SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 067


__ADS_3

Semua warga sipil melihat dua orang dewasa yang saling kejar-kejaran siang hari itu.


Si Pembunuh Bayaran tak kalah lincah dan cepatnya dari Christ. Sepertinya dia juga memang seorang pembunuh profesional yang sudah terlatih.


Hingga sampailah mereka di stasiun kereta bawah tanah yang berada di dekat tempat itu. Banyak warga sipil yang sedang mengantri membeli tiket, dan beberapa lagi yang menjemput sanak saudaranya di stasiun itu.


Di lorong rel kereta bawah tanah. Pembunuh bayaran berlari menabrak beberapa OB dan pergi ke tempat itu.


Sepanjang lorong rel sangatlah gelap. Tak ada lampu atau pencahayaan sama sekali di tempat itu.


Dengan lebar 5 meter, dan rel kereta api di tengah, membentang jauh sepanjang lorong, dan batuan kerikil kecil dan besar memenuhi lantai lorong.


Saat Christ memasuki lorong, BRUKK!!! Si Pembunuh Bayaran menubruknya dari balik dinding lorong.


Mereka berdua saling terjatuh dan bangkit lagi, lalu bertarung di atas rel.


Di awal pertarungan. Christ sempat sedikit kewalahan, beberapa kali serangan yang diberikan Christ, dapat ditangkis dan dihindarinya dengan mudah.

__ADS_1


“Rupanya dia juga terlatih, baiklah,” gumam Christ dalam hati. Dia terlalu meremehkan lawannya saat itu. Dia bangkit, memasang kuda-kuda, dan kembali bertarung.


Di pertarungan kedua, Christ dapat menumbangkan lawannya. Saat Si Pembunuh Bayaran kembali melayangkan pukulannya, dengan lincah Christ menghindar ke samping kiri.


Memberinya pukulan combo, Hook, Straight, Uppercut, dan pukulan beruntun di rahangnya, hingga Si Pembunuh Bayaran itu jatuh berlutut.


Saat dia terpojok, dia mengeluarkan sebilah pisau dari balik jaketnya. Menodongkannya pada Christ. Dia belum menyerah. Dalam hitungan detik, pertarungan kembali terjadi.


Si Pembunuh Bayaran memainkan pisaunya dengan lihai, lalu menyerang Chris. Akan tetapi, Christ lebih cepat menghindar dan memberi serangan balik.


Memelintir tangan, menjatuhkan pisau, lalu membantingnya ke atas rel dipenuhi dengan kerikil tumpul di sekitarnya. Si Pembunuh bayaran mengerang kesakitan karena itu.


“Christianto!” seru Yuli yang baru saja datang. Dia berdiri di depan pintu gerbang lorong, pinggir rel.


Sejenak Christ menoleh padanya, lalu kembali berfokus pada Si Pembunuh Bayaran itu.


“Siapa yang memberimu perintah untuk membunuh walikota Joko?” Christ mengeluarkan rantai kecil dari saku jasnya. Menggunakan rantai itu untuk mencekiknya dari belakang.

__ADS_1


“Le.. Lepaskan…” Si Pembunuh bayaran tak bisa mengucapkan dengan jelas, karena Christ mungkin saja membuatnya sulit untuk bernafas dengan rantai yang terus ditahan dari belakang.


“Dia adalah Miko, bukan? Pemilik ASARON GROUP. Apa aku salah?”


“Siapa kau?”.


“Kau tak perlu memberitahuku sekarang juga, tapi, kau akan bersaksi di pengadilan untukku nanti. Bagaimana, mudah bukan?”


Si Pembunuh Bayaran masih saja tak mau mengatakan apapun. Dia hanya diam dan kesakitan menahan lehernya yang mulai memerah akibat rantai yang menahannya.


TOOOOEEETTTTTTT!!!!!!


Suara klakson kereta api terdengar menggema begitu kencang di lorong. Dari kejauhan, terlihat lampu yang begitu terang. Sebuah kereta api akan melintas kencang di lorong itu.


“CHRISTIANTO, AWAS!!!!” seru Yuli ketakutan. Dari ujung lorong, terlihat kereta api yang sedang melesat dengan cepat di atas rel. Jika Christ dan Si Pembunuh Bayaran itu tak segera berpindah, maka habislah sudah.


Tak akan ada lagi saksi dan tak akan ada lagi seorang pengacara yang akan membalaskan dendam kematian ibunya.

__ADS_1


Dari jarak 100 meter, Christ melepas rantai dari lehernya, lalu menendang Si Pembunuh Bayaran itu ke dinding, dan dia pun juga segera melompat ke dinding seberangnya.


__ADS_2