SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 019


__ADS_3

Beberapa anak buah Asep langsung menyingkir dan berdiri memberi tempat duduk pada Christ.


“Cukup, Gun. Dia benar. Mereka hanya mencari nafkah. Lagipula, apalagi yang bisa dilakukan oleh preman-preman bodoh ini.” Christ mengangkat satu kakinya.


“Sebelumnya, aku berpikir kau datang kemari untuk membantu bisnis ini, Bos, tapi sepertinya aku salah.” Asep menunduk.


“Kau tahu apa ini?” Christ mengangkat patung keadilan.


“Itu. Aku pernah melihatnya beberapa kali di kantor pengadilan,” sahut salah satu anak buah Asep.


“Ya, aku juga pernah melihat itu di sana,” sahut lainnya.


“Tepat, kalian benar!” Christ menjentikkan jari. “Duduklah. Jangan terlalu kaku.”


Semua anak buah Asep duduk di kursi dan sofa yang masih tersisa. Mereka membentuk setengah lingkaran, menyimak Christ.


“Mulai hari ini, tempat ini bukan lagi kantor koperasi simpan pinjam. Detik ini aku meresmikan tempat ini menjadi kantor pengacara. Aku akan mendirikan firma hukum disini.”


“Apa?”


“Pengacara?”

__ADS_1


“Apa aku tak salah dengar?”


Semua anak buah Asep terkejut.


“Ya, kalian benar. Bos kita adalah seorang pengacara dengan tarif termahal di kota Jakarta,” tegas Gun.


Semua anak buah Asep terkagum.


“Mulai sekarang, aku akan mengubah hidup kalian menjadi lebih bermoral lagi. Kalian telah melanggar hukum sekian tahun lamanya, dan detik ini juga, kita semua akan menghindari hukum.


Pada dasarnya kita bukan melawan hukum, tapi kitalah yang harus mengatasi hukum itu.”


“Astaga, kau benar, Bos. Sudah lama kami tak mematuhi hukum,” ucap Asep.


SIAP BOS!!!!  TAKLUKKAN HUKUM!!


Semua anak buah Asep berseru serempak.


“Baiklah. Segera bereskan tempat ini secepatnya, agar besok kita bisa mengganti tempat ini menjadi kantor firma hukum.”


“Baik, Bos!” Gun berdiri dan langsung membagikan tugas pada Asep dan semua anak buahnya.

__ADS_1


Meski bangunan itu telah sangat tua, tapi ruangan itu memiliki ukuran yang cukup luas, dengan total luas 2000 meter.


Saat pintu lantai terbuka, terdapat ruang tengah yang sangat lebar. Itu akan digunakan Christ saat menerima para kliennya.


Tak hanya itu, ada 3 ruangan lagi yang masih kosong di lantai itu. Kamar paling ujung dijadikan kantor sekaligus tempat untuk Christ beristirahat.


Ruangan kedua, akan dijadikan kamar untuk Asep dan semua anak buahnya, dan ruangan ketiga, berisi berkas-berkas lama tak terpakai. Mungkin Gun akan membereskan dan menjadikan itu ruangannya sendiri.


Dan satu kamar mandi yang cukup layak dipakai di ujung ruangan.


Sembari menunggu Asep dan anak buahnya membereskan ruangan, Christ pergi ke balkon. Berdiri di balik jendela dan melihat suasana dari jendela itu.


Dia kembali teringat masa kecilnya. Tepat di lantai 3 itu, ibu Christ membangun sebuah usaha, seperti pembaruan perangkat keras, dan mengembalikan isi hard file yang telah dihapus.


Dan di lantai 3 itu juga, Christ melihat ibunya dibunuh.


***


FLASHBACK


Lebih dari 20 tahun lalu. Saat itu Christ masih berumur 10 beranjak 11 tahun.

__ADS_1


Di suatu malam yang gelap mencengkram. Terlihat seorang wanita dewasa yang tengah berlari menaiki tangga, menuju ke lantai 3 gedung. Dia adalah ibu kandung Christ.


Saat itu Ibu Christ sedang terlibat dengan preman setempat, karena dia merupakan salah satu saksi yang memiliki bukti atas tindak kejahatan yang telah diperbuat oleh seseorang.


__ADS_2