
Tepat pukul 10 pagi, Christ baru sampai ke kantornya. Sekeliling kantornya bak kapal pecah. Semua perabot pecah dan rusak, berserakan di lantai.
Dari balik pintu ruangan Christ, terlihat Gun yang sudah tak berdaya. Dia bersandar di balik pintu dengan kondisi tubuh yang mengenaskan.
Seluruh tubuhnya dipenuhi darah. Pelipisnya sedikit sobek, wajahnya lebam dan memar, pria bertubuh gempal itu terlihat sangat mengenaskan.
“Gun, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?” Christ merangkul Gun, mendudukkannya di sofa. “Dimana Asep dan anak buahnya?”
Gun mengerang kesakitan.
“Asep …. Miko menyuruh banyak orang untuk menyerang kantor ini. Sepertinya mereka tidak hanya berasal dari satu kelompok geng saja. Dia mengumpulkan beberapa geng dan menyuruhnya untuk menyerang kantor.”
“Gabungan preman itu merangsek masuk lalu menyerbu kita semua, mereka juga menghancurkan kantor seperti yang kau lihat sekarang ini. Asep dan sembilan anak buahnya juga dibawa oleh mereka.”
“Hanya aku yang berhasil selamat kabur dari mereka, Bos.” Gun menyeka darah yang terus mengalir dari pelipisnya. “Kau harus bertindak, Bos. Kita harus selamatkan mereka.”
__ADS_1
“Tentu, Gun. Kita akan menyelamatkan mereka. Aku juga akan mengakhiri balas dendamku hari ini juga. Mungkin dengan bantuan Paman Bagas, aku akan lebih mudah menyelesaikan semua ini.”
“Yang terpenting sekarang adalah, kau harus pulihkan dirimu dulu. Mari kita pergi ke rumah sakit dan mengobati lukamu.”
“Tidak, Bos. Aku baik-baik saja. Aku bisa mengobati lukaku sendiri dengan alat P3K yang ada. Kau tak perlu mengkhawatirkanku.” Gun menggeleng.
“Apa kau juga lupa, bahwa aku juga pernah merasakan hal lebih parah dari ini sebelumnya?”
Christ menghela nafas panjang. “Baiklah. Kalau begitu, segera obati lukamu.” Christ mengambilkan kotak P3K yang terbengkalai dengan perabot yang berserakan. Ikut mengobati Gun.
“Tapi, apa kau tahu, kemana para preman itu membawa Asep?”
“Bagus, Gun. Kau memang selalu bisa kuandalkan.”
“Satu hal lagi, Bos. Saat aku melihat siaran TV tadi pagi, aku media yang mengabarkan bahwa, Jono dinyatakan bunuh diri di dalam penjara. Aku yakin itu bukanlah bunuh diri.”
__ADS_1
“Dia tak mungkin bunuh diri, Gun. Miko pasti telah menyuruh orang untuk membunuhnya di dalam penjara, dan membuatnya terlihat seperti bunuh diri. Aku juga menduga hal itu akan terjadi,” sahut Christ.
Christ berdiri, berjalan mondar-mandir, memikirkan sesuatu.
Dia tak ingin Asep dan kesembilan anak buahnya menjadi korban hanya karena misi balas dendamnya. Dia harus menyelamatkan Asep, dan mengakhiri balas dendamnya hari itu juga.
Akhirnya, Christ pun tetap meminta pertolongan Bagas, meski dia selalu menolak sejak awal.
Dengan bantuan Bagas dan semua tukang pukulnya, mungkin Christ akan lebih mudah menyelesaikan balas dendamnya sejak awal, tanpa perlu menyusun rencananya yang hanya berakhir sia-sia.
***
Tepat pukul 10 malam, penyerangan akan dimulai. Christ, Gun, dengan bantuan Bagas dan semua tukang pukulnya akan menyerang Miko dan menyelamatkan Asep dan anak buahnya.
Puluhan mobil Van panjang, serta truk-truk besar berdatangan di tempat Asep dan anak buahnya di culik.
__ADS_1
Tempat itu sendiri adalah sebuah gudang kosong dengan ukuran yang cukup luas. Gudang itu sendiri merupakan bekas pabrik yang telah lama tutup karena bangkrut.
Dipimpin langsung oleh Bagas, dan Christ yang menggunakan mobilnya sendiri dan dikawal dengan puluhan mobil Van dan Truk di belakangnya.