
“Sebenarnya tidak juga. Dia datang ke kantor ini bersama Manajer Gun dan bertemu denganku, tapi itu sama saja. Dia pun berkata bahwa dia harus menggunakan tempat ini untuk…”
“Hei! Sudah cukup! Lanjutkan bersih-bersih, Sep! Lihat itu! Mejanya masih sangat kotor.” Gun menarik kerah kaos Asep karena dia terus menorocos. “Aku tak akan memberikanmu upah jika ruangan ini tak bersih,” tegas Gun.
“Astaga, kenapa kau tega sekali, Manajer Gun.” Asep pun kembali mengambil lap dan membersihkan beberapa perabot yang kotor.
Kembali buntu! Yuli tak mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang ada di dalam benaknya. Dia menuju ke meja kerja Christ lalu menyalakan komputer.
Beberapa saat kemudian, Yuli pun bergegas pergi setelah melihat layar komputer. Dia terlihat tergesa-gesa meninggalkan kantor.
Saat Yuli pergi, Gun segera memeriksa komputer yang masih menyala. Melihat history riwayat pencarian di internet. Ternyata Yuli telah mencari berita 20 tahun lalu.
Seorang wanita yang menjadi saksi dan dinyatakan bunuh diri karena menganggap pengadilan tidak adil. Gun pun segera menghubungi Christ saat melihat itu.
“Astaga, Bos. Dimana kau? Kenapa kau tak mengangkat panggilanku?” Beberapa kali Gun mencoba menghubungi Christ, tapi Christ menolak panggilan darinya.
__ADS_1
Dan ternyata Christ sendiri berada di rumah studio milik Ayah Yuli. Mereka berdua duduk di kursi kayu saling berhadapan.
“Ehem. Pengacara Christ, aku akan segera melunasi semua hutang-hutangku. Kau tak perlu memotong bunga yang telah menumpuk. Aku berjanji aku akan membayarnya.”
“Aku tak ingin melihat putriku yang malang bekerja denganmu, karena aku ayahnya yang tidak becus.”
Dari perkataan itu Christ pun sudah menebak bahwa Ayah Yuli tak ingin Yuli bekerja dengan Christ lagi.
“Anda tak perlu khawatir, Paman. Yuli akan dipekerjakan lagi setelah hukuman skors dia telah usai.” Christ mencoba memberi pemahaman.
“Tidak, bukan seperti itu maksudku, Pengacara Christ.” Ayah Yuli menggeleng. “Aku hanya ingin dia berhenti bekerja denganmu besok hari.”
“Saat peresmian patung milik Ayah Hakim Lusi, aku juga berada di sana saat itu, dan aku melihat kau sangat kurang ajar dan kelewatan saat itu. Aku sungguh kecewa padamu, Pengacara Christ.”
“Keluargaku sangat berhutang budi pada keluarga Hakim Lusi. Jika putriku Yuli terus bekerja denganmu, itu akan membuatku sangat tidak nyaman. Baiklah, mungkin itu saja yang ingin kusampaikan padamu.”
__ADS_1
Christ hanya diam, dan tak menunjukkan ekspresi apapun, karena Ayah Yuli memang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Baiklah, Paman. Jika anda berkehendak seperti itu, maka langsung saja tanyakan pada putri anda. Jika dia memang ingin berhenti bekerja denganku, aku tak akan melarangnya untuk berhenti. Aku permisi dulu.”
Christ pun berdiri, lalu pergi dari studio itu.
***
Berpindah di Jakarta di sebuah pusat kebugaran GYMNASIUM milik Bagas. Jauh-jauh Yuli pergi ke Jakarta hanya untuk bertemu dengan Bagas saat itu juga.
Beberapa tukang pukul yang menjaganya menyamar sebagai para pelanggan tetap yang pergi ke GYMNASIUM pusat kebugaran miliknya sore itu.
Mereka berdua mengobrol bersama di teras lantai dua. Menatap orang yang datang dan pergi ke pusat kebugaran dari balkon.
Yuli pun masih menyangka bahwa Bagas adalah salah satu pengusaha yang pernah mempekerjakan Christ sebagai pengacaranya.
__ADS_1
“Astaga, bukankah indah melihat pemandangan dari tempat ini?” ucap Bagas. “Dulunya aku hanyalah seorang preman yang sangat suka berolahraga, maka itu aku membangun pusat kebugaran ini.”
“Sejak Christ menjadi kuasa hukum anda, aku mungkin bisa menebak jika semua keinginan anda bisa tercapai dengan mudah. Meskipun dengan cara yang sepertinya tak melanggar hukum menurutnya.” Yuli tersenyum.