SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 082


__ADS_3

Akan tetapi keesokan harinya, saat aku meniup harmonika lamaku, ternyata harmonika itu tidak rusak. Rasa bersalah terus kualami seumur hidupku, bahkan sampai sekarang ini.


Ibuku, yang kukira akan membuatku aman, tiba-tiba menghilang begitu saja. Sampai detik ini, aku masih tidak bisa mengatasinya atau mempercayainya. Tak pernah seharipun.”


Christ mendengarkan cerita Yuli dengan seksama, meski dia juga fokus mengendarai mobilnya. “Aku sangat mengerti perasaanmu, karena aku juga mengalami hal yang serupa.”


“Omong-omong, Pengacara Christ. Aku sudah menganggap Hakim Lusi seperti ibu bagiku. Dia sangat membantu banyak keluargaku, dan bahkan memberikanku beasiswa saat aku kuliah.” Yuli kembali membahas Lusi.


“Ya, aku tahu itu,” jawab Christ ketus.


“Jika memang aku dibodohi oleh Hakim Lusi, maka kau harus membuktikannya padaku. Buat aku percaya dengan perkataanmu, dan yakinkanlah aku.


Sebelum kau membuktikan semua itu padaku, aku tidak akan pernah percaya pada perkataanmu tentang Hakim Lusi.”


Christ tersenyum kecil tak menjawab.


Beberapa saat kemudian, sampai lah Christ di kantor firma hukum miliknya. Di depan kantornya, terlihat Gun yang sudah bersiap menunggu.


“Kau sudah datang, Bos?”

__ADS_1


“Ya, kita akan melanjutkan rencana kita.” Christ keluar dari mobilnya. “Apa kau sudah memastikan bahwa pemilik gembong perdagangan ilegal itu yang memperkenalkan Miko ke pembunuh bayaran?”


“Tentu, aku sudah menyelidiki semua riwayat panggilannya. Pras, Si Pembunuh Bayaran, dan Asisten Miko, mereka semua selalu melakukan kontak lewat telepon menjelang pembunuhan terjadi.”


“Hmmm, jadi gembong perdagangan itu tidak hanya melakukan perdagangan barang ataupun organ dalam manusia saja.” Christ menopang dagu. Berpikir keras.


“Aku juga yakin pasti Pras yang memperkenalkan pembunuh bayaran itu ke Miko.”


“Dimana lokasinya sekarang?”


“Tenang saja, Bos. Asep dan dua orang anak buahnya sudah mengawasi dan membuntutinya sejak kemarin.”


Yuli menekuk dahinya, dan malah membuka pintu mobil. Mencoba masuk kembali ke dalam. Dia merasa didiskriminasi karena tak diajak. Akan tetapi, Christ lebih dulu menuntup pintu mobil, sebelum Yuli dapat membukanya.


“Aku tak ingin kau berada dalam bahaya lagi. Tinggallah di kantor bersama yang lain.”


“Astaga, aku sudah bilang bukan? Kau harus membuktikan padaku. Buat aku percaya dengan perkataanmu tadi, jadi, aku juga akan ikut kemanapun tujuanmu.”


Yuli tersenyum, lalu masuk kembali ke dalam mobil.

__ADS_1


“Hei, hei. Yuli!!!” BUK!!!  Yuli lebih dulu menutup pintu dan menguncinya dari dalam mobil.


“Wah, wanita ini benar-benar keras kepala.” Christ menggeleng menatap Yuli dari luar jendela mobil.


“Bagaimana, Bos? Kita pergi?” Gun sudah bersiap untuk mengemudi.


Christ mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil, dan mobil pun melesat pergi. Di dalam mobil, lagi-lagi Yuli kembali mengoceh.


“Omong-omong, bagaimana kau bisa mendapat ponsel milik pembunuh bayaran itu?”


Christ hanya diam, begitupun Gun yang hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


“Apa jangan-jangan kau….”


“Gun, injak pedal gasnya lebih dalam,” potong Christ. “Baik, Bos.” Gun pun menambahi kecepatan mobilnya.


“Astaga, apa kau tak mendengarkanku? Bukti yang kita dapatkan secara ilegal tidak akan pernah dapat digunakan di pengadilan, kau tak tahu itu?” Yuli terus merengek dan mengoceh.


“Sssttt. Sudahlah, Yul. Bukankah sudah waktunya kau terbiasa dengan cara kami? Illegal dan legal sama saja, bahkan Hakim panutanmu telah menolak bukti dan saksi meski itu legas, jadi, apa bedanya?”

__ADS_1


Yuli pun terdiam tak bisa berkata-kata lagi.


__ADS_2