terus memohon.
Saat Christ menarik kembali pulpen itu, Miko kembali berteriak mengerang kesakitan. Terdapat lubang kecil seukuran pulpen itu di telapak tangannya.
Dia melepas jaket, lalu membuntal tangan nya dengan itu. “Ah, sial! Kau sungguh gila!” Miko pun segera pergi dari kantor Christ, sebelum Christ benar-benar menyiksanya.
__ADS_1
Usai Miko pergi, Christ menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu menghembuskannya kembali. Mengulang-ulanginya terus menerus hingga dia merasakan tenang.
Jantung Christ berdebar kencang, begitupun dengan nafasnya yang menggebu-gebu karena amarah menguasainya saat melihat Miko.
Jika dia tak menahan amarahnya saat itu, maka dia benar-benar akan membunuh Miko di kantornya sendiri.
Christ mengambil kunci mobilnya, lalu pergi meninggalkan kantornya sejenak.
Dia pergi ke salah satu jembatan gantung yang ada di kota itu. Berdiri melamun dan mantap beberapa kendaraan yang melintas di malam itu, hanya untuk menghilangkan rasa amarah dan stres yang dialaminya.
Christ menyalakan api dan menyalakan sebatang rokok untuk menemani kesendiriannya. Dia terus menghisap dan menikmati rokok itu sembari melihat pemandangan yang terbentang luas dari jembatan gantung tersebut.
Jembatan gantung itu sangatlah indah. Terletak tepat di atas sungai yang membentang sepanjang mata memandang.
Dengan panjang sekitar 200 meter dan ketinggian sekitar 70 meter di atas permukaan sungai, jembatan itu memberikan pemandangan yang sangat indah. Ditambahi dengan lampu kelap-kelip dan warna warni dari ujung hingga ujung hingga ujung.
__ADS_1
Jembatan gantung yang ada di kota itu juga merupakan jembatan yang lebih unggul daripada jembatan konvensional lainnya.