
“Saya akan menunjukkannya.”
Christ memutar sebuah rekaman video di ponselnya yang menunjukkan bahwa hakim yang sedang duduk di sisi kiri Lusi telah melakukan hal yang tidak senonoh.
Rekaman CCTV dari sebuah bus angkutan umum yang memperlihatkan bahwa Hakim itu sedang memotret dan merekam salah satu rok milik wanita yang berdiri di sebelahnya saat di dalam bus.
Hakim itu menelan ludah. Dia tak menyangka jika Christ bisa mendapatkan rekaman berisi aibnya itu.
“Aku tahu, anda sering dipuji karena anda berangkat kerja menggunakan transportasi umum. Akan tetapi, anda naik bus hanya untuk merekam dan mengambil foto dari wanita yang memakai rok pendek ini. Bukankah ini sangat memalukan, Pak Hakim?”
Christ kembali mengantongi ponselnya.
“Bukan hanya aku saja yang disabotase oleh dia, tapi pengadilan ini juga telah disabotase olehnya, Yang Mulia Hakim.” Pria itu berasalan di hadapan Lusi.
“Dia juga memperlakukan hakim sebagai terdakwa, yang mana itu tidak ada hubungannya dengan kasus ini,” tambah Sri.
“Mungkin anda tidak tahu soal itu karena itu bukan bagian dari pekerjaan anda, Hakim Sri. Akan tetapi, inilah kenyataan yang cukup populer di forum website yang ada.”
__ADS_1
Christ menjawabnya dengan santai, karena video yang dia dapat sudah pasti valid.
Lusi menghela nafas panjang. Dia berpikir apa yang harus dilakukannya untuk itu.
“Ah, benar juga. Hal ini mungkin akan masuk berita, mungkin pagi ini, atau mungkin esok hari,” lanjut Christ.
“Silahkan kembali ke tempat duduk anda, Pengacara Christianto.”
“Baik, Yang Mulia Hakim.” Christ menunduk lalu kembali ke tempat duduknya.
“Apa maksudmu? Anda juga menyuruh saya untuk mundur?”
“Saya tahu, bahwa anda sudah mengerti keburukan apa yang dilakukannya, tapi, anda telah mengabaikan itu, yang mana anda juga bisa disalahkan atas hal itu secara hukum.
Saya rasa alasan itu sudah cukup untuk membuat anda mundur dari kasus ini.”
Lusi tak bisa berkata-kata lagi, karena memang benar apa yang telah diucapkan Christ.
__ADS_1
“Yang Mulia Hakim, Lusi. Saya ingin anda membuat penilaian yang adil terhadap ini.” Christ tersenyum, sedikit menunduk dan menunggu keputusan Lusi yang masih berpikir.
“Jika memang isi rekaman itu benar adanya, saya akan menyerahkan keputusannya ke anggota Majelis Hakim, dan dia tak bisa ikut serta dalam sidang ini,” ucap Lusi.
“Tentu saja harus seperti itu. Anda akan berbuat dengan adil, saya sangat yakin dengan hal itu.” Christ pun kembali duduk.
“Meski saya tidak cukup teliti dalam menyusun anggota Majelis Hakim, saya akan lebih berhati-hati untuk mempertimbangkan hakim baru yang akan ikut serta dalam sidang untuk kasus ini,” ucap Lusi.
“Yang Mulia Hakim.” Sri berdiri. Dia tak mau mengalah begitu saja. “Saya ingin Pengacara Christianto ditahan.”
“Atas alasan apa?” tanya Lusi.
“Semua orang yang menyebabkan kerusuhan di pengadilan tadi adalah karyawannya di firma hukum. Pengacara Christianto menyuruh karyawannya untuk membuat onar agar persidangan ditunda.
Karena merusak integritas pengadilan, dan melanggar pasal 69 peraturan pengadilan, saya ingin dia segera ditahan.”
“Baiklah, saya setuju,” seru Lusi. “Petugas keamanan, tolong tangkap Pengacara Christianto sekarang juga.”
__ADS_1