SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 108


__ADS_3

Hingga mereka terlelap bersama usai melakukan adegan erotis itu. Konon katanya melakukan adegan intim dapat menghilangkan stress bagi siapapun yang melakukannya.


Dan itu terbukti nyata dengan mereka berdua. Raut wajah mereka terlihat lebih segar dan ceria.


Yuli terlelap di pelukan Christ, dan juga Christ yang akhirnya dapat tertidur nyenyak setelah bertahun-tahun memendam dendam yang begitu dalam.


Keesokan paginya, Yuli bangun lebih awal. Saat membuka matanya, dia melihat raut wajah Christ yang masih sangat tampan meski sedang terlelap.


Yuli mengelus-elus tangan Christ yang berotot sesekali mengelus pipinya. Dia beranjak dari kasur dan tak lupa menggunakan kembali bra dan piyama yang telah disediakan oleh hotel itu.


Tak lama kemudian, Christ pun terbangun. Matanya sayu-sayu, terlihat masih sangat mengantuk.


“Kau sudah bangun?” Yuli datang membawa secangkir teh hangat. “Minumlah teh ini.”


Christ tersenyum, lalu duduk di tempat tidurnya. Menerima secangkir teh dari Yuli, dan menyeruputnya perlahan.

__ADS_1


Sinar matahari pagi menembus jendela dari jendela kamar hotel. Christ beranjak dari tempat tidurnya. Mencuci muka, lalu pergi ke luar kamar dengan Yuli.


Pagi hari itu mereka kembali menghabiskan waktu bersama selama di hotel. Sekalipun Yuli tak pernah melepaskan tangan Christ, saat mereka berjalan berdampingan.


Suasana hotel pun kembali ramai seperti biasa. Menikmati sarapan pagi, berenang, pergi ke pusat kebugaran, dan ada yang hanya memesan secangkir kopi dan menikmati sebatang rokok.


“Apa kau terbiasa sarapan pagi?”


Christ menggeleng. “Tidak, Yul. Aku sudah tidak pernah menyantap sarapan pagi sejak umur 20 tahun. Aku hanya minum secangkir teh atau kopi, dan menyantap satu buah pisang atau apel.”


“Hmm, jadi, kau tidak akan sarapan pagi ini?” Yuli merengek manja. “Kalau begitu, temani saja aku untuk sarapan. Aku akan memesankan secangkir kopi dan roti untukmu.”


Restoran hotel itu sendiri menyediakan berbagai masakan luar, masakan eropa, asia, tiongkok dan masakan timur tengah.


Yuli memesan satu porsi makanan eropa salah satu hidangan terbaiknya, yaitu pasta yang dibuat spageti dengan saus khas sendiri, sedangkan satu cangkir americano panas untuk Christ.

__ADS_1


Tepat pukul 7 pagi, mereka telah usai menyantap sarapan. Christ pun mengajak Yuli pergi ke pusat kebugaran untuk berolahraga bersama. Mengganti pakaian dengan baju khusus, dan mulai berolahraga.


Selama di pusat kebugaran, Christ sangat bersemangat saat berolahraga, tapi, berbeda dengan Yuli yang hanya melakukan olahraga kecil.


Yuli berjalan di atas treadmil, sesekali dia berlari ringan sambil memandangi Christ yang melakukan olahraga.


Keringat mengucur deras membasahi tubuh Christ, hingga membasahi pakaiannya. Semua otot di tubuh Christ terpompa, dan semakin terlihat jelas.


Kadar lemak yang sedikit dari tubuh Christ membuat ototnya terlihat kering dan indah. Membuat kagum siapapun yang melihatnya saat itu.


Christ menjadi pusat perhatian bagi semua wanita yang ada di pusat kebugaran di pagi itu. Mulai dari ibu-ibu, hingga wanita remaja dan dewasa lainnya.


Hal itu  membuat Yuli cemburu saat tahu Christ menjadi pusat perhatian bagi para wanita. Raut wajahnya berubah ketus, menatap semua wanita dengan sinis.


Tak ingin kalah dengan para wanita itu, Yuli pun bertindak. Dia beranjak dari treadmil, lalu menghampiri Christ yang sedang sedang menarik alat beban. Memeluknya dari belakang.

__ADS_1


Yuli ingin menunjukkan bahwa Christ adalah miliknya pada para wanita itu.


“Hei, apa yang kau lakukan?” Christ menghentikan aktivitasnya. “Astaga, Yuli. Lihatlah, apa kau tak mau dilihat orang? Kau bisa melakukan itu nanti.”


__ADS_2