SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 050


__ADS_3

“Kalau begitu, aku permisi dahulu.” Si Perawat menunduk, lalu pergi meninggalkan Christ di ruangan.


Christ menggeleng-gelengkan kepalanya, sesekali memegang bahu dan memijatnya sendirian.


“Astaga, banyak sekali darah yang mengenai kemejamu.” Yuli berdiri mengambil kapas dan tisu, lalu membersihkan bekas darah yang masih terlihat jelas di kemeja Christ.


“Pantas saja kau seperti ini, kau menghajar semua preman tadi secara brutal.”


“Hahaha. Itu bukan apa-apa. Aku juga sudah lama tak menghajar preman kampung seperti itu. Aku tidak seperti yang dulu lagi. Dulu, mungkin aku bisa saja membunuh mereka semuanya.” Christ menyeringai lebar.


“Sepertinya kau lebih berbakat menjadi petarung, daripada menjadi pengacara.” Yuli kembali ke kursi dan mengambilkan jas Christ, dan membantu menggunakan jas itu.


“Menurutku, seorang pengacara harus mampu bertarung untuk menyelamatkan kliennya saat mereka dalam bahaya. Persis yang terjadi di film laga hollywood.”


“Tapi kenapa preman-preman tadi menculikku? Bukankah itu aneh?”


“Aku sudah bilang padamu saat itu. Begitu kau mulai bekerja denganku, maka banyak rintangan yang harus kau hadapi.” Christ menatap Yuli yang merapikan dasinya.


“Pokoknya, aku tak ingin melihat film laga lagi, sama seperti yang aku lihat tadi, kau mengerti?”


“Hahahahahaha.” Christ terkekeh mendengar ucapan Yuli yang masih saja ketus walau sebenarnya dia khawatir.

__ADS_1


“Apa-apaan ini? Kenapa kau tertawa?”


BUK! Yuli meninju dada Christ. “Apa kau punya rencana lain dalam persidangan ini?”


“Ya, tentu. Selama persidangan berlangsung, aku dan semua anak buahku mungkin akan ditahan.”


“APA?!” seru Yuli dengan keras. “Ditahan? Apa maksudmu?”


“Kau akan tahu sendiri nanti. Sekarang, mari kita segera kembali ke ruang pengadilan. Waktu kita hampir habis untuk ini.”


Christ tersenyum, lalu pergi dari ruangan medis dan kembali ke ruang sidang.


Di pengadilan, beberapa orang telah kembali berdatangan untuk melihat sidang berlangsung, begitupun dengan para Jaksa penuntut, terdakwa dan Hakim yang baru memasuki sidang.


“Ternyata kau sangatlah payah,” ucap Jono ketus. “Kalau kau menjaga sikapmu, pasti Hakim Lusi juga bersikap adil, jadi, kau harus menjaga sikapmu.”


Christ hanya mendengus “Apa menurutmu dia seperti itu? Apa kau tak tahu, siapa dia sebenarnya?”


“Apa maksudmu?” tanya Jono tak mengerti.


“Astaga, sepertinya kau memang benar-benar tak mengerti. Aku lupa jika kau hanya seorang detektif boneka.” Christ menatap Jono serius.

__ADS_1


Persidangan pun segera dilanjutkan, semua orang berdiri, menunggu kedatangan Hakim, lalu duduk kembali.


“Baiklah, semuanya. Sidang akan segera berlangsung,” ucap Lusi.


“Yang Mulia Hakim!” Seru Christ berdiri dari tempat duduknya. “Ada beberapa hal yang harus saya katakan sebelum sidang ini dimulai.”


“Apa itu?” tanya Lusi.


“Saya ingin Majelis Hakim sidang ini diganti,” tegas Christ. Dia melihat kedua hakim pembantu yang duduk di sisi kiri dan sisi kanan Lusi.


Semua mata tertuju pada Christ saat itu.


Lusi tersenyum kecil. “Baru saja anda terlambat selama tiga puluh menit dan apalagi ini, anda meminta untuk mengganti Majelis Hakim?”


“Ya, saya tidak sedang bermain-main dengan ucapanku. Saya ingin anda mundur memimpin sidang dalam kasus ini.” Christ menyeringai lebar menatap Lusi serius.


“Hmmm, begitukah? Apa bisa anda jelaskan alasannya? Akan tetapi, jika alasan itu tidak masuk akal, maka anda akan mendapat hukuman. Silahkan!”


Christ tersenyum lebar. Dia mengambil ponsel di dalam sakunya, lalu maju ke hadapan Hakim Utama, disusul dengan Jaksa penuntut, Sri yang berdiri di sebelah Christ.


“Diantara para Majelis Hakim disini, ada orang yang sangat mempermalukan dan menghancurkan integritas pengadilan tinggi.”

__ADS_1


Christ menatap salah satu hakim yang duduk di sisi kiri Lusi.


“Siapa itu?” tanya Lusi.


__ADS_2