
Salah satunya adalah fungsi untuk melewati dan menyeberangi hamparan sungai yang panjang di kota itu sendiri.
Penggunaan jembatan gantung di kota Bekasi pun juga tak kalah dengan jembatan gantung yang ada di negara eropa lainnya, karena jembatan itu tidak hanya terbatas pada keperluan transportasi.
Jembatan gantung itu juga digunakan untuk objek pariwisata dan juga dilengkapi dengan fasilitas lainnya seperti tempat duduk, serta platform pengamatan bagi para pengunjung yang ada.
Karena pada malam itu hampir nihil seorang pengunjung, Christ pun akhirnya pergi ke tempat itu dan menghabiskan malam panjangnya disana.
Satu, dua, tiga batang rokok telah dihabiskan olehnya. Malam itu dia benar-benar stres berat karena beban pikiran yang ditanggung olehnya.
Malam pun mulai larut. Jam menunjukkan pukul 10 malam. Dia harus segera kembali ke kantornya untuk beristirahat, agar memulihkan staminanya lagi.
Sesampainya Christ di kantornya, dia dibuat terkejut dengan Yuli yang telah berada di ruang pribadinya sendiri. Yuli duduk di kursi pribadi milik Christ dan menatap Christ yang baru kembali saat itu.
Sepertinya Yuli juga baru kembali dari rumah Bagas malam itu juga.
__ADS_1
“Apa-apaan ini? Darimana saja kau? Kenapa kau tidak pulang? Apa kau sedang kerja lembur? Kau tak perlu kerja lembur, jika aku tak menyuruhmu.”
Yuli tersenyum kecil. “Tidak. Aku hanya ingin lebih tahu tentang tempat ini.” Dia memandangi ruang pribadi Christ.
Christ melangkah mendekati Yuli. Dia merasa ada yang berbeda dengan Yuli saat itu. “Ada apa denganmu? Kau tidak seperti biasanya. Tiba-tiba saja kau jadi menyukai tempat kerjamu.”
“Kurasa aku juga seperti itu. Aku ingin membersihkan kantor, dan membersihkan ruangan pribadiku ini sebelum sidang.” Christ merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas mejanya.
“Hmmm, rupanya tempat ini menyimpan banyak rahasia, dan disinilah ruang kerja mendiang ibumu dulu.” Yuli mengeluarkan stopmap berwarna kuning pada Christ.
“Hari dan tanggal saat ibumu dinyatakan bunuh diri, dan hari saat menghilangnya ibuku, adalah hari yang sama. Kau tahu apa artinya itu, bukan?”
Christ mematung tak menjawab.
“Katakan yang sejujurnya, Christ!”
__ADS_1
Yuli menyalakan komputer yang masih terhubung dengan proyektor. Layar proyektor kembali menampilkan semua yang membuat Yuli terkejut. Terlebih lagi dia melihat foto ibunya sendiri dari layar itu.
Dari semua orang yang terlibat atas kematian ibu Christ mulai, Lusi, Miko, Jono, Yuli melihat foto ibunya yang terpampang di pojok kiri bawah dan foto Yuli sendiri saat masih kecil.
“Kenapa fotoku dan foto ibuku ada di sini? Katakanlah, Chris! Apa sebenarnya alasanmu datang ke Bekasi?”
Christ menarik nafas panjang. Berdiri tepat di depan Yuli. “Miko telah membunuh ibuku di depan mataku sendiri dan di ruangan ini juga, lalu, orang yang memerintahkan pembunuhan itu adalah Lusi.”
“Hanya karena ibuku memiliki sebuah bukti yang dapat menjatuhkan Lusi saat itu, dia harus kehilangan nyawanya.”
“Apa?” Yuli setengah tak percaya mendengarnya.
“Dan satu lagi, kenapa foto ibumu ada di layar itu. Apa yang terjadi padaku, pada ibuku, dan menghilangnya ibumu, itu semua perintah dari Lusi. Dia hanya memanfaatkan kepolosanmu untuk mengelabuimu.”
“Membantu keluargamu, memberi beasiswa penuh saat kau kuliah, dan semua kebaikan yang dilakukannya, itu hanyalah pencitraan semata.”
__ADS_1