SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 021


__ADS_3

“Astaga. Sepertinya bocah itu tak mempercayai omonganku.” Ketua preman itu kembali berdiri dan mematikan lampu utama ruangan. Kini hanya lampu kuning remang-remang yang menyinari ruang utama.


“Baiklah, Nak. Aku akan hitung sampai 3, kau harus keluar jika tak ingin terjadi sesuatu pada ibumu. Satu, dua….”


BRAKK!!! “Apa yang kau lakukan pada ibuku?” Dengan gagah dan berani, Christ kecil keluar dari lemari dan melemparkan potongan kayu ke lantai, tempat ketua preman itu berdiri.


“CHRIST!!!” Lili beranjak dari sofa dan langsung memeluk Christ dengan erat.


Dua orang dari preman itu langsung berusaha memisahkannya.


“Lepaskan, aku! Hentikan! Lepaskan aku, Brengsek!” Ibu Christ meronta-ronta, berusaha melepaskan dirinya dari salah satu preman yang masih memegangnya.


Sementara Christ kecil hanya bisa memukuli perut salah satu preman lagi yang masih memegangnya.


“Lepaskan dia!” Ketua preman menyuruh anak buahnya untuk melepaskan Christ. Dia berjongkok dan berbicara pada Christ. “Rupanya kau anak yang sangat pemberani, Nak. Aku salut padamu.”


“Jangan sentuh dia!!!” tegas Lili.

__ADS_1


“Astaga, jika dilihat dari dekat, kau juga cukup imut dan tampan.” Ketua Preman mentoel pipi Christ.


“JANGAN SENTUH DIA!!!” Ibu Christ berteriak Dia menangis terisak-isak dan meronta-ronta saat ketua preman itu menyentuh anaknya.


“Aku akan bertanya padamu untuk terakhir kalinya. Dimana kau sembunyikan memory card itu?”


“Aku tak tahu!” jawab Lili ketus.


“Ah, baiklah.” Ketua preman berdiri dan mengelus rambut Christ. Sebuah pisau lipat dikeluarkannya dari dalam saku, lalu menempelkannya ke leher Christ.


“Kalau begitu, apa kau mau menukar kartu memori itu dengan nyawa anak ini? Aku yakin anak kecil ini tidak tahu apapun.”


Kedua preman melepaskan tangan Lili. Dia menuju meja kantor tempat Christ berdiri di sebelahnya, lalu mengambil memori kecil yang diletakkannya di bawah alas laptop. Meletakkan memori itu ke atas meja.


Kedua preman kembali memegang kedua tangan Lili, agar dia tak bisa lari.


“Astaga, sial! Seharusnya kau memberikan itu dari tadi.” Ketua preman itu mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang yang telah memberinya perintah.

__ADS_1


“Aku sudah mendapatkan kartu memorinya, tapi, apa yang harus kulakukan pada wanita ini? Dia sedang bersama putranya disini.”


Saat ketua preman itu sedang fokus berbicara di telepon, dengan lincah Christ kecil menyaut memori kecil itu dengan tangan kanannya, mengunyah memori itu, lalu menelannya ke dalam perut.


Lili sungguh tak menyangka dengan apa yang dilakukan Christ.


“Hei! Hei Hei!” Ketua preman meletakkan ponselnya dan menatap Christ. “Kau menelannya? Buka mulutmu!”


“Singkirkan tanganmu!” Christ menangkis tangan ketua preman yang memegang pipinya.


“Astaga, Bu Lili, ternyata anakmu sangat luar biasa. Mana bisa aku menunggu hingga dia BAB dan mengeluarkan memori itu. Bukankah aku harus membedah perutnya sekarang?”


“Tidak… Jangan.. Jangan lakukan itu…..!! Lepas!!!” Lili merengek saat melihat pisau lipat yang ditodongkan ketua preman itu pada Christ.


Dengan sekuat tenaganya, Lili meraih tangan kiri ketua preman, agar dia tak menusuk anaknnya. Begitupun dengan Christ yang berusaha melepaskan leher dari ketua preman yang mencekiknya dengan  tangan kanannya.


Ketua preman itu melepaskan Christ, memegang Lili, lalu menusuk perut bagian atas Lili.

__ADS_1


SLEB!!!


“IBU!!” Christ mematung tak bisa berbuat apapun. Christ melangkah mundur mendekati pintu keluar.


__ADS_2