SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 096


__ADS_3

Malam harinya di sebuah pusat kebugaran di Bekasi. Terlihat Christ yang menyempatkan diri untuk berolahraga di tempat itu. Mengenakan setelan pakaian olahraga, dengan kaos oblong putih dan celana training.


Hari demi hari, minggu ke minggu, bahkan hingga satu bulan penuh, Christ tak sempat melakukan olahraga. Hari-harinya dipenuhi kesibukan oleh persidangan dan balas dendam yang telah direncanakan olehnya.


Dan di malam itu, dia menyempatkan diri untuk berolahraga agar tetap menjaga stamina dan daya tahan tubuhnya.


Mulai dari olahraga kardio, berlari diatas treadmill, lompat tali, hingga olahraga beban, seperti mengangkat dumbel, barbel dan beban lainnya untuk memompa otot.


2 jam lamanya Christ berolahraga. Di akhir olahraganya, tak lupa dia melakukan sparing tarung bebas. Salah satu pelatih kick boxing di pusat kebugaran itu diajaknya untuk sparing malam itu.


Pertarungan pun diakhiri dan dimenangkan oleh Christ. Sang pelatih Kick boxing pun juga salut dan kagum dengan kemampuan bertarung yang dimiliki oleh Christ.


Usai sparing pun mereka saling bersalaman dan berpelukan bak seperti petarung profesional yang sportif. “Kerja bagus, Kawan,” ucap Christ.


Sang pelatih pun hanya tersenyum, lalu segera kembali ke ruangannya.

__ADS_1


Tanpa Christ sadari, ternyata Sri melihatnya semenjak kedatangannya di pusat kebugaran itu. Sri melihat semua yang dilakukan Christ selama 2 jam di tempat itu.


Saat Christ duduk di salah satu alat Gym, dan melepas sarung tinjunya, Sri pun berjalan mendekat. Dia masih mengenakan setelan jas yang dipakainya saat persidangan tadi pagi.


plok plok plok “Astaga, Pengacara Christianto. Sepertinya kau memang terlahir dengan semangat  yang terus membara. Saat malam tiba, kau masih saja menyempatkan waktumu untuk berolahraga.” Sri bertepuk tangan lirih.


“Harus kuakui, rencanamu telah berhasil saat di persidangan tadi. Kau juga telah berhasil menarik perhatianku.”


“Tidak juga. Sebenarnya itu bukan tujuan utamaku, tapi, aku senang aku telah berhasil merebut perhatian musuhku.” Christ membuka tumbler air, lalu menenggak minuman protein yang ada di dalamnya.


“Dia kabur dan kami masih mencoba melacaknya hingga saat ini,” jawab Sri ketus


“Ah, rupanya dia kabur. Aku sangat penasaran, siapa yang memberinya informasi. Aku yakin pasti ada seseorang yang telah memberitahunya, bahwa namanya tersebut saat persidangan.”


“Jika tidak, maka mustahil dia kabur begitu cepat, padahal, aku yakin para penyidik pun langsung bertindak cepat setelah persidangan berakhir, bukan begitu?”

__ADS_1


Sri mendengus. “Apa kau mencurigai orang-orangku dan timku yang telah memberitahunya? Atau … apa kau mencurigaiku karena aku Jaksa penanggung jawab atas kasus ini?”


“Astaga, kau selalu berpikir negatif, padahal aku tak berkata demikian.” Christ berdiri balik menatap Yuli. “Aku tahu bukan kau yang pasti. Aku yakin bahwa kau adalah Jaksa yang ingin menegakkan keadilan.”


“Pak Christianto! Apa sebenarnya tujuanmu di persidangan ini?” tanya Sri dengan nada tinggi.


“Kenapa aku harus memberitahumu? Bagaimana denganmu sendiri? Apa tujuanmu menjadi Jaksa? Jika aku memberitahumu alasanku sebenarnya, aku yakin kau akan kecewa.”


“Aku berbeda denganmu, Jaksa Sri. Aku tidak hanya berjuang hanya demi keadilan saja.” Christ tersenyum, lau berbalik pergi meninggalkan Sri.


“Entah itu demi keadilan atau karena rasa tanggung jawabmu, orang yang mengungkap kebenaranlah yang akan menang, meski dia harus kalah di persidangan.”


“Hahahahaha.” Christ terkekeh. “Bukankah aku pernah bilang padamu? Kita memang musuh, tapi kita juga mengejar hal yang sama, yaitu kebenaran.” Christ pun melanjutkan langkahnya.


Sri masih berdiri dan kembali memikirkan perkataan Christ.

__ADS_1


“Ada benarnya juga perkataannya. Bagaimana mungkin asisten Ketua Miko bisa kabur secepat itu tanpa ada yang memberitahunya?” gumam Sri dalam hati.


__ADS_2