SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 060


__ADS_3

Pantai Muara Gembong. Yuli ternyata mengajak mereka semua ke pantai itu. Dia juga mentraktir beberapa makanan dan minuman untuk Christ dan anak buahnya, atas ucapan selamatnya saat keluar dari penjara.


Mereka duduk melingkar di meja gazebo dengan payung besar untuk menghalau panasnya terik pagi hari itu.


Gazebo itu terletak di pinggir pantai. Sejauh mata memandang, terlihat pemandangan pantai yang indah nan asri. Ombak pantai itu tidak besar dan tak kecil juga.


Banyak turis wisata asing, pasangan muda-mudi yang berkunjung di pantai itu. Beberapa orang juga terlihat sedang membasahi dirinya menggunakan air pantai, dan membuat patung dari pasir yang ada.


Beberapa saat, makanan pun tiba. Dua orang pelayan dari restoran yang ada di pantai, bolak-balik mengantarkan makanan dan minuman ke gazebo.


Beberapa makanan seafood seperti udang, ikan, cumi, kepiting, telah memenuhi meja yang ada.


Semua anak buah Asep bersorak gembira melihat makanan yang telah dihidangkan.


“Astaga, paralegal Yuli kita ini memanglah yang terbaik!” seru Asep. “Sudah lama sekali aku tidak makan enak seperti ini.”


Mereka semua mulai mengambil beberapa hidangan dan mulai menyantapnya dengan lahap.


Yuli duduk di sebelah Christ. Dia tersenyum melihat para preman itu yang sangat bergembira  saat mulai menyantap makanan yang ada.


Dia tak menyangka akan bekerja dengan para preman itu, padahal baru beberapa hari yang lalu Asep dan anak buahnya mengobrak-abrik rumah Yuli.

__ADS_1


“Astaga, aku makan ini karena ingin bersikap baik padamu,” ucap Christ melirik Yuli.


PLAK Saat Christ akan mengambil beberapa sotong, dengan sengaja Yuli menampek piring berisi kecap agar mengenai wajah Christ. Wajah Christ pun penuh dengan kecap.


“Toh ini juga tak akan membuatmu lebih kotor lagi,” ucap Yuli ketus. Dia sama sekali tak merasa bersalah atau apapun itu. Dia memakan beberapa cemilan sembari melihat wajah Christ yang dipenuhi dengan kecap.


“Bos…


“Lihatlah, Bos….


“Wajahmu.”


Kini wajah mereka dipenuhi dengan kecap sama seperti Christ.


“Kita semua bersaudara!” seru Asep


SAUDARA!!!! Semua berseru serempak.


Yuli tertawa terkekeh melihat anak buah Christ yang bertindak konyol seperti itu. Gazebo itu dipenuhi dengan canda dan tawa dari masing-masing kepala.


Setengah jam berlalu, makanan telah habis tak tersisa. Hanya tersisa beberapa tulang ikan diatas piring-piring kotor yang menumpuk.

__ADS_1


KITA BEBAS!!!!!


Semua anak buah Christ berseru gembira. Mereka berlari menuju ke tepi pantai dan mulai bermain air, saling menyiram dan mengangkat lalu melempar kawannya ke tengah pantai.


Christ dan Yuli berjalan berdampingan ke tepi pantai, sembari menikmati pemandangan indah yang ada disana.


“Akhirnya Pak Bejo memutuskan untuk bersaksi membela Jono. Saat kau dipenjara, aku terus membujuknya  agar dia mau bersaksi di dalam persidangan,” ucap Yuli.


Bejo adalah salah satu saksi dalam kasus kematian walikota Joko. Yuli berhasil membujuknya untuk bersaksi bahwa Jono sama sekali tak terlibat dengan kasus itu.


Beberapa persidangan sebelumnya, sebenarnya Bejo selalu hadir saat persidangan, tapi, dia tak mengatakan yang sebenarnya kepada Sang Hakim.


“Jadi, apa kau sudah percaya padaku, bahwa dia memang tidak bersalah?”


“Ya, sepertinya aku sudah percaya. Karena kita punya alibi untuk kasus itu. Aku hanya ingin istri Jono melihat bahwa suaminya tidak bersalah. Aku merasa kasihan saat mengunjunginya di rumah sakit.


Aku juga memposisikan diriku sebagai istrinya, aku juga tak akan tinggal diam jika memang suamiku tak bersalah.”


“Ya, kau benar. Akan tetapi, rintangan paling menakutkan dari pekerjaan kita ini baru saja dimulai.”


“Apa maksudmu?” tanya Yuli.

__ADS_1


__ADS_2