
Di ASARON GROUP, terlihat Roy yang mendatangi ruangan Miko untuk melaporkan kejadian yang baru saja gagal dilakukannya. Dia hanya menunduk di sofa dan siap menerima cacian, makian, dan bahkan pukulan.
Miko duduk di sofa sambil menggunting kukunya menggunakan alat pemotong kuku. Dia ditemani seorang bodyguard sekaligus asistennya yang berdiri di belakang sofa dengan tegap.
“Jadi, maksudmu semua anak buahmu yang sudah membawa berbagai senjata, masih bisa dihajar dengan pengacara itu?” Miko penasaran dengan cerita Roy.
“Benar, Pak. Dia sangat tangguh sekali. Dia bisa melumpuhkan lebih dari sepuluh anak buahku,” jawab Roy.
“Ah, sial! Kau masih saja beralasan. Aku tak ingin mendengar alasanmu. Aku bisa memaafkanmu, jika kau tidak berbicara sepatah katapun.”
“Baik, Pak.”
Roy malah menjawab itu yang membuat Miko semakin kesal. Sejenak dia melirik ke Roy dan, SLEB
“ARRGGGGG!!! Roy mengerang kesakitan. Miko menusuk pahanya menggunakan alat gunting kuku bagian tajamnya.
Roy meringkuk di sofa dan menahan rasa sakit itu.
Miko tak menunjukkan ekspresi apapun saat menusuk dan mencabut alat gunting kuku itu. Dia hanya bersikap datar seperti psikopat yang membunuh korbannya tanpa perasaan apapun.
__ADS_1
Miko mengambil tisu dan mengelap bekas darah yang mengotori gunting kukunya.
“Katanya, ada seseorang yang mendukung Christianto. Siapa itu?”
Roy membenarkan posisi duduknya, sembari menutup luka di pahanya menggunakan kain kacu.
“Bagaskara. Dia adalah bos mafia terbesar di Jakarta bahkan di negara ini. Memiliki banyak cabang bisnis dan tukang pukul yang tersebar di seluruh kota ini, Pak.
Dia mendirikan kerajaannya itu selama puluhan tahun. Baga juga merupakan mantan anggota mafia terbesar di rusia. Dia kembali ke Indonesia setelah bosnya terbunuh, dan mendirikan kerajaannya sendiri.
Tak ada satupun dari kelompok gangster atau preman yang berani mencari masalah dengan kelompoknya. Semua tukang pukulnya sangat terlatih dan tangkas saat bertarung.
“Hmmm, begitukah?” Miko sangat penasaran dan sedikit takjub dengan penjelasan Roy.
“Tapi, kenapa tiba-tiba kau ingin tahu tentangnya, Pak?”
“Entahlah, aku hanya ingin tahu saja, bagaimana dia bisa seorang diri mengalahkan semua anak buahmu. Jika dia dididik langsung oleh pamannya, maka itu sudah tak heran lagi.”
Miko berdiri mengambil botol alkohol, lalu menuangkannya ke dalam sloki. Meneguknya sekali tegukan.
__ADS_1
“Tak lama lagi, aku akan memberimu proyek besar. Kali ini, kuharap kau jangan sampai gagal lagi.”
“Proyek besar?” tanya Roy penasaran. Dia duduk dan memegang pahanya yang terluka, akibat Miko menusuknya.
“Ya, sebuah proyek besar. Kau akan tahu sendiri nantinya. Sekarang, kau boleh pergi dari sini.”
“Baik, Pak.” Roy berdiri dan membungkuk, lalu berjalan dengan pincang, ditemani dengan asisten Miko.
Tak lama setelah Roy pergi, Asisten Miko kembali dengan membawa paket.
“Pak Ketua, ini ada paket untumu.”
Dua buah paket. Salah satunya berukuran persegi seperti figura foto, sedangkan lainnya hanya sekotak kecil. Keduanya dibungkus dengan plastik dan lakban berwarna coklat.
“Apa itu?” tanya Miko melihat nama pengirim. “Apa lagi ini? Kenapa tak ada nama pengirimnya? Bukalah disini.”
“Baik, Pak.” Asisten Miko pun langsung membuka kedua paket itu menggunakan gunting yang ada.
“Apa-apaan ini?” Miko langsung merebut isi paket dari tangan asistennya.
__ADS_1
Paket itu berisi sebuah foto di dalam figura. Foto yang menunjukkan kejahatan yang pernah dilakukan oleh Miko, saat dia masih menjadi preman.