SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 079


__ADS_3

“Maafkan aku, Bu Hakim.” Miko membungkuk.


“Ruang persidangan ku adalah ruangan yang suci. Tak ada satu orang pun yang bisa mengganggunya. Kau harus ingat itu.”


“Baiklah, Bu Hakim. Aku mengerti. Kalau begitu, aku permisi dulu.”


Miko pun berbalik, lalu pergi dari kediaman Lusi dengan langkah lesu.


Di halaman rumahnya, asisten pribadi Miko telah bersiap membukakan pintu mobil untuknya, lalu mobil pun melesat pergi.


KRING!!!! Ponsel Miko berdering.


“Ini semua gara-gara kau!” Orang itu langsung marah-marah saat Si Asisten yang mengangkat panggilan.


“Apa kau lupa, bahwa aku sudah menyuruhmu untuk bersembunyi sampai kami mencarikan kapal untukmu?”


“Ah, sial. Apa-apaan ini? Apa kau sedang bercanda?”


“Sudahlah, aku tutup dulu.” Si Asisten pun kesal, lalu menutup teleponnya.


“Apa itu dari Si Gebong perdagangan ilegal itu?” tanya Miko.

__ADS_1


“Benar, Pak Ketua. Pras yang baru saja menelpon.”


“Ckckckckck. Pria sejati seharusnya tidak memperbesar masalah seperti itu.”


“Sepertinya dia takut karena kemarin Christ dan anak buahnya telah menginterogasinya dengan kejam,” ucap Si Asisten.


Tak lama kemudian, ponsel Miko kembali berdering.


“Apa Si Bodoh itu menelpon lagi?” tanya Miko. “Dia pasti khawatir karena takut dia akan mati. Astaga, merepotkan saja.”


“Bukan, Pak Ketua. Ini… ini telepon dari Si Pembunuh Bayaran.” Si Asisten tercengang melihat panggilan yang baru saja masuk.


“Baik, Pak.” Si Asisten pun mengangkat.


“Astaga, maafkan aku Tuan-tuan, tapi aku bukan pembunuh bayaran seperti yang kalian pikirkan.” Terdengar jelas bahwa itu suara Christ. “Kau mungkin tidak perlu berbicara denganku, tapi kau juga tak bisa menutup teleponnya.


Kau pasti sangat dilema dengan kejadian ini. Aku cukup penasaran apa yang dibahas oleh kau dan Si Pembunuh Bayaran itu lewat telepon ini, dan kuharap, kita juga bisa sering bicara lewat telepon seperti ini.


Kau tak boleh mengabaikan telepon dariku, mengerti?”


Sambungan telepon pun terputus. Miko dan Asistennya sama sekali tak mengatakan sepatah katapun saat itu.

__ADS_1


BRUM!!!!!  WHUSSS!!!!!


Suara knalpot bercampur mesin mobil Christ terdengar cukup gahar dari dalam mobil Miko. Dari belakang mobilnya, mobil Porsche milik Christ melesat dengan kencang. Menggeber dan menyalip mobil Miko yang berjalan cukup pelan.


“Christianto! Bocah tengik itu membuatku semakin pusing,” ucap Miko melihat mobil Porsche yang menyalip mobilnya.


***


Di pengadilan tinggi kota Bekasi, Majelis Hakim yang bertugas dalam kasus pembunuhan walikota Joko berkumpul untuk membahas bukti keabsahan bukti rekaman yang didapat oleh Christ.


Christ sebagai pengacara pembela dan Sri sebagai Jaksa penuntut juga ikut serta dalam rapat itu.


“Bukti rekaman yang diajukan oleh pihak pembela, tidak akan diterima di pengadilan.” Lusi memberikan file bukti rekaman kepada Christ.


Christ mendengus. Dia sudah tahu bahwa Lusi pasti menolak bukti berbentuk rekaman yang dimilikinya.


Jika Lusi tak menolaknya, maka persidangan akan benar-benar usai. Miko terseret sebagai tersangka utama, lalu Lusi juga  akan terseret karena dia adalah dalang dari semua kejahatan yang dilakukan Miko.


“Apa boleh  aku bertanya alasannya?” tanya Christ.


“Ini memang sudah keputusan pengadilan dan dari semua Majelis Hukum yang bertugas dalam kasus ini,” sahut Hakim lain. Dan hakim itu adalah Hakim pria yang kepergok dengan Christ saat memotret rok pendek wanita saat di dalam bus.

__ADS_1


__ADS_2