SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 033


__ADS_3

Di sebuah stand makanan di dekat taman kota Bekasi.  Hari itu sudah mulai sore menjelang petang. Banyak stand-stand makanan yang baru membuka tokonya dan beberapa pengunjung yang mulai berdatangan.


Christ dan Yuli berada di salah satu toko kedai makanan korea yang ada di tempat itu. Kedai makanan korea itu berbeda dengan stand makanan lainnya.


Pemilik kedai menggunakan mobil sebagai stand makanannya, dan menggunakan tenda atap yang terhubung dengan mobilnya, agar para pelanggan bisa berteduh dan memakan hidangan di bawah tenda itu.


2 mangkok toppoki dihidangkan untuk Christ.


“Terimakasih, Bibi.” Christ tersenyum pada pemilik kedai yang menghantarkan makanannya ke meja.


“Baiklah, mari kita segera menghabiskan ini.” Dengan sepasang sumpit, Christ mulai melahap hidangan makanannya.


Ponsel Yuli bergetar. Notif pesan masuk dari ponselnya. Pesan itu dari Lusi yang menyuruhnya untuk datang ke ruangan kerja Lusi malam ini juga.


Yuli tersenyum. Meletakkan kembali ponselnya di dalam tas, lalu segera menyantap hidangan yang ada.


“Orang seperti Jono bisa saja menjadi klien terbaik yang kita miliki. Anggaplah aku bisa membuktikan bahwa dia tak bersalah. Maka orang-orang di Bekasi akan mendengar berita besar itu.”

__ADS_1


Christ mengangkat sumpit, kembali membicarakan Jono. “Lalu, semua orang yang jahat dan kaya akan mengantri dengan kita dengan membawa banyak uang di koper mereka. Hahahahahaha.”


“Jadi, kau melakukan ini hanya karena uang dan publisitas?”  tanya Yuli ketus.


“Anggap saja begini, jika kita memenangkan kasus ini itu berarti kita sedang memenangkan sebuah lotre. Walaupun kita tidak menang, kita juga tak akan rugi karena kita sudah dibayar.”


Christ kembali melahap toppoki dengan sepasang sumpitnya.


“Astaga, ternyata kau lebih parah dari dugaanku.”


BRAK!!! Yuli menggebrak meja, lalu berdiri dari kursi.


Wajah Christ berubah merengut kesal. Dia mengambil beberapa lembar tisu dan membersihkan cipratan saus di jas nya.


“Apa menurutmu pengadilan itu tempat main lotre? Dan kau menganggap klien sebagai kantong uang tunai? Astaga.” Yuli mendengus kesal.


“Aku jadi tak tahu siapa yang lebih jahat. Seorang mantan Detektif yang membunuh walikota, atau pengacara tak bermoral sepertimu yang mencoba membuktikan bahwa detektif itu tak bersalah agar kau mendapatkan uang.”

__ADS_1


Yuli mengambil tas dan bersiap untuk pergi.


“Lantas, bagaimana dengan seorang pengacara yang memutuskan, siapa yang bersalah sebelum persidangan dimulai? Atau pengacara yang meninju hakim karena tak terima dengan keputusan akhir?”


Yuli tak bisa menyangkal lagi perkataan Christ. Dia kesal lalu berlalu pergi meninggalkan Christ.


“Ah, Sial! Hei, Yuli!! Setidaknya kau harus mencuci setelan ini.”


Yuli tak menghiraukan Christ. Dia terus berjalan cepat meninggalkan kedai.


“Coba saja jika dia tak cantik, aku pasti akan menghabisinya.”


Christ masih kesal dan membersihkan beberapa cipratan saus yang ada di jas nya.


***


Di kantor Lusi, terlihat Yuli yang sudah berada di ruangan menunggu kedatangan Lusi. Dia sudah rapi berganti pakaian sebelum dia datang ke kantor itu.

__ADS_1


Beberapa pajangan atas penghargaan yang diterima Lusi terpampang di setiap sudut ruangan pribadinya.


Yuli cukup dibuat terkagum saat melihat piagam dan penghargaan milik Lusi, saat dia melihat semua piagam itu. Dia selalu mendambakan menjadi seorang penegak hukum yang bisa menegakkan keadilan.


__ADS_2