SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 097


__ADS_3

“Kenapa kau datang sendirian? Dimana Christianto?” tanya Jono.


Pagi-pagi sekali Yuli telah mengunjungi Jono di NUSAKAMBANGAN. Hari itu dia datang sendirian.


“Aku datang kemari bukan untuk membahas persidangan.”


“Terus, kenapa kau datang kemari? Toh tak ada yang bisa kita bicarakan selain itu.” Jono duduk di kursi, dan sipir pun meninggalkannya.


Yuli hanya tersenyum kecil. “Aku ingin lebih tahu tentang Hakim Lusi. Bisakah kau menceritakan apa yang kau ketahui tentang Hakim Lusi?”


Jono memalingkan wajahnya. Dia bingung harus menjawab apa, karena melihat Christ yang tempo hari datang dan melarangnya untuk berbicara apapun pada Yuli.


“Kumohon padamu, Pak Jono. Ceritakan saja,” ucap Yuli.


“Aku … Bukankah kau sudah tahu, berapa lama aku menjadi polisi korup dan bekerja dengan mantan preman seperti Miko?”


“Ya, aku mengerti itu.” Yuli mengangguk.


“Ada seseorang yang selalu menyuruh Miko, tapi dia tak pernah mengungkap siapa dalang itu.”

__ADS_1


“Jadi, apa menurutmu dalang itu adalah Hakim Lusi?”


“Ya, begitulah. Kalau dipikir-pikir, hanya Lusi orang yang bisa mengendalikan Miko di Kota Bekasi. Tak ada orang lain yang bisa mengendalikan Miko selain Lusi.”


Yuli mengangguk mengerti. “Baiklah, terima kasih atas informasimu, Pak Jono. Aku permisi dulu, sampai jumpa di pengadilan berikutnya.”


Sepulangnya dari NUSAKAMBANGAN, Yuli tak langsung pergi ke kantor firma hukum Christ.


Menuju ke salah satu toko kelontong yang ada di pertigaan itu, dan bertanya-tanya tentang gedung yang saat ini menjadi firma hukum milik Christ alih-alih membeli sesuatu.


“Dulunya gedung lantai 3 itu adalah kantor reparasi diska lepas, Hard file, dan lain semacamnya. Itu sudah bertahun-tahun silam lamanya. Mungkin sekitar 20 tahunan.” Pria paruh baya menjelaskan.


“Seorang wanita menggunakan kantor itu sendirian dulunya. Seingatku, dia memiliki seorang anak. Akan tetapi, kudengar wanita itu bunuh diri, dan anaknya menghilang begitu saja setelah kejadian itu.”


“Oh, begitu rupanya. Terimakasih atas penjelasannya, Tuan.”


“Sama-sama, Nak. Kalau kau masih penasaran, kau bisa datang lagi kemari.”


“Baiklah, aku permisi dulu.” Yuli tersenyum, lalu pergi dari toko kelontong. Menuju ke kantor firma hukum Christ.

__ADS_1


Di kantornya, semua anak buah Asep sedang membersihkan kantor itu. Beberapa menyapu, mengepel, dan mengelap jendela di bawah perintah Gun.


selamat pagi paralegal Yuli! Semua orang menyambut Yuli di pagi itu. Yuli membalasnya dengan senyuman, lalu mendekati Gun dan bertanya,


“Manajer Gun, kau pindah kemari dari Jakarta dengan pengacara Christ, bukan?”


“Ya, begitulah,” jawab Gun.


“Kenapa kalian memutuskan untuk pindah ke Bekasi? Padahal Pengacara Christ sendiri sudah sangat sukses dan kaya di Jakarta. Kudengar rumahnya juga bak istana di Jakarta, lantas, kenapa dia pindah kemari, dan memilih untuk tinggal di gedung lawas seperti ini?”


“Itu .. jadi begini … Aku ….” Gun menggaruk-garuk kepalanya, tak tahu harus menjawab apa. Dia orang yang paling dipercaya oleh Christ dan tau semua asal usulnya. Tak mungkin baginya untuk memberitahu Yuli soal itu.


Yuli pun beralih mendekati Asep karena Gun hanya mematung.


“Apa kau sudah mengenal Pengacara Christianto, sebelum dia pindah ke tempat ini?”


“Tentu saja tidak. Aku bertemu dengan Bos Christianto saat hari pertama dia pindah kemari. Astaga, aku menganggapnya seperti takdir saat itu,” jawab Asep sambil membersihkan kaca jendela.


“Setelah aku dan anak buahku bertemu dengannya, hidup kami sangat berubah 180 derajat. Dia selalu memberi kami upah yang lebih dan memberikan jatah makanan pada kami.”

__ADS_1


“Jadi maksudmu, Pengacara Christ menemukanmu dan anak buahmu?”


__ADS_2