SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 026


__ADS_3

“Bukan, aku tidak mau menjadi pembantu pengacara mu. Aku hanya ingin melunasi hutang ayahku dan aku juga tak tertarik dengan asrama atau percintaan di dalam kantor.”


“Asrama di kantor? Wah, itu terdengar menarik. Itu akan menjadi cerita yang bagus jika di tulis di dalam Novel Romance.” Christ tersenyum lebar. Respon ketus yang diberikan Yuli membuatnya lebih tertarik pada Yuli.


“Sepertinya, kau pasti masih menganggap bahwa firma hukum yang kubuat adalah sebuah kantor pinjaman swasta ilegal. Itu tidak seperti yang kau pikirkan,” lanjut Christ.


“Secara pribadi, aku sangat benci seorang pengacara jahat yang berpura-pura baik sepertimu, tapi, kenapa kau malah menggodaku?”


Langkah mereka terhenti di depan pintu gerbang masuk ke dalam sel penjara.


“Hmm, entahlah. Mungkin karena kau meninju hidungku.” Christ menyentuh hidungnya. “Sejak saat itu, aku merasa nyaman saat berbicara denganmu, dan sepertinya, chemistry kita sudah sangat bagus.”


“Ah, terserah kau saja.”


Seorang penjaga pintu masuk membukakan pintu, dan Yuli menyerobot masuk lebih dulu.


Salah satu sipir langsung mengarahkan mereka berdua ke tempat kunjungan para pengacara dan kliennya.


“Terimakasih, Pak!”

__ADS_1


“Sama-sama, Tuan.” Sipir pergi meninggalkan ruangan.


Mereka berdua duduk dan menunggu seseorang yang akan ditemuinya.


“Kasus ini mungkin terlalu mudah bagimu, Asisten Yuli. Akan tetapi, ada 3 point yang membuat kasus ini lebih rumit,” jelas Christ.


Yuli mendengus. “Apa katamu? Asisten?”


“Point pertama, sudah ada pengacara tersendiri yang ditugaskan untuk kasus ini, yang akan membela orang yang kita temui hari ini.”


“Aku bukan pengacara yang suka mencuri kasus orang lain. Kenapa kau merebut kasus orang lain?” sahut Yuli.


“Point kedua. Jaksa yang menangani kasus ini adalah Jaksa Sri, yang memiliki tingkat kemenangan tertinggi di pengadilan tinggi Bekasi.”


“Aku tahu poin kedua, dan aku tidak bisa membantahnya.”


Sri adalah teman lama Yuli, dia pasti tahu kemampuannya saat menjalankan sidang. “Lantas, apa point ketiga?”


“Yang ketiga adalah Hakim utama yang akan memimpin sidang. Dia adalah Haki Lusi. Hakim terbaik dan tersohor di Kota, bahkan di seluruh Jabodetabek.”

__ADS_1


“Sungguh?” Lusi tak menyangka. “Ah, rupanya ini adalah salah satu kasusnya, tapi, apa kejahatan yang dilakukan terdakwa?”


“Pembunuhan.” Christ menunjukkan selembar berkas. “Kasus pembunuhan Wali Kota Bekasi yang dibunuh oleh seorang mantan detektif,” jelasnya. “Lihat itu dan bacalah.”


Yuli mengambil beberapa berkas, dan mulai membaca kasusnya, sembari menunggu tahanan yang akan menemui mereka.


“Kenapa kau menangani kasus ini?” tanya Yuli sambil membaca. “Bukankah disini semua buktinya sudah jelas?”


Christ menatap Yuli dan menjawab, “Kukira kau tidak tertarik, itu berarti kau sudah mengetahuinya.”


“Apa kau berhutang sesuatu pada klien ini?”


“Berhutang.” Christ melamun sejenak. Dia tak mungkin memberitahukan apa yang sebenarnya direncanakan olehnya, dan mengatakan bahwa detektif itu berkaitan tentang kematian ibunya.


Belum saatnya bagi Christ untuk mengatakan hal itu pada Yuli.


Suasana ruangan itu hening sejenak. Beberapa saat kemudian, seorang pria paruh baya datang memasuki ruang kunjungan. Salah satu sipir mengantarnya memasuki ruangan itu.


Sipir itu langsung pergi begitu tahanan itu memasuki ruangan.

__ADS_1


Memakai baju tahanan berwarna hitam, dengan cara berjalan yang sedikit pincang. Dia adalah Jono, seorang mantan detektif yang terdakwa telah membunuh wali kota Bekasi.


__ADS_2