
“Sulit untuk mengenali dan membuktikan bahwa orang yang ada di dalam rekaman itu adalah Jono. Karena kami tidak bisa membuktikan identitas pria itu, dari itu lah rekaman ini tidak diterima,” lanjutnya.
“Astaga, Hakim Lusi!” seru Christ. “Apa kau masih membiarkan Si Hakim Cabul ini juga ikut memutuskan hasilnya? Tak kusangka kau masih mempekerjakan Si Hakim Cabul ini. Ckckckckckckck.”
“Satu hal lagi, tidak ada perubahan Majelis Hakim. Kejahatan yang kau tuduhkan terhadapanya tidak dapat dikonfirmasi, jadi, tidak ada alasan mengeluarkan dia dari Majelis Hakim. Sekian, sampai ketemu nanti di sidang berikutnya.”
“Hahahahahahaha.” Christ terkekeh dengan keputusan konyol dari Lusi.
“Berarti, tak ada gunanya juga membantah analisis rekaman dari para ahli, bukan? Masalahnya, bukan terletak pada kecukupan bukti yang kumiliki. Akan tetapi, kau sendirilah yang tak mau menerima bukti yang ku miliki.”
“Pengacara Christianto! Sepertinya aku harus memberimu peringatan,” tegas Lusi karena Christ menertawakan keputusannya.
“Peringatan?” Christ mendengus.
“Jika kau terus menghina pengadilan dengan bukti palsu, dan saksi palsu maka aku tidak akan pernah membiarkan hal tersebut.”
“Hahahahaha. Bukti palsu dan saksi palsu?” Christ tersenyum kecil. “Kurasa anda terlalu menarik kesimpulan itu sendiri.”
“Jaga ucapanmu, Pengacara Christianto!” seru Si Hakim Cabul.
__ADS_1
“Astaga, apa sekarang kau menyerangku sebagai Hakim? Tarik kembali apa yang baru saja kau katakan sebelum kau ditangkap lagi,” tegas Lusi.
“Aku bisa memastikan pada sidang berikutnya, anda dan rekan anda Si Hakim Cabul ini tak akan bisa menolak bukti yang akan aku sajikan. Kalau begitu, aku permisi.”
Christ berdiri sedikit membungkuk, lalu pergi dari ruangan. Sri menghela nafas panjang. Menahan emosinya karena sikap Christ.
Sementara Sri, dia juga keluar dari ruangan dan menyusul Christ yang lebih dulu. Mereka bertemu kembali di lorong pengadilan.
“Situasinya sangat tidak menguntungkan bagimu sekarang. Akan tetapi, bagaimana bisa kau masih cukup terlihat tenang?” Sri berjalan disebelah Christ. Dia cukup kagum dengan sikap Christ yang sangat tenang, meski bukti yang dimilikinya tak diterima di persidangan mendatang.
“Bukankah seorang Jaksa juga harus tenang? Kenapa aku harus terlihat panik? Aku cuma lega saja karena persidangan terjadi sesuai dengan harapanku.”
“Miko, pemilik ASARON GROUP. Dialah yang menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuh walikota Joko, agar dia bisa menggantikannya menjadi walikota bekasi.
Ada juga salah satu proyek besar yang sempat tertunda yang akan dijalankan oleh Miko, SKY PENTHOUSE, itulah nama proyek besar itu. Miko sengaja membunuh walikota Joko karena dia tak menyetujui proyek itu.
Bagaimana? Apa teoriku masuk akal? Aku tahu pasti Miko adalah orang yang mampu melakukan hal seperti itu. Apa menurutmu aku cuma mengarang? Atau aku berkata sungguhan? Coba renungkanlah itu.”
“Tentu saja itu omong kosong,” seru Sri. “Kenapa kau memberitahuku bualanmu itu?”
__ADS_1
“Karena aku dan aku adalah musuh yang saling bersaing demi kebenaran, bukan begitu?”
Christ tersenyum, lalu beranjak pergi dari lorong pengadilan.
Di halaman pengadilan, Christ menelpon Gun. Menanyakan keberadaan Yuli yang tak bisa dihubungi sejak tadi.
“Halo, Gun. Apa paralegal Yuli ada di kantor?”
“Tidak ada, Bos. Pagi-pagi sekali, dia datang ke kantor sebentar, lalu pergi ke NUSAKAMBANGAN. Sepertinya dia ingin mengunjungi Jono.”
“Apa dia pergi sendiri?”
“Ya, aku melihatnya pergi dengan taksi. Kenapa memangnya? Apa ada masalah?”
“Baiklah, Gun. Kututup dulu teleponnya.”
“Baik, Bos.”
Christ pun segera kembali ke mobilnya. Bergegas pergi ke NUSAKAMBANGAN. Dia terlihat sangat khawatir dengan Yuli, bila Jono mengatakan sesuatu padanya.
__ADS_1