SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 106


__ADS_3

“Jika dia tidak berhasil kabur saat itu, apa kau akan tetap membunuhnya?”


“Ah, sial! Aku tak mengerti apa maksudmu.” Baru saja dia duduk dan berbicara dengan Yuli, kini dia kembali berdiri dan beranjak pergi dari ruang temu itu.


“Saat itu umur dia masih 10 beranjak ke 11 tahun, dan ibunya dibunuh tepat di depan matanya. Dan kaulah salah satu Detektif yang berkomplotan dengan preman yang telah membunuh ibu Christ. Kau yang menculiknya saat dia hendak kabur.”


Yuli berdiri melangkah mendekati Jono. “Dan wanita yang kau culik saat bersamanya malam itu, apa yang kau lakukan pada wanita itu?”


Jono celingukan. Dia tak tahu apa yang harus dijawabnya saat itu. Karena memang benar adanya. Dia menculik ibu Yuli saat dia bertemu Christ yang akan hendak kabur saat itu.


“Kenapa kau diam saja? Jawab aku!” tegas Yuli. “Apa kau juga membunuhnya?”


“Membunuhnya atau tidak, memangnya apa urusanmu?”


Jono ketakutan. Dia melangkah mundur karena Yuli terus melangkah perlahan mendekatinya. Persis seperti saat dia tahu bahwa Christ adalah seorang anak kecil yang pernah diculiknya dulu.


“Tentu saja itu urusanku, karena wanita yang kau culik saat itu adalah ibuku.”

__ADS_1


“Apa? Tidak … Itu tidak mungkin.”


“Jawab pertanyaanku, Jono! Apa yang kau lakukan pada wanita itu? Dimana dia sekarang? Apa dia masih hidup?” Mata Yuli kembali berkaca-kaca saat mengingat ibunya kembali.


“Kau …. Apa kau sungguh putrinya?”


“Jawab aku, Brengsek!” Yuli menarik kerah Jono, lalu memukul wajah Jono dengan tasnya.


“Kau sungguh …”


“Katakan! Dimana dia? Apa dia masih hidup?”


*BRUKK!!! Yuli menjegal kaki Jono hingga Jono terjatuh. Jono meringkuk di pojok ruangan sambil menunduk. “Aku tak akan pernah memaafkanmu. Tak pernah sekalipun.”


***


Malam hari pun tiba, di kantornya sendiri, Christ sedang melamun sendirian balkon lantai tiga, tepat di depan kantornya. Semua anak buah Christ pun juga sudah terlelap saat itu.

__ADS_1


Tak seperti biasanya. Malam itu Chirst tak menggunakan pakaian formal dengan setelan jas borallronya. Hanya menggunakan celana levis denim dan jaket yang terbuat dari kulit domba asli.


Dia berdiri di depan pagar balkon dan melihat suasana luar gedungnya dari balkon itu. Menanti kehadiran Yuli tak kunjung datang sejak pagi.


Sejak pagi, Christ sama sekali tak beranjak dari kantornya. Dia hanya menyibukkan dirinya di kantor.


Begitupun dengan semua anak buahnya. Mereka hanya leha-leha dan bermain di kantor sejak pagi. Tak ada pekerjaan bagi Asep dan anak buahnya hari itu.


Tak lama kemudian, Yuli pun akhirnya datang. Langkahnya terdengar dari tempat Christ berdiri. Christ sedikit menoleh dan melihat Yuli yang sudah berdiri mematung di belakangnya.


“Kenapa kau baru datang saat malam begini? Darimana saja kau? Seharusnya kau melapor jika kau tak bisa datang, agar aku tak lama menunggu,” ucap Christ ketus.


Yuli masih saja diam. Perlahan dia mendekati Christ, lalu memeluknya dari belakang. “Bisakah kau tetap seperti ini sebentar saja?”


Christ pun membiarkan Yuli memeluk tubuhnya dengan erat selama beberapa menit. Christ sangat senang akhirnya Yuli bersikap seperti itu padanya.


Christ berbalik, memegang pinggang Yuli dan menatap matanya dengan tatapan dalam. Begitupun dengan Yuli, matanya kembali berkaca-kaca sambil menatap Christ.

__ADS_1


Mengangkat tangan dan mengusap pipi Christ. “Apa kau menjalani hidup dengan penuh dendam selama 20 tahun terakhir ini?”


__ADS_2