SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 027


__ADS_3

Mata Christ menatap tajam tertuju pada Jono. Dia ingin memastikan apakah dia adalah salah satu detektif yang berkaitan tentang kematian ibunya saat itu.


Christ berdiri tersenyum, mengubah raut wajahnya. “Astaga, senang bertemu denganmu, Pak.” Christ mengeluarkan kartu namanya, memberikannya pada Jon. “Aku Pengacara Christ.”


Jono mendengus dan duduk di hadapan Christ dan Yuli. “Apa aku mengenalmu?”


“Semua orang tidak saling mengenal jika baru bertemu pertama kalinya.” Christ tersenyum dan masih mengangkat tanganya, menyodorkan kartu namanya.


Jono dengan sewot mengambil kartu nama Christ, membacanya. “Pengacara Christianto.”


Christ dan Yuli kembali duduk.


“Mulai sekarang, aku akan mengambil alih kasus ini, jika kau bersedia menjadi orang yang akan kubela di pengadilan.”


“Hahahaha. Apa seorang pengacara menjual jasanya seperti ini? Kau pasti kesulitan mencari uang.” Jono terkekeh.


Christ menyeringai lebar. Dia mengangkat tangannya seakan memamerkan jam rolex yang melingkar di pergelangan tangannya. “Asal kau tahu, Pak. Aku adalah pengacara terkenal di Jakarta.”


“Aduh, bagaimana ini. Aku juga sudah memiliki pengacara yang cukup hebat untuk membelaku.” Jono meletakkan kartu nama Christ ke atas meja.

__ADS_1


Sebuah tato angka romawi kecil di tangan bagian bawah Jono. Mata Christ tertuju pada tato itu.


Kali ini dia sangat yakin bahwa Jono adalah mantan detektif yang berkaitan dengan kematian ibunya dulu.


***


FLASHBACK


20 tahun lalu, saat Christ kecil berhasil kabur dan lari dari segerombolan preman yang telah membunuh ibunya.


Malam itu hujan deras nan lebat. Christ kecil berhasil sampai di lantai bawah dan akan kabur dari gedung itu.


Sebuah mobil polisi melintas dan berhenti tepat di depan gedung itu. Seorang Detektif keluar dari mobil itu. Dia adalah Jono yang masih menjadi detektif pada saat itu.


“Ibumu dibunuh? Siapa yang membunuhnya?” tanya Jono.


“Itu…Dia.. Dia yang telah membunuh ibuku.” Christ ketakutan saat melihat ketua preman yang membunuh ibunya. Ketua preman itu berhasil keluar dari lantai 3 untuk mengejar Christ.


“Orang itu!” seru Christ. Dia memegangi jaket Jono dan bersembunyi di balik tubuhnya.

__ADS_1


“Apa kau yakin? Kau melihat paman itu membunuh ibumu di depan matamu?” tanya Jono.


“Ya, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.”


“Hei, Jono. Berikan anak kecil itu padaku. Urusanku belum selesai dengannya,” ucap Si Ketua Preman.


Mata Christ terbelalak lebar. Sejak saat itu dia tahu bahwa Detektif yang berdiri di depannya adalah Detektif korup yang berkomplot dan bekerja sama dengan para preman kampung.


Christ melihat tangan kiri bawah Jono dan melihat tato angka romawi. Dia akan terus mengingatnya.


NINU NINU NINU!!!


Suara sirine mobil polisi terdengar. 3 mobil polisi berhenti tepat di depan gedung, karena dia melihat salah satu rekannya yang berada disana.


Si Ketua preman membalikkan badan dan segera kembali naik ke atas  gedung, sementara Jono mengalihkan beberapa detektif dan opsir yang datang ke tempat itu.


Christ menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Diam-diam dia menyelinap, membungkuk, lalu berlari sekencang-kencangnya.


Christ terus berlari sekencang-kencangnya meski hujan deras mengguyur bumi saat itu. Sejak itu, dia sudah tak lagi percaya dengan polisi atau siapapun disana.

__ADS_1


1 jam lamanya Christ kecil terus berjalan dan sesekali berlari. Kini dia berada di jalan raya. Langkahnya mulai lesu. Dia sudah tak kuat lagi untuk berlari kencang. Seluruh pakaiannya telah basah kuyup.


Sesekali dia menangis saat mengingat kembali apa yang telah menimpa ibunya.


__ADS_2