
“Saya baru bisa meuakinkan Saksi kemarin malam, dan saya juga baru menemukan rekaman ini 30 menit sebelum sidang berlangsung. Aku minta maaf karena tidak memberitahu sebelumnya.”
“Yang Mulia Hakim, bukti ini tetap tidak bisa diterima.” Sri tetap tak ingin mengalah. Dia berbicara dengan nada tinggi dan menggebu-gebu
“Kenapa anda tak melihat dulu rekaman ini, Yang Mulia Hakim?” Christ masih terlihat tenang dan menyangkal semua yang dikatakan Sri, sebagai Jaksa penuntut.
“YANG MULIA HAKIM!!!” seru Sri tak terima.
Disaat perseteruan berlangsung, Christ melihat Miko dan asistennya yang pergi meninggalkan ruangan sidang. Christ menatap Gun, lalu memberinya kode untuk mengikuti kemana Miko dan asistennya pergi.
Christ tahu bahwa Miko akan menyuruh asistennya untuk bertindak setelah melihat sidang yang masih berlangsung.
“Baiklah, aku sudah memutuskan. Rekamannya tidak akan diputar sekarang, tapi saya akan menerima deskripsi isinya dahulu,” ucap Lusi.
Christ menyeringai lebar. Dia mengedipkan satu matanya pada Sri yang menatapnya dengan ketus, dan kembali ke tempat duduknya.
Segera Christ memberikan beberapa foto yang telah dicetak dari rekaman di warnet kepada Lui.
“Setelah memeriksa keabsahan rekamannya, saya akan memutuskan rekaman ini layak atau tidak untuk menjadi barang bukti. Biarkan saya memeriksa rekamannya terlebih dahulu,” lanjutnya.
__ADS_1
***
Tepat pukul 10 pagi, persidangan telah berakhir. Semua orang telah membubarkan dirinya masing-masing, menunggu sidang berikut, sembari menunggu Lusi memeriksa keabsahan dari bukti rekaman.
“Sepertinya terlalu cepat bagi kita untuk merayakan kemenangan di sidang ini,” ucap Christ.
“Rekaman itu mungkin sedikit buram, tapi aku yakin itu bisa diandalkan dan dapat diperjelas. Aku yakin pasti Hakim Lusi akan menyetujui rekaman itu,” sahut Yuli.
Mereka berdua berjalan menuju halaman pengadilan tinggi.
“Aoa kau belum pernah tahu, ada orang yang dibebaskan karena pernyataannya tidak bersubjek?” tanya Christ. “Persidangan belum usai sampai benar-benar usai. Yang harus kita lakukan saat ini adalah, menemukan pembunuh sebenarnya.”
“Ya, pembunuh walikota Joko yang sebenarnya. Satu-satunya cara agar kita menang dalam persidangan ini adalah dengan membuat pembunuh sebenarnya hadir di dalam sidang,” jelas Christ.
Yuli mendengus. “Christianto, kau adalah seorang pengacara, bukan seorang detektif ataupun polisi. Bagaimana kau akan melakukan itu?”
“Aku punya mereka.” Christ menatap Gun, Asep dan semua anak buahnya yang berjalan mendekat.
“Bos, aku sudah memasang gps di mobil asisten Miko. Sekarang dia mulai bergerak ke suatu tempat,” ucap Gun.
__ADS_1
“Bagus sekali, Gun.” Christ mengacungkan jempolnya.
“Rupanya dia sudah terburu-buru karena aku sudah menyelesaikan sidang ini. Dia pasti mengira kalau aku akan bertindak untuk itu.” Christ menyeringai lebar.
“Gps? Apa kalian membuntuti seseorang?” tanya Yuli yang tak mengerti.
“Sudahlah, kau akan tahu sendiri nanti. Ayo kita pergi dulu.”
“Gun, kau sudah menyiapkan mobil lain, bukan?”
“Sudah, Bos. Aku memarkirkannya tepat disamping mobilmu.”
“Baiklah, Kau, Asep, paralegal Yuli akan ikut denganku ke lokasinya.”
“Lalu, kalian bisa pulang ke kantor lebih dulu. Kalian juga boleh bawa mobilku.” Christ melempar kunci mobilnya ke anak buah Asep.
Mereka semua saling berebut kunci mobil itu, karena sangat ingin mengendarai mobil mewah milik Christ.
Asep, Gun, Yuli, dan Christ bergegas menuju mobil SUV yang telah disediakan Gun, lalu menuju ke lokasi.
__ADS_1
Gun duduk di kemudi mobil. Asep di sebelahnya. Yuli dan Christ duduk di bangku belakang.