
Sementara Lusi, dia pergi ke ruang pengadilan bersama Miko yang terus membuntutinya. Lusi terus menunjukkan wajah kesal dan ketus karena kejadian yang baru saja terjadi.
“Bu Hakim, dengarkan aku!” Miko berjalan cepat, lalu berdiri tepat di depan Lusi.
plas plas plas plas
Lusi menamparnya berulang kali hingga pipi Miko memerah. “Dasar, Bodoh! Bisa-bisanya kau membuat upacara peresmian patung ayahku rusak seperti itu?”
PLAAS Satu kali tamparan lebih keras diberikan Lusi. Miko hanya diam menunduk.
“Apa kau masih berharap bahwa kau akan menjadi walikota, setelah masalah yang kau timbulkan ini? Ah, Sial!” PLASSS!!!!!
Lusi melampiaskan semua amarahnya dengan terus menampar Miko.
“Berandal itu, Christianto. Dia membuatku gila.” Lusi berjalan mondar-mandir di ruang pengadilan.
“Aku sudah tahu identitas asli Christianto, Bu Hakim. Akan tetapi, sebenarnya aku tak ingin membicarakan hal ini padamu. Apa anda masih mengingat Lili?”
“Salah satu saksi yang terlibat dalam kasus 20 tahun lalu, yang mana ayahmu lah yang menjadi Hakim pada saat itu. Christianto adalah anak kandung Lili. Dia ingin membalaskan dendam pada semua orang yang terlibt dalam kematian ibunya.”
__ADS_1
Lusi tercengang mendengar pernyataan Miko. Memegang kepalanya, lalu menyuruh Miko pergi “Pergilah!”
“Apa maksudmu, Bu Hakim? Kau ….”
“Aku mengerti, Miko, jadi, pergilah. Aku tak ingin melihat wajahmu.”
Miko pun menunduk, lalu pergi dari ruang pengadilan.
Di depan ruangan, Miko kembali bertemu dengan Christ.
“Astaga, ternyata kau masih saja seorang kacung. Tak ada yang berbeda darimu selama lebih dari 20 tahun terakhir,” ucap Christ melihat Miko yang keluar dari pengadilan.
“Sebelumnya, maafkan aku Hakim Lusi.” Christ pun masuk ke dalam ruang pengadilan. Melihat Lusi yang berdiri dan melamun. “Gara-gara kedatanganku, peresmian patung ayahmu jadi kacau balau.”
“Sepertinya aku tidak mengundangmu di acara ini.”
Christ tersenyum melangkah mendekati Lusi. “Biasanya bintang pesta adalah tamu yang tak diundang, bukan begitu?”
“Kenapa kau menghancurkan pesta peresmian patung ayahku?”
__ADS_1
“Bukankah kita adil? Aku menghancurkan pesta peresmian patung ayahmu, dan kau juga menghancurkan Jono di persidangan. Padahal bukti yang kupunya sudah sangat jelas.”
“Aku juga tahu, bahwa kau membiat Miko, mantan preman kampung itu menjadi walikota dengan kekuasaan yang anda punya, apa aku salah? Aku akan menjamin kau tak akan bisa melakukan semua itu.”
Lusi mendengus. “Apa kau sekarang mencoba untuk menjebakku?”
“Selama aku bisa berdiri di depan pengadilan, aku bisa pastikan orang yang tidak bersalah tidak akan dibunuh oleh hukum yang kau buat lagi.”
“Hahahaha, baiklah. Ternyata kau sangat mirip dengan ibumu, Lili. Meski dia hanya seorang saksi, tapi dia sangat nekat dan berani.”
“Tutup mulutmu! Jangan pernah menyebut nama ibuku sembarangan,” tegas Christ.
“Apa kau pikir, kau adalah orang pertama yang datang menemuiku seperti ini? Ratusan orang yang mendatangiku sepertimu, tapi, mereka semua gagal.”
“Aku akan menunjukkan padamu, bagaimana akhir dari semua ini. Meski aku gagal dalam persidangan, aku akan menggunakan cara lain yang tak pernah kau lihat sebelumnya.”
Lusi mendengus. Melangkah pergi dari ruang pengadilan.
Di kantor Lusi, Miko kembali datang bertemu dengannya. Dengan wajah yang ditekuk, membuka pintu perlahan dan mendekati Lusi yang duduk di kursi. Membungkuk hormat dengan begitu sopan.
__ADS_1