
“Tidak, kebenaran tidak akan terungkap. Kebenaran itu baru saja terkubur.” Christ menatap Miko serius.
“Apa maksudmu?” tanya Miko yang sepertinya memang tak mengerti jika pembunuh bayaran suruhannya telah meninggal karena bunuh diri.
“Pembunuh walikota Joko baru saja meninggal. Dia memilih untuk bunuh diri dengan menabrakkan dirinya ke kereta, daripada harus bersaksi di pengadilan. Kau tak tahu itu, Ketua Miko?”
Miko hanya diam dan menatap Christ dengan sinis dan penuh pertanyaan di di dalam kepalanya.
“Tepat sebelum dia meninggal, dia mengatakan padaku bahwa seseorang telah menyuruhnya untuk membunuh walikota Joko.
“Hmm, begitukah?” Miko masih menunjukkan sikap yang normal agar Christ tak mencurigainya.
Christ tahu bahwa Miko sudah mulai panik. Hanya saja, kacamata hitam membuat Christ tak bisa melihat tatapan mata Miko saat itu.
“Apa kau tidak penasaran, siapa nama yang disebut oleh pembunuh bayaran itu? Seseorang yang telah menyuruhnya untuk membunuh walikota Joko.”
__ADS_1
Miko mendengus dan tersenyum sinis. Mengangkat kedua tanngannya ke pinggang. “Kenapa memang? Apa Si Brengsek itu menyebutkan namaku?”
Emosi Christ mulai terpancing seketika. Dia menunjukkan raut wajah yang ketus pada Miko yang sama sekali tak merasa bersalah ataupun menyesali perbuatannya.
“Zaman sekarang ini, orang yang masih hidup saja susah untuk dipercaya, lalu kau, apa kau akan percaya dengan seseorang yang sudah mati?
Padahal, kau orang yang bekerja di bidang hukum, tapi kau tak bisa membedakan mana pengakuan yang asli dan mana yang sekedar hoax.”
“Hahahahahahaha.” Christ terkekeh mendengar ucapan Miko. “Asal kau tahu, Pak Ketua. Orang yang akan mendekati ajalnya, biasanya akan mengatakan hal yang sebenarnya. Kau harus ingat hal itu, Pak Miko.”
Sebuah mobil berhenti tepat di halaman kantor kejaksaan. Asisten Miko datang untuk menjemput majikannya.
“Sudah dulu ya. Aku ingin melayat mendiang walikota Joko agar jiwanya bisa beristirahat dengan tenang.” Miko berjalan mendekati mobilnya.
“Tunggu sebentar, Pak Pengacara.” Miko berbalik sebelum membuka pintu mobil. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya aku agak kenal denganmu, apa itu hanya karena aku sering mendengar tentangmu?”
__ADS_1
Christ menyeringai lebar. Berjalan mendekati Miko, disusul dengan Yuli yang sejak tadi mendengar percakapan mereka berdua. “Mungkin saja, aku juga cukup yakin jika kita pernah bertemu sebelumnya,” ucapnya.
“Oh, ya? Sepertinya juga begitu, tapi, kapan kita bertemu?”
“Entahlah, aku juga tak tahu pasti, kapan kita bertemu. Yang pasti, aku juga berasal dari Bekasi,” jawab Chirst. Tak sedikitpun Christ melupakan raut wajah seorang yang membunuh ibunya sendiri.
Masih teringat jelas di benak Christ. Seorang pria bertubuh jangkung kurus, yang telah membunuh ibunya sendiri.
Mantan seorang preman kampung yang kini menjadi pengusaha nomor satu di kota Bekasi karena sangat setia kepada para petinggi yang mengendalikannya.
Bisa saja Christ melumpuhkan, meumbangkan dan bahkan membunuh Miko saat itu juga. Christ tahu persis titik vital dari organ tubuh manusia.
Akan tetapi, Christ menahan semua amarahnya saat itu. Dia tak ingin rencana balas dendamnya berakhir dengan sia-sia.
“Wah, baiklah.” Miko melepas kacamata hitamnya menatap Christ. “Kalau begitu, sampai nanti.” Dia pun masuk ke dalam mobil, lalu melesat pergi dari kantor kejaksaan.
__ADS_1