
Di depan gedung firma hukum, semua tukang pukul Bagas bergegas menuju mobilnya masing-masing. Salah satu orang membukakan pintu mobil untuk Bagas, lalu mobil pun melesat pergi meninggalkan halaman gedung.
Tanpa mereka sadari, ternyata asisten Miko mengawasi mereka dari kejauhan. Diseberang jalan, di dalam mobilnya, asisten Miko melihat Bagas dan semua tukang pukulnya pergi meninggalkan gedung.
Dia bergegas menghubungi Miko untuk melaporkan apa yang baru saja dilihatnya.
“Halo, Pak Ketua. Baru saja Bagaskara dan beberapa Tukang Pukulnya kembali dari firma hukum milik Christianto. Sepertinya Dia dan Christ juga membicarakan persidangan yang terjadi.
“Tunggu, jadi maksudmu, Bagas datang jauh-jauh ke Bekasi hanya karena persidangan itu?”
“Ya, anda benar, Pak. Aku yakin sekali dengan itu.”
“Ah, Sial.” Buk!!! Terdengar suara barang yang dibanting Miko ke lantai. Asistennya sampai menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Christianto dan Bagaskara? Apa hubungan mereka berdua ini? Kenapa semua orang bodoh itu tertarik dengan persidangan sampah? Astaga, ini membuatku gila. Baiklah, sudah dulu.”
Miko pun memutuskan sambungan telepon.
***
__ADS_1
Kembali di kantor firma hukum Christ. Di ruangan pribadinya, Christ sedang berbincang dengan Gun tentang ponsel milik pembunuh bayaran yang telah berhasil dibuka oleh Gun.
Pagi tadi saat pemakaman Si Pembunuh Bayaran berlangsung, Gun berhasil menyelinap masuk ke kamar jenazah yang akan dikremasi, mencari Si Pembunuh, lalu membuka ponsel itu dengan sensor wajahnya.
Itulah yang dimaksud Christ meretas ponsel secara manual, bukan secara program.
“Aku sudah menemukan riwayat panggilan di ponsel pembunuh bayaran itu, dan dia tidak menyimpan nomor dengan nama satupun itu.” Gun memberikan ponsel itu pada Christ.
“Sortir lah beberapa nomor yang paling sering dihubunginya sebelum dia meninggal. Aku yakin nomor telepon terbanyak yang dihubunginya adalah nomor Miko.”
“Baik, Bos.”
“Menurutmu, siapa orang yang akan marah besar, kalau dia mendengar bahwa ponsel pembunuh ini ada ditanganku?”
“Siapa lagi kalau bukan pria tua itu,” sahut Gun tersenyum.
“Baiklah, Gun. Sepertinya, aku akan kembali ke Jakarta dulu. Ada beberapa barang yang harus aku ambil di rumahku. Aku titip firma hukum padamu. Mungkin besok pagi, aku sudah kembali ke kota ini.”
“Baik, Bos.”
__ADS_1
Christ pun keluar dari ruangannya dan berpamitan pada Yuli.
“Selamat malam, paralegal Yuli. Sampai jumpa di pengadilan. Aku pergi dulu.”
“Ya, baiklah,” ucap Yuli.
“Hati-hati di jalan, Bos.” Gun mengantarkan Christ sampai pintu ruangan.
Setelah Christ pergi, Yuli merenung di tempat duduknya. Berpikir keras. Siapa sebenarnya Christ? Apa latar belakangnya? Kenapa dia sangat ingin kasus pembunuhan walikota Joko?
Apa hubungannya dengan Miko, ketua ASARON GROUP? Kenapa Christ tak percaya dengan Lusi? Siapa pria tua yang baru saja ditemuinya di kantor itu?
Isi kepala Yuli penuh dengan semua pertanyaan itu. Dia mencoba menghubung-hubungkan antara satu masalah dengan masalah lainnya, hanya untuk memenuhi rasa ingin tahunya.
***
Di suatu malam di kediaman Lusi. Beberapa petinggi dari kota Bekasi berkumpul di pekarangan belakang rumahnya.
Lusi sengaja mengumpulkan para petinggi kota Bekasi untuk menikmati makan malam di rumahnya, sembari membicarakan tentang apa rencana selanjutnya agar kota Bekasi lebih maju.
__ADS_1
Mulai dari pergantian walikota, hingga pembangunan proyek besar yang sempat tertunda.