
Mereka menjadi pusat perhatian para napi yang sedang menyantap sarapan pagi.
“Sial! Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin mati?” Gun berdiri paling depan. Dia tak terima dengan perlakuan Agus kepada Christ.
Lagi-lagi Christ menenangkannya agar Gun kembali ke tempat duduknya.
Saat Agus akan pergi, Christ kembali menghalanginya. “Direktur Agus, laporan itu kau sendiri yang menulisnya, bukan?”
“Apa maksudmu, Berandal?”
“Kau yang membuat laporan atas kejahatanmu sendiri, maka itu kau berada di penjara ini. Kau melakukan itu agar kau bisa hidup, karena, jika kau masih berkeliaran di luar, maka ada beberapa orang yang akan membunuhmu.
Akan tetapi, apa kau pikir kau bisa bersembunyi dengan aman di tempat kotor ini? Menurutku, akan lebih banyak lagi orang yang bisa membunuhmu dengan leluasa di tempat kotor ini,” ucap Christ serius.
Sejenak Agus terdiam dan memikirkan ucapan Christ. Dia pun segera pergi dari kantin saat itu juga.
Christ, Gun, Asep dan anak buahnya kembali melanjutkan sarapan yang sempat tertunda.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, datanglah Jono menghampiri meja Christ. Dia membawa jatah makannya, lalu duduk satu meja dengan Christ.
“Kukira, kau akan mengeluarkanku dari tempat ini, tapi, malah kau dan anak buahmu yang mendekap disini,” ucapnya ketus.
“Apa kau tak bisa melihat, atau berpikir, bahwa aku sedang menyusun rencana untuk mengeluarkanmu dari sini?”
Jono mendengus. “Apa maksudmu?”
“Aku tahu kau bodoh. Kalau kau tak tahu,ya sudah, makan saja makananmu. Tak usah banyak bicara.” Christ menunjuk Jono dengan garpu dan sendoknya.
“Omong-omong, wanita yang datang bersamamu tempo hari. Namanya Yuli, bukan? Dia pernah mengunjungiku sendirian. Bukankah dia juga seorang pengacara? Kenapa kau mencari paralegal yang berprofesi sebagai pengacara?”
“Terserah apa katamu saja. Yang penting, kau harus cepat mengeluarkanku dari tempat ini. Kau sudah berjanji itu.”
Christ hanya tersenyum kecil, lalu menyantap sarapannya hingga habis.
Tepat pukul 9 pagi. Semua napi sudah usai menyantap sarapan. Mereka semua segera kembali ke selnya masing-masing, dan menyibukkan dirinya di dalam sel.
__ADS_1
Beberapa napi juga pergi ke lapangan olahraga yang ada untuk berjemur dan bermain bola kaki, dan senam kecil-kecilan.
Christ bersama orang-orangnya duduk di pojokan. Mereka semua sudah seperti geng yang menguasai seluruh penjara itu.
Dari sudut lapangan, Christ melihat Agus yang sedang berjemur dan berlarian kecil, bolak-balik. Sekitar 4 orang dari napi secara tiba-tiba menghampiri Agus.
Keempat napi itu langsung menyudutkan Agus, lalu memukulnya bak samsak. Agus pun tersungkur, dia tak mampu melawan keempat para napi itu.
Mereka berempat masih saja menendang dan menginjak Agus yang sudah meringkuk tak berdaya di tanah. Beberapa sipir yang berada di tepi lapangan pun juga menghiraukan kejadian itu.
“Semuanya, ayo kita selamatkan dia,” seru Christ.
BAIK BOS
Guntur, Asep, dan sembilan anak buahnya segera menyerbu keempat napi yang memukul Agus. Keributan pun berlangsung.
Keempat orang itu terkapar saat anak buah Asep mengeroknya satu persatu. Sementara Christ dan Gun membantu Agus berdiri, lalu membopongnya keluar dari lapangan.
__ADS_1
Kondisi Agus sudah tak karuan lagi. Wajahnya babak belur, jidat dan matanya sedikit bengkak, bibir dan pelipisnya mengeluarkan darah, dia berjalan dengan pincang karena dikeroyok oleh keempat napi tadi.