
Konon Hakim Sulistyo sangat dikagumi oleh semua warga kota Bekasi karena keadilannya dalam menegakkan hukum saat beliau masih hidup.
Lusi membungkuk dan tersenyum kepada para tamu undangan yang datang saat itu.
“Hadirin sekalian! Lihatlah patung itu, seolah-olah Hakim Sulistyo masih hidup dan sehat yang telah kembali ke Bekasi! Berilah tepuk tangan yang meriah sekali lagi untuk Hakim Lusi!!!” Miko berseru menggebu-gebu.
Para tamu undangan pun kembali duduk saat Lusi berdiri di atas mimbar untuk menyampaikan beberapa pesan.
“Hakim Sulistyo, mendiang ayah saya, hanya tahu tentang hukum, keadilan, dan keputusan yang bijak. Selain tiga hal tersebut, dia tidak tahu apa-apa. Beliau juga menuntut hal yang sama dari saya, saat saya masih muda.
Dia berpesan bahwa, seorang hakim seharusnya tidak memperdulikan hal lain, selain keadilan itu sendiri. Gelar, jabatan, dan kekuasaan, sangatlah tidak berarti apa-apa baginya.
Beliau juga mengajariku untuk memperhatikan orang yang tak berdaya dan lemah.”
Berapa reporter dan wartawan yang hadir saat itu terus sibuk dengan kamera. Mengambil foto dan video atas ucapan Lusi.
“Sebagai anak yang berbakti, saya selalu berusaha mengikuti ajarannya. Saya hanya melakukan apa yang benar, namun tak kusangka bahwa hadirin sekalian memuji saya sebanyak ini.”
Mata Lusi berkaca-kaca, dan beberapa yang menetes. Miko dengan tanggap, memberikan kain kacu pada Lusi.
Tepuk tangan meriah kembali terdengar dari seluruh tamu undangan.
Dan saat tepuk tangan meriah itu terhenti, Christ, Gun, Asep, dan Yuli datang ke pengadilan itu. Terlihat juga Pras yang berhasil ditangkap oleh Christ. Asep dan Gun menyeret Pras dengan kondisi yang cukup babak belur.
__ADS_1
Segerombolan mereka berjalan di atas karpet merah menuju ke depan mimbar panggung. Membuat suasana semakin tak kondusif.
Apa-apaan ini? Mau apa mereka disini? Apa yang terjadi? Apa yang mereka lakukan di upacara peresmian?
Para tamu undangan mulai bergunjing satu sama lainnya melihat kejadian itu.
Begitupun Miko dan Lusi yang sangat geram melihat kedatangan Christ yang berhasil membawa satu-satunya bukti yang tersisa.
“HADIRIN SEKALIAN!” seru Christ. Dia berdiri di atas panggung, membelakangi Lusi, menatap semua tamu undangan yang hadir saat itu.
“Aku ingin meminta waktu kalian sebentar saja. Senang bertemu dengan kalian semua. Sebelumnya, izinkan aku memperkenalkan diri. Aku Pengacara Christianto. Aku datang kemari untuk memberitahu kalian sesuatu.
Maafkan aku jika sikapku sedikit lancang.” Christ berbalik menoleh pada Lusi yang masih berdiri di mimbar tempatnya berpidato.
“Jaksa Sri, dia adalah salah satu gembong perdagangan manusia yang telah memperkenalkan Si Pembunuh Bayaran yang telah mati itu kepada dalang pembunuhan walikota Joko.” Christ menunjuk pada Pras
Semua hadirin kembali bergunjing satu sama lain. Terkejut dengan pernyataan Christ.
“Mulai saat ini, tugas Jaksa Sri-lah untuk mengungkap kebenarannya. Aku menyerahkannya padamu.” Christ tersenyum lebar pada Sri.
Gun dan Asep langsung mendorong Pras tepat di hadapan Sri yang saat itu berada di barisan paling depan.
Beberapa detektif dan penyidik dari kejaksaan langsung membawa Pras pergi dari tempat itu. Para tamu undangan mulai meninggalkan teras kejaksaan, beberapa dari mereka yang masih menetap di tempat itu.
__ADS_1
Peresmian patung Hakim Sulistyo telah kacau balau dibuat oleh Christ. Hanya dia seorang yang berani melakukan itu di Bekasi.
“Hei, Christianto!” Miko berjalan mendekati Christ. Berbisik lirih. “Sepertinya kau semakin berani. Rupanya, kau tumbuh dengan baik.”
Christ mendengus. “Ah, kau sudah mengingatku rupanya.”
“Jika kau mau hidup lebih lama di kota ini, kusarankan padamu jangan banyak bertingkah.”
Christ hanya diam membalasnya dengan tersenyum kecil.
Miko beranjak ke mimbar, lalu membawa Lusi pergi dari mimbar itu. Sejak kedatangan Christ, Lusi hanya diam tak bisa berkata-kata. Amarah menguasai dirinya, karena Christ telah merusak acara peresmian patung milik ayahnya itu.
Melihat Lusi dan Miko pergi, Christ pun mengikutinya.
“Sudah cukup, Christ.” Yuli berlari dan menahan tangan Christ.
“Dengarkan aku, Yul. Mulai sekarang, kau harus mempersiapkan mentalmu jika kau tetap ingin bekerja denganku,” tegas Christ. Dia kembali melangkah mengikuti kemana Miko dan Lusi pergi.
“Tunggu, Christ. Apa alasan kau melakukan semua ini?” Yuli berdiri di hadapan Christ kembali menghalanginya. “Aku yakin pasti ada cara lain untuk …..”
Perkataan Yuli tak selesai saat melihat Christ yang terus memelototinya. Kedua kalinya Yuli melihat tatapan Christ yang sangat berbeda dari biasanya.
Saat dia menghajar Si Pembunuh Bayaran dengan membabi buta, dan saat ini yang sedang dilihatnya.
__ADS_1
Yuli pun hanya diam dan membiarkan Christ berlalu pergi.