
Christ masih saja melihat mobil Miko yang berlalu pergi. Emosinya mulai tidak terkontrol. Jantungnya berdetak kencang, tangannya sedikit bergetar, sesekali dia mengepalkan tangannya sendiri.
Dia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kembali. Tak ada satu orang pun yang tak marah jika mengalami kejadian dengan apa yang dialami oleh Christ.
Perlahan Yuli melangkah berdiri ke samping Christ. Yuli mengerti bahwa saat itu Christ sedang merasakan emosional yang sangat tinggi. Terlihat di raut wajah dan bahasa tubuhnya.
***
“Pak Ketua, ada yang harus kukatakan padamu.”
Miko dan Asistennya telah kembali ke ASARON GROUP. Asistennya membungkuk dan berlutut di depan Miko.
Dia mengakui semua kesalahannya. Mengatakan bahwa dia telah berhasil di sadap oleh anak buah Christ saat di pengadilan. Itulah sebabnya, Christ dapat menemukan pembunuh asli dari walikota Joko.
plas plas plas plas Miko menampar pipi asistennya beberapa kali hingga memerah. Asistennya hanya pasrah menerima tamparan dari Miko.
“Duduklah!”
“Baik, Pak Ketua!” Si Asisten segera duduk di sofa dengan menunduk.
__ADS_1
“Bagaimana bisa mereka memasang pelacak di mobilmu? Dan juga, sejak kapan mereka memasangnya?”
“Kurasa, mereka meletakkan GPS pelacak itu saat aku masih di persidangan. Beberapa anak buahnya menunggu di luar dan menanti perintah dari orang-orangnya yang ada di dalam.”
“Astaga, sial! Christianto membuat jebakan, dan kita terkena jebakan itu.”
“Maafkan aku, Pak Ketua.”
“Apa kau tahu apa artinya kalau dia memasang pelacak itu ke mobilmu?”
“Aku tahu, Pak.”
Untung saja Si Pembunuh Bayaran itu telah mati. Kalau dia tidak mati, maka tamatlah sudah kita semua.”
Miko mengambil sebotol alkohol, lalu menegaknya langsung dari botol itu. Lehernya bergoyang-goyang, dia meminum alkohol bak minum es jeruk yang segar.
“Aku berjanji akan mengurus dan menyelesaikan masalah ini, Pak.”
“Ya, tentu. Kau harus melakukan itu. Kalau bisa, buang jauh mayatnya ke laut atau ke gunung.”
__ADS_1
“Baik, Pak.”
***
Pukul 7 malam. Kota Bekasi sudah kembali berjalan seperti biasanya. Jalan raya kembali longgar dan tak macet karena para pekerja sudah kembali ke rumahnya masing-masing usai bekerja seharian penuh.
Semenjak pukul 4 sore hingga 6 petang, jalan raya kota Bekasi selalu padat. Kendaraan bermobil dan bermotor saling berpapasan memenuhi jalan raya. Membuat jalanan begitu macet.
Buruh pabrik yang baru pulang dari tempat kerjanya, eksekutif perusahaan yang juga baru pulang dari kantornya, mahasiswa yang baru usai dari mata kuliahnya, membuat jalanan sangat padat, saat mereka kembali secara bersamaan.
Begitupun dengan Christ yang baru saja tiba di depan rumah Yuli. Mobilnya terparkir tepat di depan rumah Yuli.
Di dalam mobilnya, Christ tak ingin membangunkan Yuli yang masih terlelap. Yuli tertidur dan bersandar di jok mobil, semenjak perjalanannya dari kantor kejaksaan. Mungkin itu karena efek obat yang diberikan oleh dokter.
Mata Christ tertuju pada beberapa pajangan foto yang berada di teras rumah studio milik ayah Yuli.
Terpampang besar foto keluarga Yuli lengkap bersama ayah dan ibunya. Terletak di tengah-tengah diantara pajangan foto lainnya. Menggunakan pigura berbahan premium.
Sesekali Christ menatap Yuli yang masih terlelap begitu nyenyaknya, lalu kembali memandangi pajangan foto di teras studio. Dia cukup iri saat melihat foto itu.
__ADS_1