SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 059


__ADS_3

“Tunggu, Pak. Apa kau mencalonkan diri menjadi walikota Bekasi?” tanya Roy. Dia berdiri di belakang Miko bersama asisten dan bodyguard Miko yang terus mengawalnya.


“Apa ini proyek besar yang pernah kau katakan padaku, Pak?”


“Para warga sedang mencari calon walikotanya, karena posisi walikota sudah lama kosong sejak kematiannya. Bukankah menurutmu aku harus mengisi posisi itu? Maka itu, aku ingin kau bertanggung jawab atas kampanye di lokasi ini.”


Roy tercengang. Matanya terbelalak lebar saat Miko mempercayainya untuk mengurus kampanye. “Jadi, apa kau sudah memaafkanku atas kejadian kemarin, Pak?”


“Aku tidak hanya memaafkanmu, tapi juga mempercayakan lokasi kampanye ini padamu, tapi, apa imbalan yang akan kau berikan untukku?”


“Tidak ada yang tidak bisa kulakukan jika kau menjadi walikota, Pak. Aku pasti bisa melakukan semuanya jika itu terjadi,” seru Roy.


“Itulah kenapa kau tak ada gunanya sama sekali. Kau tak seharusnya mengatakan seperti itu, seharusnya kau berkata ‘Pak, apa yang harus kulakukan untuk membuatmu bahagia?’ Bukankah seperti itu?”


Miko menoleh dan berbalik menatap Roy.


Dengan kakinya yang masih pincang sebelah, karena tusukan di pahanya, Roy berusaha berlutut di hadapan Miko.


“Aku berjanji, Pak. Aku akan menyukseskan anda menjadi walikota Bekasi yang baru, walau harus ada darah di tangan ku ini.”

__ADS_1


“Jadi, apa kau mulai mengerti sekarang?”


“Aku mengerti, Pak.” Roy masih tetap berlutut.


“Maka, aku ingin melihat kemampuanmu melakukan semua ini.”


“Baik, Pak. Aku akan melakukan itu dengan sebaik mungkin.”


***


2 minggu berlalu. Masa tahanan Christ, Gun, Asep dan anak buahnya telah usai. Mereka semua dibebaskan kembali setelah 2 minggu mendekap di dalam penjara.


Di luar penjara, mereka semua bersenda gurau, dan kembali menggunakan pakaian yang dipakainya saat pertama masuk ke dalam tahanan.


“Terimakasih atas semuanya, Sipir!” Christ menyapa sipir yang bertugas menjaga pintu penjara.


“Tentu, aku tak ingin melihat kalian lagi di tempat ini. Jangan pernah kesini lagi.”


“Baiklah, sampai jumpa.” Christ melambaikan tangan, lalu melangkah pergi.

__ADS_1


“Akan tetapi, Bos. Kita tidak bisa membujuk Direktur Agus. Apa langkahmu selanjutnya?” Gun bertanya.


“Tak apa, Gun. Pikirmu aku pergi dengan tangan kosong? Tentu saja tidak. Lihat saja nanti.” Christ menyeringai lebar.


CIIIT!!!!!


Sebuah mobil Van berukuran panjang mengebut dan berhenti tepat di depan Christ dan gerombolannya. Suara rem dan ban yang bergesek dengan tanah bercampur jadi satu. Mobil itu hampir menabrak Christ dan gerombolannya.


“Astaga, ternyata kau paralegal Yuli,” ucap Asep melihat dari jendela.


Yuli duduk di kemudi, mengendarai mobil van yang berukuran cukup panjang hanya untuk menjemput Christ.


“Wah, terima kasih sudah menjemput kami,” sahut Gun.


Christ menyeringai lebar. Dia berjalan mendekat ke jendela. “Kenapa kau tidak berada dikantor saja?”


“Bukan saatnya untuk membahas hal itu. Cepat suruh semua anak buahmu masuk. Mobil ini muat untuk mereka semua.”


“Wah, kau sangat tanggap. Apa kau menginginkan gaji lebih dariku?” Christ membuka pintu depan, dan duduk di sebelah kemudi. Disusul dengan Gun, Asep dan semua anak buahnya yang masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


“Lagi pula, kau tak pernah mempertimbangkan, kalau kau mau memberiku gaji saat aku lembur. Kau adalah bos yang pelit,” ucap Yuli ketus. “Baiklah, aku akan membawa kalian ke suatu tempat.”


Yuli segera menancap pedal gas, dan mobil pun melesat pergi dari halaman penjara.


__ADS_2