SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 095


__ADS_3

Sebelum Pras menjawab, Asep telah membawa ibu Pras pergi dari tempat itu, agar dia tak mendengar apa yang dikatakan oleh Pras.


“Saya … memperkenalkan John, Si Pembunuh bayaran kepada seseorang hanya demi uang. Saya telah melakukannya, Yang Mulia Hakim.”


Christ menyeringai lebar mendengarnya. “Siapakah orang itu? Kepada siapa anda memperkenalkannya?” Menatap Lusi dan tersenyum sinis padanya.


“Dia adalah sekretaris sekaligus asisten pribadi ketua Miko, pemilih ASARON GROUP.”


Para penonton yang hadir saat itu bergunjing lirih satu sama lain saat mendengar pernyataan Pras. Lusi menggeleng kesal, sementara Sri masih berdiri dan tercengang.


Berbeda dengan Jono yang sangat senang saat Pras menyebut nama sekretaris Miko. Dia berharap segera bebas dari hukumannya.


“Saya tak menyangka jika dia akan membunuh walikota Joko, saya bersungguh-sungguh. Saya akui saya salah dan sangat menyesal telah memperkenalkannya.”


Mata Pras berkaca-kaca, kemudian mewek di atas kursi.


“Sekian, Yang Mulia Hakim,” ucap Christ. Sejenak dia menatap Lusi yang terlihat kebingungan, lalu kembali ke tempat duduknya.


“Baiklah, keputusan terakhir akan diumumkan di sidang berikutnya,” ucap Lusi.


Sidang pun telah usai! Beberapa penonton mulai berhamburan meninggalkan ruang pengadilan. Beberapa petugas juga mulai mengamankan seorang saksi dan terdakwa.

__ADS_1


Begitupun dengan Christ yang segera pergi dari ruang itu dengan Yuli.


“Astaga, ternyata seorang gembong pun ingin menjadi putra yang baik bagi ibunya,” ucap Yuli.


“Tentu saja, karena kita semua pasti punya orang yang sangat ingin kita lindungi. Akan tetapi, aku sendiri gagal dan tak bisa melindungi ibuku,” ucap Christ lesu.


Yuli tersenyum dan berkata, “Baiklah, mari kita mencari makan siang. Aku yang akan mentraktirmu kali ini.”


“Sungguh?”


“Tentu saja. Kenapa? Apa kau tak mau? Tak apa jika kau tak mau.”


“Hei, hei. Tunggu dulu. Tentu saja aku mau.” Christ pun berjalan cepat mengikuti Yuli yang berjalan lebih dulu.


Di ASARON GROUP, Miko, Roy, bersama asistennya sedang berkumpul. Miko dan Roy masih menggunakan rompi biru dongker untuk para tim sukses kampanye walikota.


Asistennya menghadap memberitahukan apa yang baru saja terjadi di persidangan.


“Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu seperti itu?” Miko menuangkan minuman Whiskey ke dalam slokinya.


“Di persidangan tadi, Si Gembong itu menyebut namaku, Pak Ketua.”

__ADS_1


pyar!!!!  “CHRISTIANTO!!!!!”  Miko berteriak kencang, membanting gelas slokinya. “Sial, apa dia sedang menggali kuburannya sendiri? Apa yang dilakukannya hingga membuat Si Gembong itu berbicara?”


“Maafkan aku, Pak Ketua.” Si Asisten membungkuk.


“Sampai masalah ini teratasi, aku tak ingin melihatmu lagi. Pergilah ke tempat sejauh mungkin yang kau bisa dan tetaplah bersembunyi. Aku akan memberimu uang untuk hidupmu selama satu tahun penuh.”


“Baik, Pak Ketua!”


“Bergegaslah! Rapikan semua barangmu, lalu pergi dari sini, sebelum para penyidik kejaksaan datang kemari.”


Si Asisten pun segera berbalik, lalu pergi dari ruangan Miko.


“Pak Ketua, izinkan aku untuk mengurus ini. Aku akan menghabisi Christianto untukmu,” ucap Roy.


BUK!!!!! Miko menendang tulang kering Roy dengan sepatu semi boots miliknya. Sepatu itu terbuat dari bahan yang cukup kuat, hingga terdengar begitu nyaring saat mengenai tulang kering Roy.


Roy kembali tersungkur dan mengaduh kesakitan. “Astaga, ternyata kau masih saja bodoh. Yang terpenting sekarang ini bukan melukai Christianto, tapi aku harus menang menjadi walikota. Itulah yang lebih penting.”


“Baiklah, aku paham, Pak Ketua.” Roy berusaha berdiri meski kesakitan.


“Setelah aku terpilih sebagai walikota, aku akan lebih mudah untuk membunuh Christianto, kau mengerti?” Miko menegak Whiskey langsung dari botolnya.

__ADS_1


“Baik, Pak Ketua. Aku mengerti.”


__ADS_2