SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 114


__ADS_3

Sebelum membawanya ke gereja, Gun sempat memberinya obat bius dengan dosis yang cukup tinggi, agar Miko tak terbangun saat Christ menyalibnya.


Tak hanya itu. Sebuah besi yang berbentuk bor, berada di atas kepala Miko yang tersalib. Hanya berjarak sepersekian mili saja dari rambut putihnya.


Bor dari besi itu dapat dikontrol menggunakan alat yang dibawa Christ yang akan menembus kepala Miko nantinya.


Lama sekali Christ dan Gun menunggu sadarnya Miko akibat dari obat bius itu.


Dan tepat pukul 12 malam, Miko tersadar.


uhuk uhuk! Miko terbatuk-batuk dan bingung melihat sekelilingnya yang penuh kegelapan. Hanya ada dua lilin yang menyala di depannya saat itu.


“Wah, akhirnya kau sudah bangun,” ucap Christ.


Miko berusaha menggerakkan kakinya yang sudah dipalu. Dia kembali mengerang kesakitan karena itu.


“Hei, hei! Kau tak perlu bergerak. Itu akan membuatmu lebih sakit lagi.” Christ berdiri di hadapan Miko.


“Sial! Apa-apaan ini?” Miko meludah ke samping. Miko malah tertawa dan tersenyum sinis. “Apa kau pikir kau lebih baik dariku, Christ? Kau hanyalah gembong mafia yang tak lebih buruk dariku.”


“Ya, mungkin kau benar. Aku tak lebih buruk darimu, tapi, setidaknya aku bertindak buruk pada orang pantas menerimanya.”


“Hahahahahaha. Lantas, apa yang kau inginkan? Apa kau ingin membunuhku?” Miko terkekeh. “Kau pikir dengan membunuhku akan mengembalikan nyawa ibumu?”


DOR!!!!


“AAAARGH!!!!!!”  Miko mengerang kesakitan. Christ kembali melepaskan tembakan mengenai telinga kiri Miko.


“Tutup mulutmu, Brengsek! Jangan sekali-kali kau menyebut nama ibuku dengan mulut kotormu.” Chris mengambil sebuah remot dari dalam saku jaketnya.


“Baiklah, sepertinya kematian tidak membuatmu takut sama sekali.”

__ADS_1


Christ menyalakan mesin dan bor besi pun mulai berputar turun mengebor sedikit kulit kepala Miko.


Miko kembali mengerang kesakitan. Beberapa helai rambut nya terpotong, dan kulit kepalanya mulai sobek, karena bor itu mulai menancap di batok kepalanya.


“Dasar, Psikopat gila! Apa-apaan ini?”


“Apa kau tahu mainan ini? Ini adalah tombak penebus dosa. Mafia rusia biasa menggunakan mainan ini untuk menghukum para pengkhianat dan manusia bodoh sepertimu.”


“Jika otomatis sudah kunyalakan, maka tombak itu akan menusuk kepalamu perlahan sedalam 5 cm di setiap sepuluh menitnya.”


“Lalu, tombak besi itu akan benar-benar menembus kepala hingga lubang anusmu, tepat saat fajar tiba, dan kau akan perlahan mati secara mengenaskan.”


Mata Miko terbelalak lebar. Berusaha melepaskan diri dari tiang salib itu. Dia baru menyadari bahwa itu benar-benar siksaan yang menyakitkan.


Miko benar-benar akan mati dengan tombak besi yang menebus ujung kepala hingga anusnya.


“Tunggu dulu, Christ! Lepaskan aku …. Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya di pengadilan, jadi, tolong lepaskan aku. Kau juga bisa mengambil semua harta yang kupunya. Aku akan memberikannya padamu.”


Miko terus merengek memohon ampun pada Christ.


“Jika kau benar-benar ingin membunuhku, tusuk saja jantungku, atau kau bisa menembak kepalaku, jangan menggunakan cara seperti ini.”


Meski Miko merengek meminta ampun, Christ sudah tak akan mengampuninya lagi. Christ akan menghukum Miko dengan caranya sendiri.


“Gun, nyalakan otomatisnya.”


“Baik, Bos.” Gun pun menaiki kursi, lalu menyalakan otomatis yang akan menjalankan bor besi dengan sendirinya.


“Kuharap, kau menyesali perbuatanmu di neraka, Miko.”


Christ pun berjalan pergi keluar dari gereja itu.

__ADS_1


“CHRISTIANTO!!!!!!!!!”


Teriakan Miko terdengar hingga luar gereja. Teriakan yang dipenuhi dengan rasa takut yang luar biasa.


Christ berhenti sejenak setelah membuka pintu mobilnya. Dia melihat ke arah gereja, dan berpikir atas apa yang telah dilakukannya pada Miko.


“Bos, apa kau baik-baik saja?” tanya Gun.


Christ menggeleng, lalu masuk ke dalam mobil. Dia harus kembali ke hotel untuk menjemput Yuli yang masih terkunci di dalam kamar.


Dalam perjalanannya menuju hotel, Christ mendapatkan kabar dari Bram, bahwa dia telah berhasil membunuh Lusi, dan membuat kematiannya terlihat seperti bunuh diri.


Christ tersenyum lebar. Balas dendamnya telah usai. Kini, dia hanya perlu berpindah ke luar negeri sebelum namanya menjadi buron.


***


Satu bulan kemudian di Roma Italia. Terlihat Christ dan Yuli yang telah hidup bersama dalam satu rumah. Mereka memutuskan untuk menikah dan hidup bersama di tengah kota Roma.


Kabar baiknya lagi adalah, Yuli saat itu dinyatakan hamil. Dia tengah mengandung anak Christ dari hubungan intim yang pernah mereka lakukan sebelum menikah.


Mereka berdua hidup bahagia dan melupakan semua kenangan buruknya selama di kota Bekasi.


Christ menjadi seorang pengacara tunggal yang membuka kantor firma hukumnya sendiri di rumah, hanya untuk mencari nafkah bagi Yuli.


Begitupun dengan Guntur. Christ pun mengajak Gun tinggal di rumah yang sama dan mempekerjakannya sebagai asisten pribadi sekaligus orang yang akan mengurus rumah Christ di Roma.


Serta Asep dan kesembilan anak buahnya. Mereka semua kini menjadi anggota mafia dari keluarga Bagas yang pastinya menjadi tukang pukul baru yang baru di keluarganya.


Dan kisah pun berakhir.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2