SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 062


__ADS_3

Christ menghela nafas panjang, lalu berjongkok, “Miko hanyalah boneka. Ada orang yang mengendalikannya, dan dia adalah ketua majelis hakim yang menangani kasusmu ini. Lusi, dia adalah dalang dibalik semua itu.”


Jono tercengang menelan ludah mendengar itu. Dia masih tak percaya bahwa Hakim Lusi yang disegani banyak masyarakat adalah dalang dibalik kematian walikota, dan mungkin saja dia juga dalang dibalik kematian ibu kandung Christ.


“Apa kau sudah lupa? Aku pernah berkata padamu, kau harus bersyukur tinggal di negara ini, karena masih banyak pejabat tinggi yang melindungimu.


Sebuah pembunuhan dengan hukum. Dia membunuh siapapun yang ingin dia bunuh dengan hukum di pengadilan. Tempat yang paling dikuasainya.”


Christ berdiri, mengulurkan tangannya pada Jono. “Bangunlah!”


Jono pun meraih tangan Christ, lalu berdiri dan kembali ke kursinya.


“Dalam persidangan yang akan kita jalani, kita bukan lagi melawan seorang jaksa penuntut, melainkan seorang ketua Majelis Hakim itu sendiri, Hakim Lusi.”


Christ pun juga kembali duduk ke kursinya.


“Kau tidak sedang berbohong padaku, bukan?” tanya Jono ragu.

__ADS_1


“Ingatlah ini baik-baik. Orang yang bisa mengendalikan keputusan bukanlah hakim, tapi pengacara, dan satu satunya orang yang cukup gila agar kau menang dalam persidangan ini hanyalah aku. Ingatlah dua hal itu.”


Christ berdiri, menepuk pundak Jono, lalu pergi meninggalkannya.


***


Keesokan harinya, tepat sidang ketiga atas kasus pembunuhan walikota yang dilakukan oleh Jono akan berlangsung.


BRUM!!!


Suara knalpot bercampur mesin dari mobil Christ terdengar begitu gahar. Berhenti dan terparkir tepat di depan halaman gedung pengadilan.


“Apa kau siap?” tanya Christ.


“Tentu.” Yuli mengangguk.


Mereka berdua pun keluar dari mobil, menaiki tangga menuju ke ruang pengadilan.

__ADS_1


Di depan ruangan sidang, Christ berpapasan dengan Miko yang ditemani asistennya. Saat itu Miko juga menggunakan pakaian yang rapi, sepertinya dia juga akan melihat sidang hari itu.


Christ menghentikan langkahnya sejenak. Matanya tertuju pada Miko yang melintas di depannya. Saat itu juga, dia benar-benar yakin bahwa Miko adalah ketua preman yang membunuh ibunya 20 tahun silam.


Masih teringat jelas di otak Christ, semua ciri-ciri dari orang yang telah membunuh ibunya. Bertubuh tinggi jangkung, wajah yang sangat pucat, serta suaranya yang sedikit serak saat berbicara.


Semua ciri-ciri itu ditemui Christ pada Miko yang berpapasan dengannya. Hanya berbeda dari rambut Miko yang sudah mulai memutih karena umurnya yang menginjak 50 tahun.


Dia terus menatap Miko yang sedang berjalan dan mengobrol bersama asistennya, hingga halaman gedung. Pandangannya tak luput sama sekali saat memandangi Miko.


“Ada apa? Kenapa kau berhenti?” tanya Yuli.


“Tak ada.” Christ tersenyum kecil, lalu memasuki ruangan sidang.


Di dalam ruangan, telah banyak warga sipil yang sudah hadir untuk melihat sidang di hari itu. Terdakwa, Jaksa penuntut, serta saksi juga sudah duduk di tempatnya masing-masing.


Christ segera duduk disamping Jono, dan mempersiapkan segalanya. Dari tempat duduknya, Christ melihat ke pojok ruangan. Miko dan asistennya baru saja menempati tempat duduk di paling ujung.

__ADS_1


“Menurutmu, kenapa Miko memilihmu sebagai pemeran utama sekaligus pengganti yang membunuh walikota Joko?” tanya Christ lirih.


“Sudah kubilang, aku tidak tahu itu,” ucap Jono ketus. Dia juga melihat ko pojok ruangan tempat Miko dan asistennya berada.


__ADS_2