SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 091


__ADS_3

Semua orang dari tim sukses pun hanya diam tak berani ikut campur urusan itu.


BUK!!!! Christ menendang hidung Roy dengan lututnya hingga mimisan. Meringkuk tepat di sebelah Miko.


Roy kembali berdiri dan mengelap darah yang keluar dari hidungnya, lalu berdiri di belakang Miko


“Astaga, Christianto. Kalau kita terus bertemu seperti ini, kita bisa menjadi teman baik,” ucap Miko.


Christ tersenyum, lalu duduk di sofa. Mengangkat kedua kakinya ke atas meja.


“Omong-omong, soal gembong yang kau bawa itu, Pras. Aku bisa menjamin itu akan baik-baik saja. Dia tak akan membuka mulutnya di pengadilan. Lebih baik kau kembali ke Jakarta. Aku yakin kau akan lebih kaya disana.”


Christ pun langsung mengetahui, bahwa Miko sudah melakukan langkah kedepannya untuk membungkam Pras saat persidangan tiba. Dia pun juga sudah berpikir jika itu akan terjadi.


Christ mengambil sesuatu dari dalam sakunya. “Aku hanya ingin memberimu ini.” Sebuah ponsel dilemparkannya ke atas meja.


“Apa itu?”


“Ah, kau tak tahu? Ini ponsel milik pembunuh bayaran yang kau suruh untuk membunuh walikota Joko.”

__ADS_1


Semua tim sukses kampanye Miko terdiam mendengar perkataan Christ. Roy sebagai ketua langsung menyuruh beberapa orang yang ada untuk keluar dari ruangan itu.


“Saat peresmian patung kemarin, aku muncul dan membawa Pras langsung ke pengadilan. Aku berharap tindakanku akan masuk berita, tapi ternyata tidak. Astaga, kota ini memang sampah.”


“Wah …. Lihatlah dirimu, Christ. Kau malah mengacaukan pesta orang dan membuat suasana hati orang menjadi kacau. Kenapa kau tidak tahu malu sama sekali?”


Masih tetap sama. Miko sama sekali tak merasa bersalah ataupun khawatir tentang itu. Dia tetap bicara seperti orang mabuk, bahkan seperti orang sakau karena pengaruh narkotika.


“Apa kau tidak penasaran, apa isi dari ponsel itu?”


“Memangnya, apa yang akan kutemukan di ponsel jadul itu? Aku pasti tak akan menemukan apapun. Bukan begitu, Roy?”


“Ponsel jadul itu milik orang yang sudah mati, jadi, kau bisa membuang, atau merusaknya.”


Roy mengambil sebuah palu, memukul ponsel jadul itu hingga benar-benar pecah.


“Hahahahaha.” Christ terkekeh. “Kau akan menyesal tak melihatnya.” Dia pun berdiri, lalu beranjak pergi dari basecamp kampanye.


Dalam perjalanan pulangnya, Christ melihat Yuli. Berjalan lesu dan melamun di trotoar.

__ADS_1


TIN!!! Christ menyalakan klakson. Menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


“Darimana saja kau? Kenapa kau tak mengangkat teleponku?”


Seperti wanita pada umumnya saat mereka ngambek. Yuli hanya diam dan meneruskan langkahnya.


“Hei, hei! Mau kemana lagi kau?” Christ berdiri menghalangi jalan. “Tanpa seorang paralegal, maka firma hukum tak berjalan.”


“Aku bukan pembantumu,” jawab Yuli ketus.


“Astaga, lihatlah dirimu? Apa kau sedang PMS? Kenapa kau jadi ketus seperti ini? Siapa yang baru saja kau temui hingga nada bicaramu begini?”


Yuli masih diam. Menatap mata Christ.


“Tak ada percakapan pribadi, Yuli. Maka, biarkan aku menjelaskanmu proses, sampai dimana sidang yang akan kita jalani.” Christ tersenyum lebar.


“Untuk saat ini, tinggal dua sidang lagi sebelum sidang kematian walikota Joko. Kita sudah menyerahkan Pras, gembong perdagangan manusia yang memperkenalkan Si Pembunuh Bayaran kepada Jaksa penuntut. Akan tetapi, kita tidak bisa diam saja saat ini.”


“Hmm, baiklah. Kau pasti ingin Si Gembong itu menyebut nama Miko di pengadilan, bukan?”

__ADS_1


“Tentu saja.” Christ menyeringai lebar.


__ADS_2