SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 054


__ADS_3

Miko terus melihat dan mengamati beberapa foto berukuran 5X6 yang berada di dalam figura itu.


“Bagaimana mungkin? Kenapa ini sangat detail sekali?” gumamnya dalam hati.


BRAK Dia membanting figura itu ke lantai dan merebut paket satunya di tangan asisten.


Paket satunya berisi sebuah batu berukuran sekepala anak bayi, bertuliskan, ‘mati kau!’  Tulisan itu ditulis menggunakan darah yang mengering, dan menempel di batu itu.


“Ulah siapa ini?” Miko menatap tajam semua paket itu.


Asistennya hanya diam, karena tak tahu apapun.


“Orang yang mengirimkan ini, pasti mereka tahu aku mencalonkan diri menjadi walikota, lalu mereka mengancamku dengan ini.”


Miko mengangkat satu kakinya, menyangga kepalanya dengan tangan kanan. Sesekali dia memukul-mukul dahinya sendiri. Berpikir keras.


“Untuk sekarang ini, biarkan dulu pengacara pendatang itu. Aku akan mengurus itu semua setelah aku menjadi walikota yang baru.”


“Baik, Pak Ketua.” Asistennya menunduk, lalu membereskan semua paket yang ada.


***

__ADS_1


Di NUSAKAMBANGAN, salah satu penjara kota Bekasi. Di dalam penjara itu telah dipenuhi oleh para napi-napi yang memakai baju serempak berwarna biru dongker.


Seragam yang mereka gunakan dibagi menjadi 2 bagian. Warna biru dongker, untuk mereka yang melakukan kejahatan ringan.


Sementara warna hitam, untuk mereka yang melakukan pelanggaran berat dan akan mendapatkan hukuman mati dalam waktu yang dekat.


Beberapa sipir terlihat menggunakan pakaian berseragam dan berjaga-jaga di setiap sudut penjara dengan sigap.


Penjara itu memiliki bangunan dan tanah yang cukup luas dan besar. Sel-sel tahanan bagi para napi terlihat sangatlah rapi, berjajar panjang seperti lorong yang sangat panjang.


Sel tahanan berukuran 4X4 dengan tinggi 2 setengah meter. Setiap sel tahanan berisi delapan hingga 12 orang maksimal.


Selain itu, terdapat juga fasilitas keamanan seperti pintu yang kokoh, jendela dari besi, sensor kebakaran, senjata tajam dan sistem keamanan lainnya.


Di dalam sel nomor 691, disanalah tempat Christ, Gun, Asep dan semua anak buahnya ditahan. Mereka telah mengganti bajunya menggunakan baju tahanan berwarna biru dongker, sama seperti para napi lainnya.


Gun, Asep dan semua anak buahnya bersenda gurau di dalam sel itu, tanpa merasa marah, kesal, atau tertekan sedikitpun.


Mereka saling tertawa dan kembali membicarakan apa yang telah mereka perbuat saat di dalam pengadilan tadi pagi.


“Astaga, aku sangat lega.” Christ keluar dari toilet. “Lihatlah WC dengan model lama ini, aku jadi ingat pada jaman dulu saat aku masih kecil.”

__ADS_1


“Aku juga merasa seolah aku baru pulang dari liburan yang panjang, Bos,” sahut Asep.”


“Hmmm, benarkah?”


“Tentu,” seru Asep.


Saat Christ beranjak duduk, Asep dan anak buahnya langsung duduk di sekeliling Christ dan memijat, bahu, tangan, pundak dan kakinya.


“Hei! Hentikan, apa-apaan ini? Kalian tak perlu melakukan ini.” Christ menyingkirkan semua tangan mereka dari tubuhnya.


“Omong-omong, kalian sangat pandai berakting saat di pengadilan tadi, jadi, mulai sekarang, aku akan mengandalkan kalian. Aku juga akan menaikkan gaji kalian, jika kalian terus bekerja dengan benar.”


SIAP BOS


Semua mengangguk, berseru serempak.


“Jadi, apa rencanamu selanjutnya, Bos?” tanya Gun.


“Nanti kau tahu sendiri, Gun. Aku pun masuk kemari karena memiliki tujuan lain. Ada hal yang akan kita urus di penjara ini.”


“Apa? Kau… Tujuan lain? Apa maksudmu, Bos?” Gun tak mengerti.

__ADS_1


__ADS_2