
Sesekali Guntur juga membantu Asep untuk merapikan tempat itu kembali.
Tanpa rasa takut sedikitpun, Yuli melangkah masuk ke dalam ruangan.
“Hei, bukankah kau wanita tadi?” tanya Asep melihat Yuli yang menyerobot masuk.
“Minggir kau!” Yuli mendorong Asep, dan melihat sekelilingnya.
Dia melihat satu ruangan kantor yang ada di sudut. Di dalamnya terlihat Christ yang sedang duduk santai sembari membaca setumpuk berkas diatas meja.
“Hei, Nona! Kau pikir ini dimana? Kau tak boleh masuk sembarangan ke tempat itu,” seru Gun.
Guntur dan Asep mengikuti Yuli yang menyerobot masuk ke dalam ruangan Christ, sementara beberapa anak buah Asep masih membersihkan seluruh kantor.
Dan di tempat itulah, Yuli bertemu dengan Christ untuk pertama kalinya. Dia yang tak tahu apapun langsung melabrak Christ dengan ketus.
“Hei, apa kau bos disini?” tanya Yuli ketus.
__ADS_1
Dalam hatinya, Christ tersenyum kecil, dia tak menyangka jika Yuli, wanita yang dia sukai sejak pandangan pertama, akan datang dan melabraknya di tempat itu.
“Ada apa, Nona? Apa yang kau lakukan di kantorku? Kau pelanggan pertama, tapi memberikan kesan yang sangat buruk,” ucap Christ santai.
“Kau tak boleh mencuri barang-barangku, hanya karena ayahku tidak mampu membayar bunga tinggi dari pinjaman yang kau berikan padanya.”
WURR!!!!
Yuli melemparkan kembali surat perjanjian hutang dari Asep, tepat ke wajah Christ.
“Ayolah, yang benar saja kau, Nona. Kenapa kau bertingkah seperti itu?” Gun menahan lengan Yuli untuk menyeretnya pergi.
Christ malah semakin tertarik dengan sikap Yuli yang memiliki jiwa pemberontak itu.
“Hmmm. Sungguh disayangkan, aku tak bisa melaporkanmu ke polisi hanya karena kau melemparkan kertas ini.” Christ merapikan kembali kertas yang berserakan.
“Sepertinya kau sangat lihai dalam melakukan kekerasan, Nona.” Christ tersenyum menatap Yuli.
__ADS_1
“Undang-undang di tahun ini sudah berubah total. Kontrak pinjaman keuangan tak boleh melebihi bunga 10 persen pertahun, apa kau tak mengerti?
Sedangkan kau memberikan suku bunga diatas 20 persen. Apa itu masuk akal bagimu?”
“Ah, rupanya begitu.” Christ baru sadar, jika Yuli datang untuk memberikan protes atas pinjaman. Dia belum sempat untuk mengganti semua papan dan banner. Mengganti tempat itu menjadi firma hukum miliknya.
Karena itulah Asep dan anak buahnya masih terus menagih hutang bagi para kreditur yang masih memiliki tagihan di koperasi miliknya.
Christ belum memberitahukan padanya jika dia akan membangun sebuah firma hukum di tempat itu.
“Pasal 8 UU Pendaftaran Bisnis Kredit dan Perlindungan Pengguna Keuangan.” Christ berdiri dan balik mendebat Yuli sebagai seorang pengacara yang memiliki tarif termahal.
“Kami akan menyesuaikan itu. Namun, bagaimana kau bisa tak tahu malu dan berkata, bahwa kami tak bisa menaikkan suku bunga, sementara cicilanmu selalu terlambat?”
“Bukan hanya itu. Aku yakin bisnis pinjaman ini tak terdaftar secara resmi, bukan? Haruskah aku menelpon polisi untuk melapor?” Yuli tak ingin mengalah begitu saja.
“Terserah kau saja. Kau bisa menghubungi nomor 13089, nomor layanan pelanggan Badan Pengawas Keuangan. Laporkan semua ini, maka kau sendiri juga akan ditangkap.” Christ sedikit menata kemejanya.
__ADS_1
“Kau meminjam uang dari lembaga yang ilegal, dan kau menolak mengembalikan uang itu, dan malah menyebut kami ilegal, bukankah itu lucu?