
“Wah, sepertinya ibumu sangatlah hebat saat membesarkanmu. Kau tumbuh dengan baik dan kau juga sukses dalam karirmu. Lihatsaja itu.” Ayah Christ menatap mobil Porsche Christ dari balik jendela.
“Aku tahu mobil itu sangatlah mahal, dan pastinya kau lebih memiliki banyak uang dari harga mobil itu. Bahkan harga satu mobil itu, dapat membeli lima kali lipat rumah yang sedang kutempati ini.”
Christ tersenyum dan menunduk. Tersipu malu karena Ayah Yuli terus memujinya.
“Ibunya Yuli pun juga sudah meninggal cukup lama, sama sepertimu juga. Aku ingin kelak, Yuli menjadi Hakim adil yang mewakili Kota Bekasi seperti Hakim Lusi. Itulah impianku, Pengacara Christ.”
Christ terdiam. Dia tak menyangka bahwa Ayah Yuli juga sangat terobsesi dengan semua kebaikan palsu Lusi yang ditunjukkannya sebagai pencitraan. Tak mungkin baginya untuk membahas Lusi saat itu.
Dia hanya diam dan menyeruput teh di dalam gelas. Entah bagaimana caranya Christ akan membuktikan pada Yuli bahwa Lusi tak sebaik yang dia pikirkan.
***
Di kantor firma hukum KING LAWYERS, terlihat semua anak buah Asep sedang berada di ruang utama. Mereka duduk memenuhi sofa melingkar mengelilingi meja, memainkan kartu poker.
Saat Christ datang, semuanya berdiri serempak memberi salam.
SELAMAT MALAM, BOS!!
__ADS_1
“Astaga, kalian berlebihan sekali. Dimana Guntur?”
“Dia ada di dalam ruangan mu, Bos,” ucap salah satu anak buah.
“Ah, baiklah. Kalian boleh melanjutkan itu.” Christ segera pergi menemui Gun, sementara anak buah Asep kembali bermain kartu poker.
“Guntur!”
“Oh, kau sudah datang, Bos?” Gun beranjak dari tempat duduknya. Terlihat dia sedang mengotak atik beberapa ponsel sekali pakai di meja.
Dan itulah keahlian dari Gun. Dia bisa mengotak-atik alat elektronik dan memahami sedikit ilmu tentang peretasan.
“Astaga, bagaimana kau mendapatkan ponsel itu, Bos?” Gun terkejut mengambil ponsel itu.
Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Sri, jika Christ mengambil ponsel pembunuh bayaran itu dan menggantinya dengan ponsel lain. Hal itu Christ lakukan untuk menyelidiki dengan sendirinya.
Dari ponsel itu, maka pastilah tertera siapa saja nomor yang telah dihubungi oleh Si Pembunuh Bayaran.
“Saat aku bertarung dengannya, aku sempat mengambil ponsel itu dari saku belakang, lalu, menggantinya dengan ponsel lain yang kubawa saat dia bunuh diri.”
__ADS_1
“Wah, kau memang keren.” Gun mengacungkan jempol. “Sepertinya ini ponsel model terbaru. Ponsel ini sudah tak memakai sidik jari, tapi menggunakan sensor wajah.”
Gun mulai memeriksa ponsel itu. “Mungkin ini akan membutuhkan waktu 3 hati untuk membukanya jika aku menggunakan program. Apa itu terlalu lama?”
“Hmm, kau benar. Itu terlalu lama. Lakukan saja secara manual.”
“Oke, aku akan melakukannya.”
“Omong-omong, Gun. Bagaimana dengan broker penyelundupan itu? Aku yakin orang yang kemarin kita interogasi tak mengatakan yang sebenarnya. Astaga, aku lupa siapa nama gembong itu.”
“Pras.”
“Ah, benar. Itu dia. Aku yakin dia adalah orang yang memperkenalkan Si Pembunuh Bayaran itu kepada Miko.”
“Kau tenang saja, Bos. Aku sudah menyuruh Asep dan satu anak buahnya untuk mengawasinya. Mungkin, saat ini dia masih berada disana.”
“Saat ini, hanya dia satu-satunya cara agar kita bisa mengeluarkan Jono dari penjara. Kita harus membuatnya mengaku di pengadilan, kecuali, kita menemukan beberapa petunjuk yang ada di ponsel itu.”
“Baiklah, aku akan segera menyelesaikan ini, lalu memberitahumu.”
__ADS_1
“Pembunuh bayaran itu sudah mati sekarang, dan orang yang mempekerjakannya ingin menjadi walikota berikutnya. Astaga, kota ini sungguh sampah.” Christ menghela nafas panjang.