SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 083


__ADS_3

Sore hari pun tiba. terlihat khalayak ramai telah berkumpul di halaman pengadilan tinggi Bekasi. Peresmian patung mendiang Ayah Lusi akan diadakan sore hari itu juga.


Beberapa warga yang sangat antusias dengan hukum telah berkumpul ramai di depan halaman gedung untuk acara itu. Kursi dan meja pun juga tertata rapi untuk para tamu undangan VIP yang datang.


Begitupun dengan Miko yang sedang dalam perjalanan menuju kantor pengadilan tinggi untuk ikut serta dalam peresmian itu. Dia tetap bersama asisten pribadinya yang selalu setia dan mengantarnya kemanapaun.


“Berapa banyak undangan VIP yang akan datang ke peresmian patung itu? Apa tahu?”


“Jumlah pastinya aku tak tahu, Pak. Yang pasti, semua VIP sudah setuju akan menghadirinya,” jawab Si Asisten.


“Hmmm, kau benar. Mereka pasti setuju. Tak ada yang berani menolak Hakim Lusi kalau mereka ingin terus berbisnis di Bekasi.” Miko merapikan dasinya yang sedikit miring.


Sesekali dia melihat kendaraan yang melintas dari balik jendela mobilnya. “Apa kau sudah mendapat kabar terbaru tentang Christianto?”

__ADS_1


“Ah, benar juga. Aku lupa mengatakannya padamu, Pak Ketua,” Seru Si Asisten. “Christianto ternyata juga lahir di Bekasi. Ibunya telah meninggal saat dia masih kecil. Dan Bagas adalah kakak kandung dari ibunya itu.


Ibu Christ dinyatakan bunuh diri 20 tahun yang lalu, karena dia adalah salah satu saksi yang putus asa dan menganggap kejaksaan tidak adil pada kasus yang menimpanya sebagai saksi. Namanya……”


“Stop!!!!” tiba-tiba Miko teringat sesuatu. Dia mengangkat bahu dan kepalanya dari sandaran mobil. “Lili, apa itu namanya?”


“Nah, itu dia, Pak Ketua. Anda mengenalnya?” Si Asisten mungkin tak tahu apa yang sebenarnya terjadi 20 tahun silam, saat Miko masih menjadi ketua preman kampung.


Mungkin saja saat itu Si Asisten masih kecil dan bahkan belum lahir karena umurnya masih beranjak 21 tahun saat ini.


“Dasar, Berandal! Ternyata bocah ingusan itu masih hidup, dan malah hidup sebagai seorang pengacara. Rupanya kau kembali ke Bekasi.”


Miko menatap luar jendela kembali mengingat bocah kecil yang dengan beraninya memakan kartu memori yang menjadi bukti.

__ADS_1


“Astaga, ternyata Si Bodoh Jono itu ternyata tak bekerja dengan becus.”


Si Asisten pun hanya diam tak berani bertanya apapun.


Sesampainya Miko di halaman pengadilan, terlihat para tamu undangan yang telah berkumpul di halaman pengadilan. Mulai dari warga sipil, hingga tamu undangan VIP terlihat memenuhi halaman.


Karpet merah telah digelar mulai dari tempat duduk para tamu undangan hingga teras pengadilan tempat mimbar dan patung yang akan diresmikan berada.


Para tamu undangan bersorak dan bertepuk tangan meriah saat Lusi berjalan di atas karpet menuju mimbar. Ayah Yuli, Sri dan para tamu undangan lainnya memeriahkan acara itu.


Sementara Miko mendampingi Lusi yang menyapa semua tamu undangan menuju mimbar, tempat dia akan berpidato.


Pita panjang berwarna merah tersambung ke kain yang menutup patung. Dalam hitungan ketiga, Lusi memotong pita itu, hingga kain yang menutup patung itu terbuka.

__ADS_1


Suara tepuk tangan kembali terdengar meriah di teras pengadilan. Memberikan sambutan yang meriah pada patung Hakim Sulistyo, ayah kandung Lusi sendiri.


Patung itu dipahat dengan sempurna. Sangat jelas bahwa patung itu diukir oleh seniman yang sangat profesional. Setiap garis dan lekuk di wajah dan tangannya terlihat jelas di patung itu.


__ADS_2