SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 048


__ADS_3

“Tentu, kau benar. Tentu saja aku tahu,” seru Gun. Dia tersenyum tipis dan tetap percaya diri dengan apa yang dilakukannya.


Sri melangkah mendekati Guntur dan membuka kemeja bagian atas milik Gun. Tato bergambar macan pun terlihat memenuhi dada kiri Gun.


Sri mendengus. “Lihatlah ini, ini bukanlah tubuh seorang pengacara, melainkan tubuh preman. Apa anda benar-benar seorang pengacara?” Sri membentak.


“Jadi, anda berpura-pura menjadi asisten pengacara? Anda tahu apa yang telah anda lakukan?” sahut Lusi.


“Petugas keamanan, segera tangkap orang itu!”


Beberapa satpam pengadilan pun mulai mendekat ke meja Gun untuk menangkapnya.


“Serta kau, Terdakwa!”


“Ya, Yang Mulia Hakim.”


“Apa-apaan ini? Apa kau tak masalah, jika ini adalah persidangan terakhir anda? Jika persidangan ini tak berlangsung, maka ini akan menjadi sidang terakhir anda, dan anda akan divonis bersalah.”


“Tidak… tidak, Yang Mulia Hakim.” Jono ketakutan meremas kedua tanganya sendiri.


“Sidang hari ini akan……”

__ADS_1


BRAKK!!!


“HENTIKAN!”


Asep bersama semua anak buahnya mendobrak pintu ruang sidang dan membuat keributan untuk memperlambat waktu.


“Dimana dia? Dimana bajingan itu?”


Beberapa satpam yang tersisa mulai mencegah  anak buah asep, tapi, usahanya hanya sia-sia. Satpam hanya berjumlah 5 orang sedangkan anak buah asep sebanyak 10 orang.


Dua anak buah Asep berada di luar ruangan. Mereka menutup pintu ruang pengadilan, agar semua orang tak bisa keluar dari ruangan itu, sembari menunggu kedatangan Christ dan Yuli.


“Hei, kau bajingan! Kembalikan uangku!” seru Asep pada Guntur. Guntur hanya tersenyum kecil melihat apa yang dilakukan Asep dan anak buahnya.


“Yang Mulia Halim, aku akan membunuh bajingan itu dan masuk penjara hari ini,” teriak Asep menatap Lusi.


“Dasar kau penipu bajingan!” Asep berlari dan menyerang Guntur. Mereka berdua berpura-pura berkelahi agar suasana semakin kacau.


Begitupun dengan semua anak buah Asep yang membuat kejadian rusuh di tempat duduk penonton. Berkelahi dengan satpam, dan memukulnya hingga babak belur, dan menutup semua pintu keluar yang ada dari dalam.


*DOK DOK DOK “Semuanya harap tenang.” Lusi memukul meja menggunakan palunya, akan tetapi, tetap saja, Guntur dan semua anak buah Asep masih membuat suasana semakin gaduh.

__ADS_1


Ponsel Gun bergetar. Notif pesan masuk dari Christ.


“Tunggu, Bodoh! Ini pesan dari Bos,” ucap Gun pada Asep yang terus memukulinya.


“Apa? Bos?” Asep terkejut dan ikut melihat isi pesan dari Christ.


“Sebentar lagi aku akan sampai, mungkin sekitar 5 menit lagi. Kau harus mengulur waktunya hingga aku tiba.”


Begitulah isi pesan dari Christ.


Gun dan Asep saling lirik dan melempar pandangan satu sama lain. Mereka berpisah untuk membuat suasana lebih gaduh lagi.


Guntur berlari ke pojok ruangan dan mengambil alat semprot gas untuk kebakaran. Dengan tubuh gempalnya, dia mengayun-ayunkan alat itu membuat semua orang menunduk dan menghindarinya.


“Dasar kalian preman sialan! Apa yang kalian lakukan di pengadilan yang suci ini? MATILAH KALIAN!!!”


WHOSSHHHH!!!!!!


Guntur menyemprotkan alat itu ke atas, membuat seluruh ruangan dipenuhi dengan gas berwarna putih.


Semua penonton mulai berteriak histeris ketakutan.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, pintu pengadilan terbuka lebar. Anak buah Asep telah membukanya. Beberapa orang langsung beranjak keluar saat pintu telah terbuka.


Dari luar ruangan, berjalanlah Christ dan Yuli memasuki ruangan pengadilan. Mereka berjalan bersebelahan, menembus semprotan gas yang disemburkan oleh Gun.


__ADS_2