
“Kalah setelah membela orang yang tidak bersalah, akan jauh lebih menakutkan daripada kalah setelah membela orang yang bersalah,” jelas Christ
“Karena itulah kita harus menang dalam persidangan ini, dan pastinya, kita harus menang secara hukum.” Yuli mengepalkan tangannya.
Begitupun Christ yang juga mengepalkan tangannya dan melakukan tos bersama “Dengan hukum.”
Tiba-tiba dari belakang, Gun, Asep dan semua anak buahnya merangkul Christ, dan menggendongnya. Beberapa memegang kaki, dan lainnya menopang badannya.
“Hei! Hei! Hei! Apa-apaan kalian ini?” Christ memberontak, tapi, jumlah mereka lebih banyak dan terus memegang Christ dengan erat. “Apa gaji kalian ingin kupotong, hah?”
Mereka tak menghiraukan Christ, bersama-sama mereka menggotong Christ, lalu menceburkannya ke tengah pantai.
BYURRRR!!!!!
Christ pun telah basah kuyup, sama seperti anak buahnya yang lain. Semua anak buahnya berseru melihat Christ yang basah kuyup, sementara Yuli hanya tersenyum lebar dari kejauhan.
Beberapa anak buah Asep termasuk Gun mulai berjalan mendekati Yuli.
“Apa? Jangan mendekat? Apa kalian ingin kubunuh?” Yuli melepas sepatu dan melemparkan ke anak buah Asep. “Ah, sial! Apa-apaan ini.”
__ADS_1
Yuli pun berlari kencang agar anak buah Asep tak menceburkannya ke pantai.
***
Keesokan harinya, Christ sudah kembali bekerja melanjutkan apa yang telah dimulainya.
Pagi-pagi sekali, dia sudah berada di penjara NUSAKAMBANGAN untuk bertemu dengan Jono, sebagai pengacara yang akan membelanya, bukan sebagai tamu yang mengunjunginya.
Mereka berdua kembali bertemu di ruangan khusu untuk membicarakan hal terkait persidangan yang akan berlangsung.
“Ada apa denganmu? Kau tampak lebih ceria hari ini, apa ada yang membuatmu senang?” Christ mulai mengeluarkan beberapa berkasnya dari dalam tas.
“Christianto! Ternyata kau hebat juga!” BUK!!!! Jono berdiri, lalu meninju pipi Christ secara tiba-tiba. Entah apa yang membuatnya meninju Christ secara tiba-tiba.
“Apa kau sedang mencari tahu tentang Miko? Aku mendengar percakapanmu kemarin dengan Direktur Agus.” Jono kembali duduk ke kursinya.
“Asal kau tahu, Miko adalah orang yang tak akan pernah menyakitimu saja, jika dia mencoba menipuku, dia mungkin sudah membunuhku seharusnya,” lanjutnya.
“Hahahaha. Apa dia akan membunuhmu sama seperti dia membunuh walikota Joko?” Christ terkekeh.
__ADS_1
“Kau adalah orang yang memang ingin bermain-main dengan hidupku,” tegas Jono.
“Astaga, kurasa kau tidak terlalu bodoh juga. Apa jiwa seorang polisi masih ada padamu?”
“Apa maksudmu, Berandal?” tanya Jono ketus.
“Kau tak boleh terlalu tersinggung seperti itu. Aku adalah pengacaramu sekarang ini. Bukankah sudah kubilang padamu, bahwa aku akan mengeluarkanmu dari tempat ini? Kenapa kau temperamental seperti ini?”
“BAJINGAN!”
Saat Jono akan kembali meninju, Christ dengan lebih dulu menahan tangan Jono sebelum tinjunya mendarat.
Tatapan Christ berubah drastis, yang semula dia tetap bicara dengan santai, kini dia menatap Jono dengan serius, dan terus memelintir pergelangan tangannya.
“Atau, apa kau ingin aku membunuhmu sekarang juga? Apa kau lupa siapa aku? Aku bahkan bisa membunuhmu sekarang juga di tempat ini. Hidupmu sudah menjadi milikku sepenuhnya.”
Christ berdiri lalu memukul ulu hati Jono dengan tangan kirinya.
Jono pun tersungkur, meringkuk di lantai kesakitan.
__ADS_1
“Baiklah, dengarkan aku baik-baik, Mantan Detektif Bodoh.” Christ berjalan mendekati Jono yang meringkuk di lantai. “Miko bukanlah satu-satunya orang yang mengendalikanmu.”
“Apa … Maksudmu?” Jono mengesot mundur hingga ke dinding ruangan.