
“Dasar, Brengsek! Beraninya Bajingan itu melakukan hal ini padaku. Awas kau Budi,” umpat Jono.
“Ah, sepertinya kau sudah mengerti. Butuh waktu lama dan penjelasan sedetail mungkin agar otakmu mampu mencerna hal seperti ini,” ucap Christ.
“Sialan! Apa maksudmu? Siapa kau sebenarnya?” Jono kesal dengan perkataan Christ yang memang sengaja menghinanya.
“Aku menduga dan lebih dari sembilan puluh persen yakin bahwa Budi menelpon Miko, pemilik ASARON GROUP. Melihat dari pembicaraannya, dia terus menyebut Miko.
Akan tetapi, inilah yang membuatku semakin penasaran. Kenapa dia malah memasukkanmu ke penjara, bukannya membunuhmu saja? Aku yakin pasti ada alasan kenapa dia membuatmu tetap hidup.”
Jono kembali terdiam. Dia memikirkan perkataan Christ yang sangat masuk akal baginya.
“Biar kuberitahu satu hal padamu. Musuhnya musuh adalah temanmu.” Christ menatap Jono serius.
Dia mengeluarkan surat kontrak pernyataan dan pulpen, memberikannya pada Jono. “Baiklah, sekarang, kau tinggal menandatangani ini dan membiarkanku menjadi pengacara mu.”
“Apa kau juga sedang merencanakan sesuatu? Apa kau hanya melakukan hanya karena uang?” Jono mulai curiga dengan Christ.
__ADS_1
“Tentu saja, aku ingin uang. Apalagi yang diinginkan seorang pengacara selain uang?”
“Sebanyak apa yang kau ketahui sebelum melakukan hal ini? Menurutku, kaulah yang lebih mencurigakan. Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?”
Christ terkekeh melihat Jono yang mulai kesal padanya. “Astaga, kau tak perlu ketus seperti itu.”
“Enyahlah kau dari sini. Aku tak ingin melihatmu lagi.” Jono berdiri dan akan pergi dari ruangan itu.
“Kau bersungguh-sungguh? Kau yakin tak ingin mendapatkan pengacara baru lagi?”
“Tutup mulutmu, Brengsek. Aku sudah muak denganmu.”
“Wah, beraninya Bajingan satu ini.” Jono mengurungkan niatnya membuka pintu. Dia kembali menghampiri Christ. Dia menarik kerah jas Christ hingga berdiri. “Hei! Siapa kau? Siapa yang menyuruhmu kemari, Brengsek?”
Christ mendengus dan tersenyum. Tatapan matanya berubah saat itu. Dia memelintir tangan Jono hingga melepaskan cengkramannya dari kerah jas.
“Anak kecil yang berhasil lolos darimu lebih dari 20 tahun lalu. Apa kau mengingat anak kecil itu?”
__ADS_1
“Apa maksudmu?” Jono mendorong dada Christ.
Christ mendengus kembali. “Astaga, rupanya kau benar-benar bodoh. Bagaimana orang bodoh sepertimu bisa menjadi detektif. Bukankah seharusnya polisi memiliki ingatan yang bagus?
Ah, benar juga. Aku tahu kau menjadi polisi bukan karena kepintaranmu. Kau menggunakan uang untuk menjadi polisi, atau mungkin, seseorang menjadikanmu polisi dan mengaturmu seperti boneka, benar bukan?
Cobalah ingat kembali dengan otakmu yang bodoh itu. Apa kau sungguh tidak mengingat anak itu?”
Suasana lengang. Jono terdiam dan berpikir cukup lama.
“Wanita pemilik reparasi diska lepas yang kalian bunuh. Akulah anak dari wanita itu.” Christ menatap Jono tajam.
Jono menelan ludah. Dia terkejut setengah mati mendengar hal itu. “Kau.. anak dari wanita itu?” Perlahan Jono melangkah mundur.
“Seperti yang kau lihat, sedari tadi kau ingin mengetahui alasan sebenarnya aku ingin menjadi pengacara mu. Aku akan mengeluarkanmu dari penjara, lalu membunuhmu dengan tanganku sendiri.”
Christ pun melangkah mendekati Jono yang sudah terpojok di dinding.
__ADS_1
“Jika kau mati di tempat ini, maka aku tak akan bisa melakukan apapun. Aku tak bisa membunuhmu dan membunuh semua komplotan mu itu.”