SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 009


__ADS_3

“Begini, Paman. Aku ingin membuka firma hukum sendiri di Bekasi.”


“Apa menurutmu ini waktu yang tepat, Christ? Kau benar-benar akan mencari seseorang yang telah mencelakai ibumu?” Bagas menyalakan satu batang cerutu dan menghisapnya.


Christ mengambil mengeluarkan buku catatan kecil yang diterimanya tadi pagi. “Seseorang telah mengirimkan ini padaku.”


“Hmmm. Gara-gara berita yang belum pasti ini, kau ingin pindah ke Banten?” Bagas membuka dan melihat isi buku catatan itu.


“Tidak, bukan cuma itu alasannya,” jawab Christ.


“Lalu apa?” Bagas mengembalikan buku catatan itu. “Apa karena wanita itu? Astaga, sulit dipercaya. Kau langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.”


Christ menyeringai lebar, tak menjawab apapun. Dimana dia tahu bahwa tempat tinggal Yuli yang juga berada di Banten.


Christ yakin bahwa Yuli akan pulang ke kampung halamannya setelah dipecat dari Firma Hukum Pengadilan Tinggi.


“Hahahaha. Terserah kau saja, Christ.” Bagas meneguk satu sloki penuh sekali tegukan.


“Bawalah beberapa anak buahku. Aku akan menyuruhnya untuk mengawalmu. Di Banten juga ada beberapa markas tempat anak buahku tinggal. Kau bisa meminta bantuan kepada mereka, tak perlu sungkan.”

__ADS_1


“Terimakasih banyak atas tawaranmu, Paman, tapi aku akan pergi sendiri. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu selama bertahun-tahun.”


“Ah, sial! Ternyata kau sangat kepala, mirip sekali dengan mendiang Ibumu.”


Christ hanya tersenyum kecil. Menuangkan whiskey di gelas Bagas, lalu bersulang bersama.


***


Pagi-pagi sekali, daerah Jabodetabek telah dipenuhi dengan kabut tebal.  Kabut tebal itu terjadi karena suhu yang turun drastis saat tadi malam.


Kabut-kabut itu memenuhi jalan raya, pegunungan, dan bahkan menutup sebagian gedung pencakar langit yang ada.


Selama di dalam mobil, Guntur membuka kaca jendela mobil dan kagum melihat kabut tebal yang menurutnya indah.


“Omong-omong, Bos. Aku belum pernah melihat kabut sebagus dan setebal ini sebelumnya. Wah, ini sudah seperti di surga.”


Christ tersenyum kecil tak menjawab. Sesekali dia melirik Guntur yang masih melihat keadaan di luar dengan tatapan iba.


Guntur adalah potret dari seseorang yang tak pernah menikmati hidupnya di alam luar. Ibunya telah meninggal karena dibunuh oleh Bos Gangster yang pernah meminjamkan uang pada Guntur.

__ADS_1


Karena saat itu dia tak memiliki apapun, akhirnya terpaksa dia membunuh Si Bos Gangster dengan meracuni minumannya. Dengan itu, dia menyerahkan dirinya ke kantor polisi.


Lebih baik baginya untuk mendekap di kantor polisi daripada dia harus dibunuh oleh antek-antek Bos Gangsternya dulu.


Dia mendekap di penjara sejak remaja dan baru dibebaskan satu tahun yang lalu, karena Christ lah yang menolongnya saat itu.


Sejak saat itu, Guntur telah berjanji  untuk mengabdikan diri pada Christ dan bersedia membantu Christ, dalam situasi apapun.


“Saat ibuku telah tiada, waktu dan hidupku telah berhenti sejak itu,” gumam Christ dalam hati.


Terjadi kemacetan di jalan raya. Hal itu membuat Christ kembali mengingat masa lalu yang pahit bersama ibunya.


Ibu Christ pernah berpesan padanya, untuk jangan pernah kembali lagi ke Bekasi, dan jangan pernah mempercayai siapapun orang ada di kota itu.


Akan tetapi, Christ telah mengingkari pesan ibunya sendiri. Dia harus kembali ke kota kelahirannya dan menyelidiki apa yang telah membuat ibunya terbunuh.


Karena kondisi jalanan yang cukup padat karena macet, Guntur menyalakan fitur pemutar radio di dalam mobil.


Seorang penyiar radio menyiarkan berita yang menarik di pagi itu. Dia mendatangkan seorang Hakim wanita hebat yang terkenal di kota Bekasi. Hakim itu bernama Lusi.

__ADS_1


__ADS_2